PERTAHANAN NEGARA

Kedatangan Rafale, Babak Baru Pertahanan Udara Indonesia

Tiga jet tempur Rafale pertama tiba di Indonesia, menambah babak panjang sejarah kekuatan udara nasional yang sejak awal kemerdekaan terus berganti dan beradaptasi.

31 Jan 2026 06:05 WIB · Politik & Hukum

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

Akhirnya, tiga jet tempur Rafale mendarat di Indonesia. Ketiganya bernomor ekor T-0301, T-0302, dan T-0303. Huruf T mewakili kategori pesawat tempur, sedangkan awalan angka 03 merupakan kode jenis pesawat untuk Rafale. 

Ketiga jet tempur tersebut merupakan bagian dari total 42 jet tempur Rafale pesanan Indonesia yang ditandatangani pada 2022. Saat itu, selain Rafale, Indonesia sepakat untuk membeli dua kapal selam Scorpene dan amunisi dari Perancis dengan nilai kontrak 8,1 miliar dolar AS.

Kepala Biro Informasi Pertahanan (Infohan) Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Rico Sirait, Selasa (27/1/2026), mengatakan, tiga unit Rafale tesebut ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau. ”Secara administratif dan teknis, proses serah terima telah diselesaikan,” ujar Rico saat dihubungi, Selasa.

Hingga akhir tahun ini, total enam jet tempur Rafale yang akan diterima Indonesia. Sisanya akan dikirim secara bertahap hingga 2030. Di Asia, Indonesia menjadi pengguna Rafale keempat setelah India, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Pesawat tempur Rafale Angkatan Udara Perancis, dan pesawat angkut sedang A400M, Senin (12/9/2022) melakukan joy flight di atas perairan Selat Sunda. Foto diambil dari kabin pesawat tanker A-330 MRTT Angkatan Udara Perancis.
Empat penerbang tempur TNI Angkatan Udara yang tergabung dalam Pilot Training Batch 1 berhasil terbang solo menggunakan pesawat tempur Rafale di Escadron de Transformation Rafale (ETR) 3/4 Aquitaine, Base Aérienne 113, Saint-Dizier, Prancis. Keempat penerbang tersebut adalah Letkol Pnb Binggi Nobel, Mayor Pnb Eri Nasrul Mahlidar, Mayor Pnb Arie Prasetyo, dan Mayor Pnb Yusuf Atmaraga.

Bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Rafale akan memperkuat jajaran jet tempur yang telah dioperasikan selama ini, yakni T-50i Golden Eagle buatan Korea Selatan, Hawk 100/200 buatan Inggris, F-16 buatan AS, serta Su-27 dan Su-30 besutan Rusia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melihat cockpit pesawat latih lanjut T-50 buatan Korea Selatan yang digunakan TNI AU, 13 Februari 2014. (Kompas/Riza Fathoni) *** Local Caption *** Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melihat cockpit pesawat latih lanjut T-50 buatan Korea Selatan yang digunakan TNI AU, 13 Februari 2014. (Kompas/Riza Fathoni)
Komandan Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Letkol Pnb Adhi Safarul Akbar memeriksa pesawat tempur Hawk 100/200 sebelum melaksanakan patroli udara di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Aceh, Senin (26/2). Sebanyak enam pesawat Hawk 100/200 Skadron Udara 12 Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru melaksanakan patroil pengamanan wilayah udara di provinsi Aceh dan latihan tempur dengan menggunakan rudal Maverick.Antara/Irwansyah Putra26-02-2018
Atraksi udara pesawat tempur Sukhoi dan F-16 TNI Angkatan Udara ikut memeriahkan perayaan HUT TNI AU di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, beberapa waktu lalu. Kompas/Yuniadhi Agung (MYE)

Pesawat-pesawat itu ada yang sudah beroperasi dalam waktu lama. TNI AU mengoperasikan T-50i sejak 2014, sedangkan Su-27 dan Su-30 sudah dioperasikan sejak 2003 meski untuk varian Su-30MKI2 baru tiba pada 2013. Adapun Hawk dioperasikan TNI AU sejak 1980 meski varian Hawk 100/200 datang pada 1994. 

Sementara jet tempur F-16 dengan berbagai variannya telah menjaga langit Nusantara sejak 1989. Selain itu, ada pesawat antigerilya bermesin turboprop Super Tucano asal Brasil yang didatangkan pada 2012.

Marshaller mengarahkan penerbang EMB-314 Super Tucano dalam geladi bersih Hari Ulang Tahun ke-77 TNI Angkatan Udara di Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (6/4/2023). Berbagai kegiatan, mulai parade, defile, demo udara dan demo darat dengan melibatkan alutsista TNI AU memeriahkan upacara kemiliteran yang puncaknya akan dilaksanakan pada 9 April mendatang. Sebanyak 82 pesawat TNI AU dari berbagai tipe mulai unsur tempur, transportasi, dan helikopter dengan melibatkan 271 penerbang dan navigator ikut serta. Adapun peserta upacara, parade, defile, dan demo darat melibatkan sebanyak 1.346 personel yang terdiri dari prajurit, PNS TNI AU, dan Karbol Akademi Angkatan Udara. KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 6-4-2023

Dibandingkan saudara-saudaranya yang tiba lebih dulu, Rafale tergolong lebih canggih karena termasuk jet tempur generasi 4,5. Ada beberapa peningkatan signifikan, seperti penggunaan radar AESA, perangkat perang elektronik canggih, serta dilengkapi dengan berbagai sensor yang tidak ada di generasi sebelumnya. Sementara, jet tempur F-16, Su-27, dan Su-30 termasuk dalam generasi 4.

<p>Infografik Kompas.id Militer Pertahanan Spesifikasi Pesawat Tempur Rafale Perancis</p>

Kini, kedatangan jet tempur Rafale menegaskan bahwa arah alutsista Indonesia untuk jet tempur memasuki babak baru. Dalam beberapa dekade terakhir, langit Indonesia lebih banyak dijaga jet tempur buatan Barat, terutama AS dan Inggris.

Meski TNI AU kini mengoperasikan jet tempur buatan Rusia, itu baru terjadi setelah rezim Orde Baru runtuh. Sementara, meski juga buatan Barat, Rafale menjadi penanda pergeseran asal produsen alutsista yang akan menjadi tulang punggung pertahanan udara ke depan.

Patut diingat, pembelian jet tempur merupakan keputusan jangka panjang yang mesti menimbang banyak hal, mulai terkait operasi, pemeliharaan dan perawatan, pembinaan sumber daya manusia yang mengawaki serta para teknisi. Ketika sebuah negara membeli sebuah sistem senjata, maka yang diboyong adalah ekosistemnya.

Pembuatan Pesawat Patroli Maritim - Para teknisi PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Bandung, Jawa Barat, menyelesaikan pembuatan pesawat CN 235 Maritim Patrol Aircraft (pesawat patroli maritim) untuk TNI AL, Selasa (18/9). Total nilai kontrak PT DI untuk pengadaan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI pada tahun 2012 ini dengan total nilai Rp 8,2 triliun.

Kompas/Rony Ariyanto Nugroho (RON)
18 September 2012

Dari masa ke masa

Jika menilik ke belakang, Indonesia telah mengoperasikan beragam pesawat tempur, tergantung situasi dan kondisi saat itu.

Dikutip dari Air Defence, Antara Kebutuhan dan Tuntutan (2017) yang ditulis Agus Supriatna, Kepala Staf TNI AU (KSAU) periode 2015-2017, ketika terjadi Agresi Militer pertama oleh Belanda pada 1947, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) menggelar operasi serangan udara dengan bermodalkan pesawat peninggalan tentara Jepang, seperti Yokosuka K5Y Cureng, Ki-51 Guntai, dan Nakajima Ki-43 Hayabusha. 

Kemudian, ketika menumpas gerakan PRRI di Sumatera Barat melalui Operasi 17 Agustus dan menghadapi kelompok separatis Permesta dengan Operasi Merdeka di Sulawesi Tengah dan Utara, sekitar tahun 1958, AURI menggunakan P-51 Mustang, B-25 Mitchell, dan C-47 Dakota.

