Kecerdasan Buatan Susutkan Otak Manusia

Evolusi membuat otak manusia lebih besar dibanding otak primata lain. Dengan kian masifnya pemanfaatan kecerdasan buatan, otak manusia ditaksir akan susut kembali.

08 Jan 2025 19:47 WIB · Humaniora

Oleh Muchamad Zaid Wahyudi

Proses evolusi membuat otak manusia membesar sehingga bisa memiliki sifat-sifat yang membedakan manusia dengan primata lain. Namun, makin masifnya perkembangan dan pemanfaatan kecerdasan buatan diperkirakan akan menyusutkan kembali volume otak manusia. Jika hal itu benar-benar terjadi, ke mana evolusi manusia akan berakhir?

Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) akan semakin masif di tahun 2025. Peneliti di Institut Kecerdasan Artifisial yang Berpusat pada Manusia (HAI) Stanford, Amerika Serikat memprediksi, kolaborasi antarsistem atau agen AI akan semakin baik hingga AI mampu menangani banyak masalah kompleks dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan keuangan.

Namun, ahli juga mengingatkan, terus meningkatnya pemanfaatan AI untuk penipuan canggih. Masalahnya, regulasi dalam pemanfaatan AI masih terbatas, termasuk di negara-negara maju seperti AS. Karena itu, pembangunan AI yang berfokus pada manusia perlu diperbanyak sehingga AI benar-benar memberikan manfaat bagi manusia di dunia nyata.

Di tengah situasi yang menantang itu, ahli evolusi justru mengkhawatirkan dampak AI bagi manusia, apakah akan membawa manusia makin sejahtera atau justru menghancurkan kemanusiaan mereka. Meski AI membantu banyak pekerjaan manusia, namun ahli evolusi seperti dikutip dari Livescience, 31 Desember 2024, justru mengkhawatirkan suramnya masa depan manusia.

Dalam sejumlah skenario suram perkembangan AI, sejumlah ahli membayangkan akan terjadinya adu nasib antara manusia dan AI, pertempuran umat manusia dengan memanfaatkan AI, kepunahan manusia dan berbagai spesies lainnya, hingga perpaduan antara manusia dan AI menjadi siborg (cyborg).

Sesuai namanya, siborg yang merupakan akronim dari sibernetika dan organisme adalah makhluk yang dihasilkan dari perpaduan antara sistem organik dengan sistem buatan yang berperilaku seperti sistem organik. Siborg bisa mewujud dalam bentuk robot yang memiliki otak manusia atau manusia yang sebagian anggota tubuhnya diganti mesin.

Robot humanoid Kawasaki turut tampil dalam Pameran Robot Internasional di Tokyo, Rabu (9/3/2022). AFP/Behrouz MEHRI 09-03-2022 *** Local Caption *** This general view shows Kawasaki humanoid robots on display at the International Robot Exhibition in Tokyo on March 9, 2022. (Photo by Behrouz MEHRI / AFP)

Meski demikian, sebagian ahli berusaha tetap skeptis atau berpikiran positif tentang kemajuan dan pemanfaatan AI. Jangan-jangan, bayangan manusia tentang kolaborasi antara manusia dan AI itu tidak semengerikan seperti yang digambarkan film fiksi ilmiah. Bisa jadi, AI akan membantu banyak pekerjaan manusia hingga membuat manusia lebih sejahtera.

Seleksi alam

Ahli biologi evolusi melihat kemunculan AI dalam berbagai aplikasinya saat ini seperti menyaksikan perkembangbiakan mikroba, tanaman, dan hewan dalam lanskap ekologi. Karena itu, interaksi manusia dengan dunia yang kaya akan keanekaragaman AI itu dipastikan akan memengaruhi evolusi manusia secara fisik, biologis, dan sosial, serta menentukan seleksi alam yang bakal terjadi.

