BerandaLingkunganKebakaran Lahan Meluas, U...

Kebakaran Lahan Meluas, Udara Kota Palangka Raya Tidak Nyaman Dihirup

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah kian meresahkan. Aroma gambut terbakar pun kian menyengat.

06 Agt 2024 08:17 WIB · Lingkungan

Oleh DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Kebakaran hutan dan lahan di Petik Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Senin (5/8/2024). Karhutla di Kota Cantik itu kian meresahkan.

PALANGKA RAYA, KOMPAS — Aroma gambut terbakar mulai menyengat di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Selasa (6/8/2024) pagi. Hal itu terjadi seiring dengan meluasnya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Gambut terbakar itu menimbulkan bau gosong. Di Kota Palangka Raya, aroma itu kian menyengat pada pagi hari. Karin Nahat (33), warga Tingang, Kota Palangka Raya, merasakan hal itu. Menurut Nahat, aroma gambut terbakar sudah bisa dirasakan sejak malam hari, tetapi di pagi hari baunya lebih menyengat.

”Saya sudah hafal bau gambut terbakar. Hampir setiap musim kemarau begini terus,” kata Nahat.

Helikopter <i>water bombing</i> membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Jalan Hapakat, Petuk Katimpun, Kota Palangka Raya, Kalteng, pada 25 Agustus 2023. Selama kebakaran tahun ini setidaknya terdapat empat helikopter yang bertugas membantu penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalteng.

Hal serupa juga disampaikan Komandan Korem 102/Panju Panjung Brigadir Jenderal Iwan Rosandriyanto. Menurut Iwan, sejak tiga minggu belakangan, peristiwa kebakaran hutan meningkat.

”Beberapa hari belakangan ini di Kalteng, khususnya Palangka Raya, kita sudah tidak bisa menghirup oksigen dengan nyaman karena asap karhutla,” kata Iwan.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya, sejak Januari hingga saat ini terdapat 19,69 hektar lahan dan hutan yang terbakar. Total terdapat 47 kejadian kebakaran. Rinciannya, di Kecamatan Jekan Raya terjadi 33 karhutla, di Pahandut terjadi 5 karhutla, di Sebangau terjadi 6 karhutla, dan di Kecamatan Bukit Batu terjadi 3 karhutla. Kota Palangka Raya pun menetapkan status tanggap darurat.

Meski demikian, menurut Pelaksana Tugas BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi, udara di Palangka Raya belum masuk kategori berbahaya atau masih dalam kadar normal.

”Statusnya memang tanggap darurat, tetapi belum darurat bencana karena masih bisa ditangani oleh petugas,” kata Hendrikus.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Kota Palangka Raya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, pada 4 Oktober 2023. Mulai Selasa (6/8/2024), karhutla kembali terjadi dan membuat warga tak nyaman.

Melihat meningkatnya kejadian kebakaran hutan dan lahan, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Kalteng Komisaris Besar Erlan Munaji mengimbau masyarakat tidak membakar lahan sembarangan. Ia juga mengajak masyarakat bersama-sama mengantisipasi karhutla.

”Sejumlah peraturan telah menegaskan bahwa membuka lahan dengan cara membakar sangat tidak dianjurkan. Hal ini bisa berpengaruh bagi kesehatan dan ekosistem lingkungan,” kata Erlan.

Erlan juga menyampaikan, masyarakat harus benar-benar memahami terkait peraturan yang sudah ada, baik peraturan Gubernur Kalteng maupun Kementerian Kehutanan.

”Oleh karena itu, tak henti-hentinya kami mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan, untuk saling bersinergi dalam mencegah karhutla di ’Bumi Tambun Bungai’. Karena hal ini sudah menjadi tanggung jawab kita bersama,” tutur Erlan.

Baca juga: Empat Kabupaten dab Kota di Kalteng Siaga Darurat Karhutla


Kerabat Kerja

Penulis:

DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO
 | 

Editor:

MARIA SUSY BERINDRA