*** Local Caption *** Pesawat P-51 Mustang yang dipergunakan Marsda Ramli, kini dipajang di depan Mabes TNI-AU.
Dakota VT-CLa jatuh di tembak Oleh Pesawat belanda di Yogya yang Mengakibatkan Banyak Korban 20/7/1947 *** Local Caption *** Dakota VT-CLa jatuh di tembak Oleh Pesawat belanda di Yogya yang Mengakibatkan Banyak Korban 20/7/1947 A 10 T 1947 H 17

Indonesia pernah memiliki angkatan perang yang canggih ketika Presiden pertama Sukarno memerintahkan Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) untuk merebut kembali Irian Barat dari Belanda, pada pertengahan Desember 1961. Saat itu, Indonesia mengucurkan dana untuk membeli alutsista dan berbagai persenjataan dari Rusia sebesar 2,5 miliar dolar AS.

Chappy Hakim, KSAU periode 2002-2005, dalam buku Mengenal Kekuatan Dirgantara (2023), menjelaskan, dalam Operasi Trikora, AURI dipersenjatai dengan berbagai pesawat terbang baru dan modern di eranya. AURI mendapatkan tidak kurang dari 30 unit MIG-15 UTI, 49 pesawat tempur MIG-17, sejumlah MIG-19, serta pesawat penyergap canggih di masanya, yakni MIG-21.

Sebuah pesawat MiG-17 Fresco dipajang sebagai monumen di Alun-alun Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (8/3/2022). Pesawat yang didatangkan dari Rusia itu pernah memperkuat armada TNI Angkatan Udara pada tahun 1960-1969 dan berjasa antara lain dalam operasi pembebasan Irian Barat. Pesawat itu dirakit sebagai monumen di tempat itu pada akhir 2017 lalu antara lain untuk mengenang kejayaan TNI AU.

AURI kala itu juga diperkuat dengan skuadron pengebom strategis dengan mengoperasikan pesawat pengebom Tu-16 yang mengoperasikan peluru kendali serta pesawat angkut Antonov An-12. Untuk helikopter, didatangkan 41 helikopter MI-4 dan 9 helikopter angkut berat MI-6.

Warga lokal menarik becak disamping pesawat Antonov AN-12 yang disewa untuk melayani angkutan cargo di Bandara Wamena, Papua, Senin (30/4). Distribusi barang dan makanan di pedalaman dan pegunungan Papua yang hanya mengandalkan penerbangan menjadikan harga tinggi.
----------------------
Kompas/Agus Susanto (AGS)
30-04-2012 *** Local Caption *** Warga lokal menarik becak disamping pesawat Antonov AN-12 yang disewa untuk melayani angkutan cargo di Bandara Wamena, Papua, Senin (30/4). Distribusi barang dan makanan di pedalaman dan pegunungan Papua yang hanya mengandalkan penerbangan menjadikan harga tinggi.
----------------------
Kompas/Agus Susanto (AGS)
30-04-2012

Chappy menyebut, kekuatan besar angkatan perang Indonesia pada era Trikora dan Dwikora telah memicu pembangunan kekuatan perang pihak Barat di wilayah Pasifik secara besar-besaran. Dalam buku Keamanan Nasional dan Penerbangan (2024), Chappy menyebut, Angkatan Perang Indonesia yang disiapkan dalam Operasi Trikora sempat dijuluki sebagai ”The Strongest Military Power in Southern Hemisphere”.

”Dampak dari kekuatan yang luar biasa saat Trikora sejatinya telah menorehkan trauma bagi pihak Barat. Hal ini kemudian tampak sekali pada pasca-Trikora, Australia, Malaysia, dan Singapura secara bertahap meningkatkan kekuatan angkatan perangnya masing-masing, terutama kekuatan udara mereka,” kata Chappy. 

Masa reformasi

Masuk ke era Orde Baru, Angkatan Udara juga mengalami modernisasi. Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, Indonesia mulai mengoperasikan pesawat-pesawat tempur generasi baru seperti F-5E Tiger II, Hawk 200, serta pesawat angkut CN-235 yang diproduksi bersama PT Dirgantara Indonesia dan CASA Spanyol.

