Sepanjang jurnalisme masih menjunjung kebenaran dan loyalitas kepada publik, kecerdasan buatan yang tidak punya keberpihakan moral tak akan bisa menggantikannya.
11 Apr 2025 18:20 WIB · Humaniora
Minggu pertama bulan Maret 2025, sebuah surat kabar Italia mencetak edisi yang sepenuhnya dibuat dengan kecerdasan buatan atau AI. Il Foglio, nama surat kabar harian dengan sirkulasi sekitar 29.000 eksemplar itu menjadi media cetak pertama di dunia yang mencetak hasil tulisan kecerdasan buatan.
Edisi koran nasional Il Foglio itu meliputi tajuk utama, artikel, sidebar, dan bahkan surat kepada editor. Mereka memproduksi edisi harian AI sebanyak empat halaman dalam bentuk cetak dan online, di samping edisi normalnya, yang menampilkan sekitar 22 artikel dan tiga rencana editorial.
"Ini akan menjadi surat kabar harian pertama di dunia yang dibuat sepenuhnya menggunakan kecerdasan buatan," kata editor surat kabar tersebut Claudio Cerasa, seperti dilaporkan AFP.
Menurut dia, peran jurnalis akan terbatas pada "mengajukan pertanyaan (ke dalam alat AI) dan membaca jawabannya.
Sebanyak 20 jurnalis di media ini bertugas meminta versi chatbot ChatGPT OpenAI untuk menulis cerita tentang subyek tertentu dengan nada tertentu. Aplikasi chatbot tersebut kemudian menghasilkan teks menggunakan informasi yang diambil dari internet.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/11/966520a92d879cf975d3c2785b11b9c2-edisi_AI.png)
Halaman depan edisi pertama Il Foglio AI memuat cerita yang merujuk pada presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menggambarkan "paradoks pendukung Trump di Italia."
Halaman depan juga menampilkan kolom berjudul "Putin, 10 Pengkhianatan", dengan artikel yang menyoroti "20 tahun janji yang diingkari, perjanjian yang dirobek, dan kata-kata yang dikhianati" oleh Vladimir Putin, Presiden Rusia.
Inisiatif Il Foglio ini merupakan bagian dari eksperimen jurnalistik yang bertujuan untuk menunjukkan dampak teknologi AI terhadap "cara kerja dan hari-hari kita," ujar Cerasa.
Penerbitan koran dengan bantuan AI itu diklaim bisa menjadi cara baru untuk merevitalisasi jurnalisme. "Jadi, ini adalah cara untuk merevitalisasi jurnalisme, bukan untuk membunuhnya," kata dia.
Jika suatu hari ada permintaan untuk artikel yang dibuat hanya dengan AI, itu harus diterima. "Kecerdasan buatan melampaui semua ekspektasi,” ungkapnya menambahkan.
”Kita telah mempelajari bahwa kecerdasan buatan dapat melakukan hal-hal yang dapat bersaing dengan apa yang dapat dilakukan manusia. Namun, dalam jangka panjang persaingan harus menciptakan efisiensi lebih besar," kata dia.
Bagaimana dengan penerimaan pembaca?
Menurut Cerasa, pembaca medianya menyatakan 90 persen terhibur, 10 persen khawatir dan memberi saran, "Pastikan kamu tidak pernah meninggalkan kecerdasan alamimu karena kamu lebih baik."
Tapi, tidak ada pembaca yang mengatakan operasi itu bodoh dan tidak masuk akal.
The Guardian, media dari Inggris pada 18 Maret 2025, mengomentari artikel-artikel Il Foglio yang dibuat AI tersebut terstruktur, lugas, dan jelas, tanpa kesalahan tata bahasa yang kentara.
Namun, tidak ada satu pun artikel yang dimuat di halaman berita mengutip pernyataan manusia secara langsung. Hal itu menunjukkan adanya kekurangan dibandingkan karya jurnalis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/88993c7c-7c62-4066-9398-95b6b5cae5f1.jpg)
Perbedaan gaya bahasa
Keberadaan AI dalam dunia jurnalisme memang bakal sulit dibendung. Baru-baru ini, BBC News juga telah sudah menggunakan AI dalam mesin personalisasi dan rekomendasi untuk menyusun konten bagi pemirsa di platform seperti iPlayer dan Sounds.
Perangkat mesin pintar memang semakin canggih dalam menulis. Sekalipun demikian, hingga saat ini artikel berita yang diproduksi oleh kecerdasan buatan tidak bisa sepenuhnya meniru gaya pencerita manusia.
Laporan kajian "Distinguishing Human Journalists from Artificial Storytellers Through Stylistic Fingerprints" diterbitkan dalam Emerging Trends in Machine Learning and Artificial Intelligence, edisi khusus Computers, pada Desember 2024 menjelaskan perbedaan artikel yang ditulis mesin dan manusia. Van Hieu Tran dari Faculty of Science and Technology, Charles Darwin University (CDU) Australia menjadi penulis pertama laporan ini.
Tran dan tim memasukkan 150 artikel berita tentang topik seperti politik, olahraga, urusan militer, dan teknologi, ke chatbot Gemini dan mendorongnya untuk menulis 150 artikel yang selaras dengan konten cerita yang ditulis oleh manusia. Cerita yang ditulis oleh manusia bersumber dari New York Times, Sydney Morning Herald, dan Australian.
Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa jurnalis manusia memiliki variasi yang lebih besar dalam panjang kalimat dan paragraf, sementara Gemini tidak memiliki variabilitas dalam sintaksis. Jurnalis manusia juga menggunakan lebih banyak kata kerja, yang menunjukkan bahwa gaya penulisan mereka lebih berfokus pada menjelaskan tindakan untuk melibatkan pembaca. Gemini, sebagai perbandingan, menggunakan lebih banyak kata benda daripada kata kerja.
"Makalah kami menunjukkan bahwa AI dan penulis manusia menghasilkan konten yang sama-sama mudah dibaca," kata Tran. "Namun, makalah ini juga menemukan bahwa penulis manusia menghasilkan struktur sintaksis dan paragraf yang lebih beragam dalam karya jurnalistik mereka daripada AI. AI menghasilkan konten yang 'lebih membosankan' yang tidak memiliki keragaman gaya dan bakat unik penulis."
Dosen Teknologi Informasi CDU Yakub Sebastian, yang turut dalam kajian ini, menekankan bahwa penelitian ini penting karena menunjukkan bahwa kecerdikan manusia dan kepribadian yang mendalam masih dapat berkembang, sulit digantikan, dan berpotensi lebih menarik bagi pembaca manusia.
Pada intinya, jurnalisme adalah tentang mengungkap dan berbagi cerita yang dianggap penting. Kini, AI maupun jurnalis sama-sama bisa menulis berita secara akurat, namun jurnalisme bukan sekadar menampilkan fakta-fakta itu. Jurnalisme juga dituntut menyusun narasi yang menarik bagi pembaca. "Berita sering kali membentuk opini dan narasi publik, bukan sekadar menyampaikan fakta," kata Sebastian.
Hingga saat ini AI memang belum sepenuhnya bisa meniru gaya bertutur jurnalis yang lebih humanis. Kembali ke eksperimen Il Foglio AI, sebagaimana diakui Cerasa, "Artikel yang ditulis oleh manusia lebih baik, karena mereka selalu memiliki sesuatu yang lebih, mereka selalu memiliki unsur kreativitas, hubungan, dan membuat hubungan yang tidak dapat diprediksi yang tidak dimiliki oleh AI."
Namun, kesenjangan gaya bahasa ini bisa jadi teratasi dengan semakin banyaknya AI belajar dari manusia, sehingga tetap saja memicu banyak kekhawatiran. Seperti tercantum di halaman terakhir Il Foglio AI, yang memuat surat-surat yang dibuat oleh AI dari para pembaca kepada editor, dengan salah satu surat yang menanyakan apakah AI akan membuat manusia "tidak berguna" di masa mendatang. "AI adalah inovasi yang hebat, tetapi belum tahu cara memesan kopi tanpa salah gula," demikian bunyi tanggapan yang dibuat oleh AI.
Berikutnya, salah satu peran penting jurnalisme, sebagaimana diingatkan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam bukunya, The Elements of Journalism, jurnalisme mesti berpihak pada kebenaran dan loyalitas kerja jurnalistik adalah kepada publik. Oleh karena itu, jurnalisme juga dituntut menjadi anjing penjaga yang mengawal kekuasaan.
Lalu, apakah AI bisa menggantikan jurnalisme? Salah satu aplikasi AI, Chatgpt saat diajukan pertanyaan ini menyampaikan, jurnalisme berpihak pada kepentingan publik bukan sekadar menyajikan fakta, tapi juga menyuarakan keadilan, ketimpangan, dan suara-suara yang dimarjinalkan. "AI tidak punya nurani, empati, atau pengalaman hidup," sebutnya.
Jadi, sepanjang jurnalisme masih menjunjung etika dan keberpihakan yang disengaja ke publik, pada korban, pada minoritas, pada kebenaran, maka AI yang tidak punya keberpihakan moral itu tidak akan bisa menggantikannya. Sebaliknya, jika jurnalisme kehilangan loyalitas pada publik, maka dia seperti menyerahkan diri untuk digantikan mesin yang bisa memproduksi informasi dengan lebih cepat dan mungkin lebih akurat.…
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto