PSG lolos ke perempat final Liga Champions setelah mengalahkan Liverpool melalui adu penalti, 4-1, di Stadion Anfield.
12 Mar 2025 15:40 WIB · Olahraga
LIVERPOOL, RABU — Selama satu dekade terakhir, Paris Saint-Germain memiliki kebiasaan mengumpulkan para megabintang. Tetapi, hasilnya justru mereka sering kolaps pada laga besar di Eropa. Namun, kemenangan PSG atas Liverpool menjadi bukti era mirip Galacticos itu telah berakhir.
PSG lolos ke babak perempat final Liga Champions setelah menang adu penalti, 4-1, atas Liverpool di Stadion Anfield, Rabu (12/3/2025) dini hari WIB. Sempat tertinggal 0-1 pada pertemuan pertama, tim asuhan Luis Enrique membalas dengan kemenangan 1-0 pada laga kedua.
Laga diakhiri dengan adu penalti setelah skor tetap bertahan hingga perpanjangan waktu berakhir. Kiper Gianluigi Donnarumma menjadi pahlawan dengan menggagalkan dua tendangan eksekutor Liverpool, Darwin Nunez dan Curtis Jones.
Kemenangan tersebut merupakan hasil dari pendekatan baru mereka dalam membangun skuad, dengan lebih mengutamakan keseimbangan tim daripada mengumpulkan megabintang. PSG tidak kehilangan ketajaman selepas kepergian Kylian Mbappe, bahkan menjadi salah satu kandidat kuat juara setelah menyingkirkan Liverpool, pemuncak klasemen fase liga Liga Champions.
Sebelum kemenangan itu, PSG menjadi bahan tertawaan se-Eropa karena kebiasaan mereka yang sering kolaps pada pertandingan besar Liga Champions dengan cara spektakuler. Salah satunya adalah ketika mereka dihancurkan Barcelona pada 2017. Membawa keunggulan 4-0 hasil kemenangan dari laga pertama saat tandang ke Camp Nou, mereka justru tersingkir setelah kalah 1-6 pada laga kedua.
Untuk menghapus kenangan buruk itu, sekaligus ambisi juara, PSG langsung jorjoran di bursa transfer dengan membeli Mbappe dan Neymar, yang termasuk transfer terbesar dalam sejarah sepak bola. Mereka memang berhasil lolos ke final Liga Champions pada 2020, tetapi gagal menjadi juara, sebelum kemudian disingkirkan Manchester City pada semifinal setahun kemudian.
PSG mengulangi cara yang sama dengan memburu megabintang. Tak tanggung-tanggung, salah satu pemain terbaik dalam sejarah, Lionel Messi, kemudian didatangkan. Akan tetapi, hasilnya tak lebih baik, PSG justru semakin jauh dari mimpi untuk meraih gelar Liga Champions, hingga kedatangan Enrique pada 2023.
Mereka berhasil melaju ke semifinal musim lalu dengan Mbappe sebagai ujung tombak, tetapi kalah dari Borussia Dortmund. Kekalahan itu memunculkan kembali ingatan kegagalan-kegagalan terdahulu. Terlebih mereka akan kehilangan Mbappe yang membelot ke Real Madrid.
Meski demikian, Enrique yakin bahwa PSG justru akan menjadi lebih baik dengan merelakan kepergian Mbappe. Keyakinan mantan pelatih Barcelona itu terbukti.
Pertandingan kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Liverpool sangat kontras dengan laga ketika PSG dipermalukan Barcelona, Manchester United, dan Real Madrid, beberapa musim sebelumnya. Marquinhos dan kawan-kawan tampil gemilang pada laga pertama meskipun harus kalah 0-1, membuat mereka menjalani laga sulit melawan pemuncak klasemen Liga Inggris yang baru kalah satu kali di kandang musim ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/12/9cd7602e6111ebf68c10e30c06159e7f-wires_photo_2025_03_12T140400.648.jpg)
Namun, PSG tampil percaya diri dan berhasil unggul cepat pada babak pertama melalui gol Ousmane Dembele, untuk menyamakan agregat menjadi 1-1. Itu menjadi satu-satunya gol selama 120 menit pertandingan di mana PSG mampu menahan gempuran bergelombang pemain Liverpool.
Donnarumma tampil gemilang dengan beberapa kali mampu menyelamatkan gawangnya dari ancaman penyerang Liverpool. PSG juga memiliki sejumlah peluang melalui Khvicha Kvaratskhelia dan Desire Doue.
”Kami menunjukkan bahwa kami adalah tim sejati,” kata Enrique kepada Canal Plus selepas laga.
PSG menjalani kompetisi Liga Champions musim ini dengan lambat sehingga mereka kalah dari Arsenal, Atletico Madrid, dan Bayern Muenchen pada fase liga. Hal itu memunculkan kritikan tajam kepada Enrique karena menolak untuk memainkan striker murni dalam skema permainannya.
Akan tetapi, itu semua tinggal kenangan karena begitu fenomenalnya permainan PSG selama tiga bulan terakhir, termasuk dengan mencetak 21 gol dalam lima kemenangan beruntun di Eropa, sebelum menghadapi Liverpool.
Dembele menjadi salah satu penyerang paling ditakuti, dengan mencetak 24 gol dalam 19 pertadingan sejak pertengahan Desember 2024. Kvaratskhelia, yang didatangkan pada bursa transfer Januari lalu, tampil luar biasa melawan Liverpool. Bahkan, ia mendapatkan apresiasi tepukan tangan dari pendukung tuan rumah saat ditarik keluar pada babak perpanjangan waktu.
Doue menjadi salah satu bakat muda terbaik yang turun dari bangku cadangan. Adapun dua gelandang, Vitinha dan Joao Neves, mengombinasikan teknik dengan energi yang tak pernah habis. Kedatangan bek Ekuador, Willian Pacho, melengkapi benteng lini belakang yang sulit ditembus, bersama Marquinhos dan dua bek sayap Achraf Hakimi dan Nuno Mendes.
”Tidak ada batasan, tetapi kami masih harus lebih baik,” kata Marquinhos, satu-satunya pemain PSG yang tersisa dari pembantaian di Barcelona pada 2017.
PSG juga memiliki tim yang masih sangat muda, dengan rata-rata usia pemain mula di bawah 25 tahun, dibandingkan dengan Liverpool yang hampir 28 tahun. Lima dari pemain mula berusia 24 tahun atau kurang, sedangkan dua pemain pengganti, Doue dan Warren Zaire-Emery, baru berusia 19 tahun.
”Ini baru permulaan,” ujar Enrique saat ditanya apakah mereka berada dalam puncak permainan.
PSG kemungkinan akan menghadapi Aston Villa di perempat final. Villa akan menjamu Club Brugge pada laga Kamis (13/3/2025) dini hari WIB, dengan bekal keunggulan 3-1 dari pertemuan pertama. Unai Emery, pelatih Villa, adalah pelatih PSG saat mereka dihajar Barca.
Selain PSG, Bayern Muenchen, Inter Milan, dan Barcelona juga berhasil melaju ke perempat final. Bayern menyingkirkan Leverkusen, Inter menang atas Feyenoord, sedangkan Barcelona mengalahkan Benfica. (AFP)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/4409709a-e4ec-48d8-b395-a5951408d9fa_png.png)
Penulis:
Prasetyo Eko PrihanantoEditor:
Antonius Tomy Trinugroho