Pesawat TNI Angkatan Udara, CN-235, melintas saat petugas gabungan dari TNI Angkatan Laut, Polisi Air, Badan Keamanan Laut, Bea dan Cukai, Kesatuan Penjagaan Laut, serta Imigrasi menggelar simulasi penyergapan perahu penyelundup pekerja migran di perairan Batam, Kepulauan Riau, Rabu (19/1/2022).

KSAU Marsekal M Tonny Harjono dalam buku Menembus Langit Pertahanan: Membangun TNI AU yang Tangguh, Modern, dan Berkelas Dunia (2025) mengatakan, kemampuan dalam mengoperasikan dan merawat alutsista modern menjadi indikator profesionalisme dan kemandirian teknis TNI AU dalam mendukung sistem pertahanan nasional. Seiring dengan penambahan alutsista, berkembang pula struktur, doktrin, dan sistem pendidikannya. 

Pascareformasi, kata Tonny, TNI AU lebih banyak diarahkan pada operasi kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan operasi militer terbatas.

Salah satu momen penting saat keterlibatan TNI AU yang mengoperasikan pesawat Hercules sebagai tulang punggung distribusi logistik dan evakuasi korban dalam operasi tanggap darurat tsunami Aceh 2004.

Beberapa insiden

Meski berada di masa damai, berbagai insiden pelanggaran wilayah udara oleh pesawat asing telah ditanggapi serius oleh TNI AU. Semisal, pada 22 Oktober 2014, pesawat Su-30 melakukan penyergapan terhadap sebuah Beechcraft C-55 Baron yang terbang di sebelah selatan Manado, Sulawesi Utara. Pesawat asal Australia dan hendak menuju Filipina itu dipaksa mendarat di Lanud Sam Ratulangi, Manado.

Pilot pesawat tempur SU-30 berjalan menuju pesawat di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta (1/10/2025). Pesawat tersebut adalah satu dari sekian jenis pesawat tempur TNI AU yang mengikuti latihan manuver sebelum tampil pada perayaan HUT ke-80 TNI di Monas.

Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Kemudian, pada 3 November 2014, TNI AU menugaskan dua pesawat Su-30 untuk menyergap sebuah pesawat Gulfstream milik Arab Saudi yang hendak menuju Australia. Pesawat tersebut dipaksa turun di Lanud El Tari, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Insiden lain yang sering diceritakan adalah proses identifikasi terhadap lima pesawat F/A-18 Hornet milik Angkatan Laut AS oleh dua jet tempur F-16 TNI AU pada 3 Juli 2003 di atas perairan Kepulauan Bawean. Peristiwa itu merupakan pertama kalinya Indonesia berhadapan dengan armada laut AS dan sempat menjadi sasaran tembak.

Kelima pesawat tempur AS tersebut berasal dari kapal induk USS Carl Vinson yang sedang berlayar dari arah barat ke timur. Sebagai sebuah gugus tempur, kapal induk dikawal sebuah kapal perusak dan dua fregat.

Chappy menyebut, insiden yang nyaris berisiko tersebut dapat selesai dengan aman melalui komunikasi antara pilot F-16 TNI AU dan pilot F/A-18 Hornet dari AL AS. Pilot AL AS disarankan untuk melaporkan posisinya kepada pihak pemandu lalu lintas udara (ATC) agar keselamatan dan kenyamanan penerbangan sipil terjamin. 

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Chappy Hakim (kanan) menyampaikan berbagai hal saat berkunjung ke Kantor Redaksi Harian Kompas, Jakarta, Senin (13/2). Chappy Hakim diterima wartawan dan jajaran pimpinan Redaksi Harian Kompas.

”Pelanggaran wilayah udara kedaulatan NKRI cukup sering terjadi selama ini dan tercatat di ruang operasi Kohanudnas (Komando Pertahanan Udara Nasional). Sebuah tantangan besar dihadapi oleh TNI AU dalam melaksanakan tugas pokoknya menjaga kedaulatan negara di udara, kata Chappy.

Kedatangan 42 Rafale, tulis Chappy, tentu akan memengaruhi performa kekuatan tempur TNI AU. Penambahan jumlah pesawat tersebut membuat kemampuan TNI AU lebih berdaya dalam menjalankan tugas pokok.

