Mempelajari kecerdasan buatan kian jadi kebutuhan untuk meningkatkan daya tawar seseorang di dunia kerja. Pendidikan dan pelatihan kecerdasan buatan diperlukan.
23 Des 2024 16:40 WIB · Nasional
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/10/01/7435d1e8-0710-4a6d-b7dd-a3a31777a944.jpg)
JAKARTA, KOMPAS — Peningkatan keterampilan agar tetap kompetitif di dunia kerja global yang berkembang pesat makin menjadi kebutuhan. Pembelajaran keterampilan terkait generative artificial intelligence atau kecerdasan buatan banyak dipilih.
Berdasarkan laporan di Microsoft’s Work Trend Index 2024, keterampilan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah menjadi prioritas utama para pemimpin di Indonesia dalam melakukan perekrutan. Sebanyak 69 persen menyatakan, mereka tak akan merekrut kandidat yang tak memiliki keterampilan AI, terlepas dari keterampilan lainnya.
Selain itu, sebanyak 76 persen di antaranya cenderung memilih kandidat dengan pengalaman yang lebih sedikit, tetapi andal dalam menggunakan AI, daripada kandidat yang lebih berpengalaman, tetapi tanpa keterampilan AI.
Managing Director Asia Pasifik Coursera Raghav Gupta pada Senin (23/12/2024), mengemukakan, tren mempelajari AI tecermin dari data Coursera. Pada 2024, setiap dua menit satu orang di Asia Pasifik mendaftar ke kursus GenAI. ”Data ini menegaskan bahwa AI menjadi keterampilan wajib bagi para profesional di berbagai industri,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/02/17/20210216-H09-ARJ-ai-mumed_1613497629.gif)
Peningkatan minat terhadap pembelajaran GenAI di Indonesia mencerminkan tren global dan Asia Pasifik. Pada tahun 2024, Coursera, platform pembelajaran daring, mencatat peningkatan pendaftaran GenAI di Indonesia 330 persen, didorong kursus-kursus, seperti Google AI Essentials, Generative AI for Everyone and Generative AI: Introduction and Applications.
Meskipun kursus dasar GenAI tetap populer, fokusnya kini beralih ke penerapan GenAI di tempat kerja, yang menandakan minat yang semakin matang dalam penerapan praktis dari teknologi tersebut.
”Pembelajar Indonesia menyambut masa depan pekerjaan, memprioritaskan GenAI dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan untuk tetap kompetitif di pasar kerja. Langkah ini menunjukkan ketahanan, kemampuan beradaptasi, dan dorongan mereka memimpin di tingkat global,” kata Gupta.
Diperkirakan pada tahun 2025, kompetisi global menuju literasi AI akan makin pesat. ”Kami berkomitmen memberdayakan pembelajar Indonesia dengan pendidikan yang dapat diakses dan transformatif untuk meraih kesuksesan di dunia yang didorong oleh AI,” ucap Gupta.
Sementara berdasarkan kajian Microeconomics Dashboard (Micdash), Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, berjudul ”Labor and Technology Economics: Apakah Artificial Intelligence akan Sepenuhnya Mensubstitusi Manusia?”, sebanyak 77 persen manusia khawatir AI dapat menghilangkan pekerjaan dan menggantikan tugas-tugas mereka.
Namun, AI kurang mampu dimanfaatkan secara maksimal untuk hal-hal yang sifatnya tidak dapat diprediksi, terutama luar bidang pengetahuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Pembelajar Indonesia menyambut masa depan pekerjaan, memprioritaskan GenAI dan keterampilan yang sesuai kebutuhan pekerjaan untuk tetap kompetitif di pasar kerja.
Koordinator Bidang Kajian Micdash Qisha Quarina menjelaskan, tren penggunaan AI meningkat. Teknologi ini diperkirakan berdampak signifikan pada lapangan pekerjaan untuk mempermudah pencarian informasi dan pengelolaan sumber daya manusia. ”AI bisa mengoptimalkan pekerjaan dan melengkapi kekurangan sumber daya manusia,” ungkapnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/10/410c1ee2-55bd-4615-b59d-1349a47e3baf_jpg.jpg)
Namun, kemunculan teknologi kecerdasan buatan menghadirkan dinamika kompleks. Di sisi lain, inovasi ini memberi manfaat sekaligus berpotensi memunculkan hal buruk lain. Hal ini memicu kekhawatiran pada proses kerja yang mulai digantikan mesin dan robot serta munculnya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki pekerja dan dibutuhkan di pasar kerja.
”Sektor pendidikan dan perusahaan sebaiknya memberikan fasilitas kebutuhan upgrading skills maupun reskilling yang dibutuhkan para pekerja agar dapat bersaing di masa depan dan memastikan pekerja tetap relevan di pasar kerja yang semakin berbasis digital,” kata Qisha.
Peneliti Micdash lainnya, Raniah Salsabila, menyebut penerapan AI di pasar tenaga kerja tak bisa dihindari karena inovasi ini dirancang untuk membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dan meningkatkan produktivitas. Contohnya, ChatGPT digunakan untuk mendukung riset, penyuntingan naskah, dan membantu membangkitkan ide dengan lebih efisien.
”Ini menunjukkan AI tidak menggantikan manusia, tetapi menggantikan keterampilan tertentu yang dibutuhkan pekerja untuk membuat pekerjaan lebih efisien,” ujar Raniah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/20/af8b9480-9b90-4446-9c01-752f90299bb6.jpg)
Manfaat AI bisa dimaksimalkan agar pekerja mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut. Keterampilan yang dibutuhkan di masa depan tak terbatas pada keterampilan terkait teknologi, tetapi juga mencakup kecerdasan manusia, seperti berpikir kritis dan inovatif, pemecahan masalah yang kompleks, analisis, kreatif, keaslian, dan penalaran.
”Keterampilan-keterampilan ini menjadi semakin penting. Kendati mampu menjalankan tugas-tugas tertentu, AI tidak dapat menggantikan kualitas-kualitas yang terkait dengan kecerdasan manusia,” tegas Raniah.
Kebutuhan tenaga kerja di bidang AI dibaca perguruan tinggi. Salah satunya Institut Pertanian Bogor (IPB) University yang mulai tahun ini membuka program studi (prodi) Sarjana (S1) Kecerdasan Buatan.
Menurut Ketua Prodi S1 Kecerdasan Buatan IPB University Yeni Herdiyeni, prodi ini di bawah naungan Sekolah Sains Data, Matematika dan Informatika. ”Prodi Kecerdasan Buatan didirikan untuk membentuk lulusan yang punya kemampuan bidang AI demi menyelesaikan soal penerapan teknologi sistem cerdas,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/05/12/77bed7e9-5007-4d6f-8946-160754623021.jpg)
Dengan kompetensi itu, para lulusan akan mampu mengidentifikasi hingga merumuskan solusi masalah terkait dengan penerapan sistem cerdas atau intelligent system dalam mendukung transformasi digital dan pengembangan teknologi di masa depan dalam bidang pertanian secara luas.
”Prodi Kecerdasan Buatan IPB University menggunakan pendekatan studi interdisiplin yang melibatkan integrasi ilmu komputer dan bidang ilmu lain, khususnya di bidang pertanian, untuk pengembangan teknologi AI yang inovatif,” ujar Yeni.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .