Di dalam buku biografinya, Merkel membuka suara mengenai berbagai kebijakannya yang kini dianggap kontroversial, termasuk soal Putin, Brexit, dan Trump.
26 Nov 2024 14:40 WIB · Internasional
Mantan Kanselir Jerman Angela Merkel akhirnya angkat bicara mengenai berbagai keputusan politiknya setelah menyelesaikan masa jabatan pada 2021. Melalui buku biografi yang berjudul Kebebasan, Merkel teguh berpendapat bahwa setiap keputusan yang ia ambil sudah sesuai dengan aturan dan kebutuhan situasi saat itu.
Buku Kebebasan diluncurkan dalam 30 bahasa pada Selasa (26/11/2024). Buku setebal 736 halaman itu ditulis oleh Merkel bersama penasihat politiknya, Beate Baumann. Merkel terpilih sebagai kanselir Jerman sebanyak empat kali masa jabatan atau 16 tahun, yakni periode 2005-2021.
Selama itu pula Merkel telah berhadapan dengan empat presiden Amerika Serikat (AS), empat presiden Perancis, dan lima perdana menteri Inggris. Satu-satunya sosok yang selalu berada di puncak bersama dia adalah Presiden Rusia Vladimir Putin.
Merkel selama menjabat didapuk sebagai perempuan terkuat di dunia. Ia juga populer tidak hanya di kalangan rakyat Jerman, tetapi di dunia secara umum. Akan tetapi, ketika ia turun pada 2021, kritik mulai banyak mengalir dan bersuara mengenai berbagai kebijakannya. Buku Kebebasan ini berusaha menanggapi kritik-kritik tersebut.
Majalah The Economist memberi ulasan negatif dengan berlandaskan situasi Jerman sekarang. Jerman adalah satu-satunya negara maju yang perekonomiannya mengeret selama 2023. Apalagi, bulan ini, koalisi pemerintahan Kanselir Olaf Scholz runtuh sehingga harus diadakan pemilu yang dipercepat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/ee5bf2c1-f7a6-4b9b-a1ce-4933f4031188_jpg.jpg)
”Kebijakan Merkel mengakibatkan Jerman bergantung kepada AS untuk keamanan, bergantung kepada China untuk ekspor, dan bergantung kepada gas Rusia sebagai sumber energi,” tulis The Economist.
Merkel dinilai lunak terhadap Rusia pada 2014 meskipun Moskwa mencaplok Semenanjung Crimea dari Ukraina. Para pengkritik juga menyoroti kebijakan Jerman membuka pintu menampung pengungsi dan imigran ketika perang di Suriah pecah.
Terdapat 1 juta imigran di Jerman. Keadaan ini yang mengompori lahirnya gerakan ekstrem kanan, termasuk partai politik ultranasionalis AfD. Kini, AfD memiliki pendukung nomor dua terbanyak di dalam politik Jerman.
Norbert Lammert, anggota DPR Jerman dari partai CDU yang juga pendukung Merkel, menjelaskan, sejatinya semua keputusan Merkel sesuai dengan harapan publik di masa itu. ”Menjaga hubungan baik dengan Rusia dan membangun pipa gas Nord Stream 2 itu sesuai dengan kemauan komunitas bisnis dan industri Jerman karena Jerman tetap memerlukan sumber energi untuk mendukung pembangunan,” ujarnya.
Di dalam bukunya, Merkel mengatakan ia tidak memiliki penyesalan, terlepas dari berbagai kritik yang ia peroleh. Mengenai masuknya imigran dalam jumlah banyak, ia mengatakan tidak hanya karena kebijakannya semata. Eropa akan terus menjadi tujuan kelompok migran karena merupakan wilayah yang sejahtera dan tertib dalam menegakkan hukum.
”Lagi pula, faktanya penduduk Jerman menua. Kita memerlukan imigran yang legal dan terampil,” tulis Merkel.
Ia menjelaskan keputusannya mengamini pembangunan pipa gas Nord Crimea pada 2014. Jerman berkomitmen mencapai target niremisi per 2030 dan menghentikan pembangkit listrik tenaga nuklir. Pilihan yang bisa memenuhi kebutuhan energi ini adalah gas dari Rusia.
Merkel hanya menyayangkan terjadinya Brexit atau keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Menurut dia, peristiwa itu melukai rasa kekeluargaan UE dan mengubah cara UE melihat dunia.
”Semestinya, saya meluangkan waktu lebih banyak untuk berdialog dengan PM Inggris David Cameron. Akan tetapi, ia pun tak kuasa menahan laju sentimen di dalam negerinya,” tutur Merkel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/1f1e1403-8014-4f8d-bf99-438f77a0b548_jpg.jpg)
Di dalam Kebebasan, Merkel juga bercerita mengenai pengalamannya berhadapan dengan Putin dan Presiden AS 2017-2021 Donald Trump. Merkel fasih berbahasa Rusia dan Putin fasih berbahasa Jerman.
Pertemuan mereka yang paling terkenal adalah pada tahun 2007 di Rusia. Merkel takut anjing dan sebaliknya, Putin menyukai anjing dan memelihara beberapa ekor. Ketika berbicara dengan Merkel, Putin membiarkan seekor anjing jenis Labrador berkeliaran di ruangan karena ia tahu persis ini membuat Merkel tidak nyaman.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/736ceac4-3474-42d4-9b35-ac8b647e6ed7_jpg.jpg)
”Ini permainan kuasa bagi Putin. Pada dasarnya, ia selalu penuh kecurigaan dan tidak percaya diri. Kegelisahan ini yang membuat ia selalu siap menyerang dan bertindak agresif,” katanya.
Dalam konteks ini pula Merkel memahami alasan Rusia menyerang Ukraina meskipun ia mengecamnya. Dalam rapat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) 2008, Merkel mengutarakan ketidaksetujuannya Ukraina bergabung dengan NATO karena membawa risiko ketidakstabilan di kawasan.
Ia menulis, dalam perjalanan pulang ke Jerman, tersadar olehnya bahwa NATO tidak memiliki kesatuan pandang mengenai cara menghadapi Rusia.
Terkait Trump, pandangan Merkel cenderung ringan. ”Presiden Trump entah bagaimana selalu terpesona dengan para sosok kepala negara yang berkekuasaan mutlak,” tulisnya. (AFP/Reuters)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/26/eff3567e-d19e-4757-8a61-7cb188399a2a_jpg.jpg)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Bonifasius Josie Susilo H