Namun, Chappy mengingatkan agar TNI AU juga dipersiapkan untuk memasuki era siber. Era itu ditandai dengan masifnya penggunaan drone, kecerdasan buatan, sarana satelit, sistem komando pengendalian, serta pesawat peringatan dini (AWACS).  

Peran Rafale

Menurut pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, Kamis (29/1/2026), penempatan Rafale di Lanud Roesmin Nurjadin dinilai strategis. Berada di sisi timur Selat Malaka, lokasi itu merupakan salah satu jalur perniagaan paling padat dan sensitif di dunia.

”Dari titik ini, Rafale dapat menjalankan peran yang sangat vital dalam memperkuat forward defense posturing Indonesia, yakni memperpendek jarak antara ancaman potensial dan kemampuan respons,” tuturnya.

Tokoh adat menggelar prosesi &quot;tepuk tepung tawar&quot; yaitu tradisi Melayu memohon doa keselamatan di depan jet tempur F16 saat peresmian operasional Skadron F16 di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Rabu (3/12). TNI AU menempatkan lima jet tempur F16 sebagai kekuatan pemukul dan pengamanan teritorial di wilayah barat Indonesia, yang secara bertahap akan terus diperkuat hingga mencapai 16 pesawat pada akhir 2015. ANTARA /FB Anggoro

Sebagai pesawat tempur generasi 4,5 yang berkemampuan omnirole, Rafale dapat menjalankan tugas untuk superioritas udara, serangan presisi, pengintaian, dan operasi antikapal dalam satu penerbangan tunggal (sortie).

Dalam operasi gabungan, Rafale juga mampu menjadi pusat data taktis, yang mengumpulkan dan mendistribusikan informasi ke pesawat lain seperti F-16 dan Sukhoi, serta ke radar atau pusat kendali di darat. Hal ini akan memperbaiki kesadaran situasional seluruh jaringan pertahanan udara.

Dalam konteks arsitektur pertahanan berlapis yang selama ini menjadi pendekatan TNI AU, terang Khairul, jet tempur F-16 dan Sukhoi Su-27/30 merupakan penempur utama yang mengemban tugas superioritas udara dan patroli ketinggian.

Quote

Dalam kerangka inilah, kehadiran Rafale menjadi relevan. Ia memperkuat kualitas lapis atas dan menutup celah kapabilitas yang selama ini belum terisi.

Di lapis menengah, T-50i berperan sebagai lead-in fighter trainer sekaligus penempur ringan yang menjaga kesiapan operasional harian. Di lapis bawah, Hawk 100/200 dan Super Tucano mengerjakan misi low-intensity, seperti patroli perbatasan atau penegakan hukum udara. Namun, Hawk 100/200 akan memasuki masa purna tugas dalam waktu yang tidak terlalu lama. 

”Dalam kerangka inilah, kehadiran Rafale menjadi relevan. Ia memperkuat kualitas lapis atas dan menutup celah kapabilitas yang selama ini belum terisi, terutama dalam hal pertempuran jarak jauh (BVR), peperangan elektronika, dan operasi berbasis jaringan,” kata Khairul.

Rico mengatakan, ketiga Rafale tersebut akan memperkuat Skuadron Udara 12 yang berbasis di Pekanbaru. Kehadiran Rafale diharapkan mendongkrak kemampuan tempur matra udara secara signifikan mengingat kemampuannya melakukan berbagai misi dalam satu penerbangan.

Adapun mengenai sisa pesawat dari total kontrak 42 unit, menurut Rico, akan didatangkan secara bertahap. Hal ini menyesuaikan dengan jadwal dalam kontrak serta kesiapan teknis, baik dari sisi produsen maupun infrastruktur pendukung di Tanah Air.

Berbicara tentang Rafale berikutnya, telah beredar foto Rafale dengan kursi tunggal bernomor ekor T-0317. Sebagaimana diketahui, tiga Rafale yang sudah tiba di Indonesia adalah varian berkusi ganda. Dari total 42 unit, Indonesia disebut memesan 26 Rafale varian kursi tunggal dan 16 Rafale varian kursi ganda.

Kapan Rafale berkursi tunggal itu tiba? Kita tunggu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

Cyprianus Anto Saptowalyono