Seleksi alam merupakan mekanisme evolusi yang merupakan konsekuensi tak terelakkan dari perbedaan genetik antarindividu yang dihasilkan melalui proses reproduksi. Perbedaan genetik itu muncul sebagai akibat interaksi berbagai faktor fisik seperti suhu, interaksi dengan spesies lain seperti predator atau parasit, hingga dengan sesama individu dalam spesies yang sama.

Profesor Evolusi dari Universitas New South Wales (UNSW) Sydney, Australia, Rob Brooks, dalam tulisannya di The Conversation, 26 November 2024, sering membandingkan proses evolusi pemanfaatan AI itu mirip proses domestikasi anjing pada 30.000 tahun yang lalu. Saat serigala abu-abu Asia berkeliaran di sekitar manusia, serigala yang lebih reaktif diusir atau dibunuh manusia. Tindakan itu mengikis gen yang membuat serigala mudah takut dan agresif sehingga proses domestikasi serigala menjadi anjing pun dimulai.

“Seleksi yang tidak sengaja yang mengubah serigala abu-abu Asia menjadi anjing bisa menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana AI yang tanpa disadari bisa mengubah otak dan perilaku manusia,” tulisnya.

Meski demikian, seperti ditulis penulis Inggris Douglas Adams dalam bukunya The Salmon of Doubt: Hitchhiking the Galaxy One Last Time (2002), “Mencoba meramal masa depan adalah permainan yang tidak amsuk akal.” Kondisi ini terutama belaku dalam memprediksi perkembangan dan penggunaan teknologi seperti AI.

Infografik-Apakah Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan Berhasil di Tahun 2023? *** Local Caption *** Infografik-AFP-Apakah Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) akan Berhasil di Tahun 2023?

Namun, lanjut Brooks, memprediksi evolusi, kalaupun itu ada, akan lebih sulit lagi. Menggabungkan evolusi dan teknologi akan melibatkan spekulasi yang cukup besar sehingga kemungkinan untuk menghasilkan kesalahan prediksi juga akan semakin besar. Dengan risiko sebesar itu, Brooks ingin melihat bagimana evolsi manusia dan sifat-sifat yang paling dihargai dalam interaksi sesama manusia bisa diubah oleh AI.

Mengubah otak

Simbiosis antara manusia dan AI bisa bersifat mutualisme atau saling membutuhkan dan saling menguntungkan. Penemuan komputer seusai Perang Dunia II membuat manusia bisa menyerahkan beban komputasi yang sangat besar kepada komputer. Upaya ini jelas menguntungkan manusia karena tak perlu capai-capai lagi menghitung.

Menurut Brooks, banyak studi sudah membuktikan bahwa sejak manusia berbagi pengetahuan dan menulis, maka beban manusia untuk mengingat segalanya secara mandiri sudah berkurang besar. Tindakan itu telah menyusutkan otak manusia selama beberapa milenium terakhir.

Dengan keberadaan AI yang akan semakin berkembang di masa depan, mengunggah dan membagikan pengetahuan secara daring atau melalui media sosial akan mengurangi banyak beban ingatan di otak manusia. Informasi daring tentang siapa-melakukan-apa-kepada-siapa akan membawa lebih banyak ingatan yang harus ditanggung otak manusia.

Karena itu, “otak manusia diprediksi akan berevolusi menjadi lebih kecil dengan membawa atau menampung memori yang lebih sedikit,” tambah Brooks.

Namun, volume otak yang lebih kecil itu tetap menguntungkan manusia. Dengan otak yang lebih kecil, otomatis ukuran kepala juga akan mengecil dan proses persalinan yang harus dijalani ibu akan semakin aman. Dengan semakin meningkatnya kapasitas komputer dan AI dalam menyimpan pengetahuan manusia, maka manusia berotak lebih keci itu akan tetap bisa melakukan hal-hal luar biasa selama bisa mengakses AI.

Meski demikian, simbiosis itu bisa menempuh jalan berbeda, yaitu menjadi parasitisme yang menguntungkan satu pihak dengan cara mengorbankan pihak yang lain. Dalam model ini, media sosial bisa dianggap sebagai parasit.

Semula, media sosial menyedikan platform yang membuat manusia saling terhubung dan ini bersifat mutualisme. Namun, semakin besar ketergantungan manusia pada media sosial, maka relasinya akan menjadi parasitisme karena membut manusia tidak memiliki waktu berinteraksi sosial secara nyata, bahkan memilih mengurangi waktu tidur demi berselancar di dunia maya.

Quote

Otak manusia diprediksi akan berevolusi menjadi lebih kecil dengan membawa atau menampung memori yang lebih sedikit.

Jika AI belajar lebih baik lagi dalam menarik perhatian manusia secara efektif hingga memunculkan kemarahan dan perbandingan sosial, maka AI bisa menentukan siapa yang hidup, mati, dan bereproduksi. Di saat inilah AI akan memengaruhi evolusi.

Akan tetapi, manusia sejatinya tetap memiliki kendali dalam penggunaan teknologi tersebut. Jika manusia enggan atau menolak media sosial, maka dia tidak akan terpancing dengan umpan dan provokasi pihak lain yang bisa memicu kemarahan masyarakat.

<p>Ilustrasi kecerdasan buatan, ai, neuralink</p>

Brooks menambahkan, interaksi antara manusia dan AI bukan hanya soal siapa yang lebih diuntungkan atau dirugikan, tetapi juga seberapa dalam interaksi itu berlangsung. Sama seperti spesies lain, evolusi manusia juga sangat dipengaruhi oleh seberapa intim hubungan yang bisa mereka kembangkan dengan AI.

Pemanfaatan AI kini sudah merambah ke kehidupan sosial manusia, menciptakan “keintiman buatan” yang mencengangkan, hingga bisa mengubah AI dari sekadar mesin menjadi kawan, bahkan kekasih manusia.

Banyak psikolog menilai situasi itu menjadi faktor risiko yang memicu kecemasan, kesepian, dan berbagai gangguan mental manusia. Namun, kondisi serupa bisa jadi membuat manusia masa depan menjadi makhluk yang makin menyendiri, tidak kesepian meski tanpa ditemani manusia lain.

Pada saat bersamaan, kapasitas sosial manusia untuk berurusan dengan komputer belum berkembang. Akibatnya, manusia cenderung menjadikan AI sebagai alat untuk menyelesaikan persoalannya dengan manusia lain melalui bantuan mesin, terutama jika mesin tersebut mampu mengkonversi data yang ada menjadi teks, suara, dan video. AI tidak memiliki emosi, namun banyak manusia memperlakukan AI seolah-olah memiliki perasaan.

Perkembangan AI saat ini pun sudah mengarah pada pengurangan peran manusia untuk melakukan tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan oleh manusia. Karena itu. Ahli evolusi mengajak untuk tidak terlalu mengkhawatirkan perubahan generasi yang akan datang sebagai akibat penggunaan AI yang makin masif.

Meski demikian, konsekuensi-konsekuensi akibat pemanfaata AI itu perlu dipikirkan karena meremehkan, seperti dikutip dari pandangan pakar ekologi AS Robert MacArthur (1930-1972), adalah sikap yang lebih buruk bagi seorang ilmuwan daripada melakukan kesalahan.

Hal yang pasti, penggunaan AI yang makin masif dapat mengurangi beberapa sifat manusia yang paling dihargai, termasuk soal persahabatan, keintiman, komunikasi, kepercayaan, dan kecerdasan. Kehilangan semua sifat itu, pada gilirannya bisa mengubah manusia menjadi hingga manusia yang tidak sebenarnya, yaitu manusia tanpa kemanusiaannya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muchamad Zaid Wahyudi
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan