Belum sempat puas menikmati manisnya lolos ke fase gugur, Jerman langsung tersingkir lewat drama adu penalti dari Paraguay. Kekalahan ini termasuk langka bagi Jerman
30 Jun 2026 10:21 WIB · Olahraga
AFP/FRANCK FIFE
MASSACHUSETTS, SELASA — Begitu singkat masa suatu kebahagiaan. Hal itulah yang dirasakan timnas Jerman seusai takluk 3-4 dari Paraguay dalam drama adu penalti babak 32 besar Piala Dunia 2026. Kedua tim bermain imbang 1-1 pada waktu normal. Hasil ini sangat menyakitkan bagi Jerman yang untuk pertama kali berlaga di fase gugur sejak 2014.
Cara Jerman tersingkir kali ini pun tergolong tidak biasa. Sebagai juara dunia empat kali, Jerman tergolong tim dengan mental baja yang tahan menghadapi tekanan dalam drama adu penalti. Laga versus Paraguay merupakan kekalahan pertama Jerman lewat adu penalti di Piala Dunia.
Dalam sejarahnya, sebelumnya, Jerman sudah empat kali menjalani adu penalti dan tidak pernah kalah. Perancis, Meksiko, Inggris, dan Argentina merupakan deretan negara yang pernah merasakan kehebatan Jerman dalam adu penalti.
Namun, tidak ada tim yang sempurna. Kekalahan adu penalti pertama Jerman akhirnya datang pada kesempatan kelima ketika menghadapi Paraguay.
”Kami memiliki rencana besar untuk Piala Dunia kali ini. Sangat sulit untuk menerima hasil mengecewakan lagi. Kami sulit menciptakan peluang dan mempertahankan tempo permainan,” kata penyerang Jerman, Kai Havertz, seusai laga di Stadion Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026).
Havertz sangat kecewa dengan hasil ini lantaran Jerman terakhir kali merasakan bermain di fase gugur pada edisi 2014. Kala itu, Jerman menjadi juara.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/30/61ff8925d8302b726fa5683bacebeb9f-1000245222.jpg)
Setelah itu, tren performa Jerman memburuk dengan selalu tersingkir pada fase gugur edisi 2018 dan 2022. Penantian panjang untuk bermain di fase gugur terbasuh pada 2026. Namun, kebahagiaan Jerman itu ternyata hanya berlangsung sesaat.
Selain di Piala Dunia, keunggulan Jerman pada babak adu penalti juga diakui di Piala Eropa. Jerman telah memenangi enam dari tujuh adu penalti di turnamen-turnamen besar, termasuk enam kemenangan beruntun sejak kalah dari Cekoslowakia di final Piala Eropa 1976.
Ketahanan mental Jerman dalam tekanan adu penalti terlihat kala Havertz dan Nick Woltemade gagal menjalankan tugasnya. Namun, Jerman membuat situasi kembali imbang berkat keberhasilan menggagalkan eksekusi penalti Antonio Sanabria dan Fabian Balbuena.
Sayangnya, Jonathan Tah kembali gagal melaksanakan tugasnya setelah tembakannya melambung. Paraguay pun tidak menyia-nyiakan kesempatan saat Jose Canale yang menjadi eksekutor terakhir sukses menaklukkan kiper Jerman, Manuel Neuer.
”Kami menganalisis setiap pemain dan setiap detail dari penendang penalti. Syukurlah saya berhasil menggagalkan dua penalti,” ujar kiper Paraguay, Orlando Gill.
Sejak awal laga, Jerman tampil lebih dominan, tetapi kesulitan menciptakan peluang-peluang berbahaya. Alih-alih mampu unggul setelah mendapatkan banyak peluang, ”Die Mannschaft” justru dikejutkan oleh gol sundulan Julio Enciso di pengujung babak pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/30/6b484fd6b8db6f2034be8e0105fd0dbc-1000245221.jpg)
Menerima umpan silang terukur dari Matias Galarza, tidak ada satu pun pemain Jerman yang mengawal pergerakan Enciso. Pemain klub Perancis, Strasbourg, itu tanpa kesulitan menaklukkan kiper Neuer dari jarak dekat.
Paraguay bertahan dengan sangat solid di laga ini. Mereka melakukan penjagaan ganda terhadap para penyerang Jerman setiap kali kehilangan bola. Kesulitan menembus pertahanan rapat lawan membuat para pemain Jerman frustrasi sehingga beberapa kali melakukan percobaan menembak dari jarak jauh.
Jerman kehabisan akal karena kesulitan melakukan umpan kombinasi di area sepertiga akhir serangan. Mereka pun menjadi lebih sering melepaskan umpan-umpan silang ke dalam kotak penalti demi menciptakan peluang berbahaya.
Statistik menyebutkan, Jerman melepaskan hingga 55 umpan silang di laga ini. Jumlah itu lebih banyak daripada tim lain mana pun dalam pertandingan babak gugur Piala Dunia yang tercatat sejak 1966.
Dari 55 percobaan umpan silang, hanya 10 yang sukses. Satu dari 10 umpan silang sukses itu berbuah gol penyeimbang yang dicetak Havertz pada menit ke-54.
”Ini adalah eliminasi ketiga berturut-turut (kami). Jadi, kami bukan bagian dari tim kelas satu lagi. Tidak masalah apakah itu saya, (Hansi) Flick, atau (Joachim) Loew. Kami mencoba hal-hal baru, tetapi tetap mempertahankan fondasi. Ada beberapa hal yang perlu kami perbaiki di masa mendatang,” kata Pelatih Jerman Julian Nagelsmann.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/30/39d34f1eb58af77f237a03eb0054f53b-1000245220.jpg)
Hasil ini tidak ayal berdampak pada posisi Nagelsmann. Dia santer diberitakan bakal dipecat. Secara pribadi, Nagelsmann menyerahkan keputusan kepada Federasi Sepak Bola Jerman (DFB).
”Saya siap jika DFB menginginkan saya. Jika DFB tidak menginginkan saya, mereka harus memberi tahu saya. Saya bukan tipe orang yang lari dari tanggung jawab,” katanya.
Pada babak 16 besar, Paraguay akan menghadapi pemenang laga antara Perancis dan Swedia di Philadelphia, AS. (AFP/REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar