Konsumsi daya listrik data center (pusat data) tumbuh dengan mencengangkan. Peningkatan dari 10 megawatt menjadi 100 megawatt berlangsung hanya dalam satu dekade.
31 Okt 2024 05:30 WIB · Editorial
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/06/26/170013cb-6441-4589-87fc-310faa8a187e.jpg)
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan menuntut pusat data (data center) yang semakin besar. Tenaga nuklir pun menjadi sangat dibutuhkan di era kecerdasan buatan.
Investasi besar-besaran yang dilakukan perusahaan teknologi Amazon, Microsoft, dan Google untuk menambah pusat data akan meningkatkan secara signifikan konsumsi listrik. Menurut riset Goldman Sachs, di Eropa, kebutuhan daya listrik pusat data tahun 2030 diprediksi setara dengan konsumsi gabungan Portugal, Yunani, dan Belanda sekarang. Selain itu, pusat data diperkirakan mengonsumsi 8 persen daya listrik di Amerika Serikat pada tahun 2030, naik dari 3 persen pada tahun 2022 (Kompas.id, 29 Oktober 2024).
Peningkatan konsumsi listrik pusat data tersebut sebagian besar didorong oleh kebutuhan untuk mendukung sistem kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang semakin kompleks dan besar. Pusat data yang lebih masif serta canggih sangat diperlukan guna menangani volume data yang kian hari kian meningkat dan menjalankan algoritma AI yang membutuhkan begitu besar sumber daya komputasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/08/12/597c73fd-0439-4314-ad6a-c5d40719abe6_jpg.jpg)
Konsumsi daya listrik pusat data tumbuh dengan mencengangkan. Peningkatan dari 10 megawatt menjadi 100 megawatt berlangsung hanya dalam satu dekade, di tengah tuntutan bagi data center untuk memproses serta menyimpan begitu banyak data. Ledakan volume data ini berasal dari perangkat IoT, layanan streaming, dan aplikasi AI.
Di sisi lain, ada tuntutan agar emisi karbon ditekan mengingat ancaman serius pemanasan global. Pusat-pusat data di seluruh dunia pun berupaya membangun pembangkit energi hijau guna menjamin pasokan listrik. Mereka mengembangkan, antara lain, kompleks sel surya sebagai penyuplai energi. Akan tetapi, problem dari sel surya dan turbin angin ialah energinya tidak bisa stabil selama 24 jam. Tak mengherankan, penyedia pusat data menyiapkan pula pembangkit energi cadangan, seperti baterai dan generator.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/01/21/b7eb4295-8b1a-45af-a885-e1ca4bb40387_jpg.jpg)
Konsekuensinya, perusahaan raksasa teknologi kini fokus untuk menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) karena jenis energi ini dapat stabil 24 jam dan tak menghasilkan emisi karbon. Amazon dan Google serius menyiapkan pembangkit nuklir berupa reaktor modular kecil (SMR). Investasi Amazon dalam proyek SMR dilakukan melalui perusahaan rintisan X-energy, sementara Google bermitra dengan Kairos Power untuk mengembangkan SMR yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2030. Raksasa penyedia layanan cloud lainnya, Microsoft, menghidupkan kembali sebuah PLTN di Amerika Serikat yang sudah ditutup.
Beberapa waktu terakhir, Indonesia menjadi tujuan pembangunan pusat data. Tanah yang luas dan sinar matahari sepanjang tahun menambah keunggulan Indonesia. Meski demikian, tak lama lagi, sangat mungkin Indonesia perlu mempertimbangkan pembangunan tenaga nuklir di tengah kemunculan pusat data serta kewajiban energi hijau.
Penulis:
RedaksiEditor:
Antonius Tomy Trinugroho