Kebijakan Tarif Donald Trump Buka Peluang Ekspor Minyak Jelantah Indonesia

Indonesia bisa mengambil keuntungan dari bagaimanapun kebijakan proteksionisme yang diterapkan calon presiden AS, Donald Trump, kelak, termasuk dalam ekspor UCO.

08 Nov 2024 17:02 WIB · Ekonomi

Oleh Dimas Waraditya Nugraha - [email protected]

Analis Komoditas Lunak Global Bloomberg, Alvin Tai, saat menjadi pembicara di International Palm Oil Conference (IPOC) 2024 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/11/2024)

BADUNG, KOMPAS — Potensi penerapan pajak tinggi untuk produk minyak goreng bekas pakai, atau minyak jelantah, yang diimpor dari China ke Amerika Serikat membuka potensi pasar ekspor baru bagi negara-negara produsen minyak goreng, termasuk Indonesia.

Analis Komoditas Lunak Global Bloomberg, Alvin Tai, menilai, calon presiden AS, Donald Trump, akan memenuhi janji kampanyenya yang akan menaikkan tarif impor produk China hingga 60 persen. Peningkatan tarif juga akan dilakukan untuk produk minyak jelantah (used cooking oil/UCO) asal China yang selama ini pungutan impornya ada di kisaran 15,5 persen.

”Saya pikir akan ada kelanjutan dari peningkatan tarif impor, termasuk untuk produk minyak jelantah dari China yang jumlahnya hampir mencapai 60 persen dari seluruh minyak jelantah impor di AS,” ujarnya di sela acara International Palm Oil Conference (IPOC) 2024 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Jumat (8/11/2024).

Quote

Minyak jelantah disukai produsen biodiesel di AS karena harga yang ekonomis, yakni mencapai sepertiga dari harga minyak nabati segar.

Alvin menambahkan, kebijakan proteksionisme tersebut akan menciptakan ruang pasar baru bagi negara-negara yang memproduksi minyak nabati, baik itu yang berbahan dasar sawit, jagung, kacang-kacangan, maupun tumbuhan lainnya.

”Jadi, saya pikir itu adalah area yang rentan yang dapat memengaruhi ruang untuk ekspor minyak goreng dari negara-negara lain,” kata Alvin.

Untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati yang kian tinggi, dalam beberapa tahun terakhir produsen biodiesel di AS memilih menggunakan UCO. Impor ke Amerika Serikat sebagian besar berasal dari China, disusul negara lain termasuk Malaysia dan Indonesia.

Minyak jelantah disukai produsen biodiesel di AS karena harga yang ekonomis, yakni mencapai sepertiga dari harga minyak nabati segar. Di luar itu, minyak jelantah memiliki intensitas karbon yang lebih rendah daripada bahan baku nonlimbah, seperti minyak kelapa sawit atau canola.

Biodiesel yang dihasilkan dari minyak jelantah memiliki kandungan energi yang sedikit lebih rendah daripada diesel minyak bumi, tetapi mengurangi polusi gas rumah kaca sebanyak 83 persen, menurut sebuah studi tahun 2022 oleh Argonne National Laboratory di AS.

Sementara itu, meski hasil pemilihan presiden AS belum resmi, anggota Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono, menyebut, apa pun kebijakan Donald Trump terkait proteksionisme nantinya tetap akan menguntungkan Indonesia.

Infografik Liputan Khusus Minyak Goreng Bekas (jelantah) Perbandingan Ekspor Minyak Sawit dan Jelantah Indonesia

”Volume ekspor minyak jelantah China ke AS sangatlah besar. Indonesia harus bisa mengambil keuntungan (dari kebijakan tarif AS),” ujarnya dalam kesempatan yang sama.

Berdasarkan hasil studi Traction Energy Asia, potensi ketersediaan minyak jelantah di Indonesia dapat mencapai hampir 1 juta kiloliter per tahun. Dari potensi tersebut, 75 persen berasal dari industri pengolahan makanan. Sementara 25 persen berasal dari hotel, restoran, dan kafe.

Sementara dilansir dari Reuters, pada tahun lalu AS mengimpor minyak jelantah hingga 1,36 juta metrik ton (1,53 juta kiloliter) untuk memenuhi kebutuhan produksi biodiesel di negara tersebut.

Tampak proses memasukkan minyak jelantah ke wadah Jerigeni milik perusahaan Nooveleum di salah satu restoran di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Kamis (24/10/2024). Minyak ini akan diolah menjadi bahan bakar avtur untuk pesawat.

Ekspor CPO

Sebelumnya, Ketua Umum Gapki Eddy Martono menilai, kembalinya Donald Trump menjabat presiden AS untuk periode keduanya juga bisa berdampak positif terhadap kinerja ekspor minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia.

Optimisme tersebut hadir lantaran Trump dianggap punya niat untuk menekan tensi geopolitik yang menjadi biang kerok pelemahan permintaan global serta lonjakan biaya logistik sehingga berbuntut pada penurunan ekspor dalam beberapa tahun terakhir.

”(Terpilihnya Trump) akan memengaruhi ekspor kita. Ekspor kita, kan, turun tahun ini. Salah satunya pengaruh dari itu juga, selain memang ada persaingan minyak nabati lain,” kata Eddy.

Menurut dia, tak hanya ekspor CPO ke AS yang akan melesat, ekspor ke negara lainnya pun akan meningkat lantaran pulihnya kondisi geopolitik global akan memengaruhi kondisi ekonomi dunia. 

Berdasarkan data Gapki, ekspor CPO Indonesia ke AS rata-rata berada di kisaran 2,5 juta ton per tahun. Sementara itu, secara keseluruhan ekspor periode Januari-Agustus 2024 mencapai 20,1 juta ton.

Sementara di sisi lain, tren volume ekspor CPO terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Data Gapki menunjukkan total nilai ekspor tahun 2023 sebanyak 30 miliar dollar AS, turun dari 39 miliar dollar AS atau setara Rp 600 triliun pada tahun sebelumnya.

”Memang, ekspor CPO ke AS sudah meningkat terus, dari tahun ke tahun kita meningkat. Tapi, ekspor ke negara lain, seperti China, menurun lantaran lonjakan biaya angkutan logistik,” ujarnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dimas Waraditya Nugraha
 | 

Editor:

Aufrida Wismi Warastri