Lonjakan Harga Emas 2024 Akankah Berlanjut pada 2025?

Pembelian emas paling banyak dilakukan oleh bank sentral negara berkembang, meningkat secara signifikan sejak pembekuan aset bank sentral Rusia pada tahun 2022.

16 Nov 2024 12:04 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

Emas menjadi komoditas paling bersinar di tahun 2024. Perkembangan harganya lebih moncer dari produk komoditas lainnya, seperti tembaga, minyak kelapa sawit, atau minyak mentah, yang cenderung bergerak naik di tengah ramainya gejolak politik dan ekonomi global tahun ini.

Harga emas dunia pada pertengahan November senilai 2.567 dollar AS per troy ons. Dibandingkan dengan harga periode sama tahun lalu yang sebesar 1.967 dollar AS per troy ons, pertumbuhan harga emas sudah mencapai sekitar 30 persen. Tren ini melampaui kenaikan pada 2023 sebesar 13 persen secara tahunan dan rata-rata kenaikan harga 5 tahun terakhir yang hanya 11,5 persen secara tahunan.

Fenomena keemasan emas pada tahun ini, menurut penelitian perusahaan layanan keuangan internasional, Goldman Sachs, disebabkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian ekonomi dan politik beberapa tahun terakhir. Adanya konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina, Israel dan Palestina, perlambatan ekonomi global karena inflasi pascapandemi Covid-19, dan tahun politik di 2024 berisiko tinggi pada keuangan banyak negara.

Harga emas dunia antara tahun 2021-2024 mengalami kenaikan drastis karena meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan politik global.

Situasi itu membuat bank sentral meningkatkan pembelian emas. World Gold Council mencatat, permintaan emas dari bank sentral di banyak negara melonjak pada 2022 sebanyak 1.081 ton emas, naik dari hanya 450 ton emas di 2021. Kebutuhan ini naik drastis dalam 14 tahun terakhir.

Lonjakan pembelian emas hanya signifikan pada bank sentral daripada untuk fabrikasi perhiasan, teknologi, dan investasi. Ketiga kebutuhan tersebut cenderung turun tiga tahun terakhir. Sementara itu, permintaan emas oleh bank sentral terus berlanjut hingga tahun ini. Sampai tiga triwulan di 2024, bank sentral telah menyetok hampir 700 ton emas.

Selain faktor ketidakpastian global, permintaan emas yang tinggi oleh bank sentral turut mengakibatkan lonjakan harga emas, yang sudah tinggi pada tahun-tahun terjadinya pandemi Covid-19. Harga emas di London Bullion Market Association (LBMA) pada tahun 2022 sebesar 1.800 dollar AS per troy ons. Lalu, setahun kemudian tumbuh jadi 1.940 dollar AS per troy ons dan kini menyentuh lebih dari 2.500 dollar AS per troy ons.

”Pembelian emas paling banyak dilakukan oleh bank sentral pasar (negara) berkembang. Ini meningkat secara signifikan sejak pembekuan aset bank sentral Rusia pada tahun 2022, menyusul invasi Rusia ke Ukraina,” kata Peneliti Goldman Sachs Research, Lina Thomas, pada laporan penelitian timnya, 29 Oktober 2024.

Ilustrasi - Pengunjung melihat tiruan emas batangan di ruangan khusus Museum Bank Indonesia di Jakarta, Sabtu (7/1). Di museum ini pengunjung dapat belajar sejarah tentang uang dan kebijakan moneter Indonesia dari zaman kolonial hingga saat ini. Kompas/Iwan Setiyawan (SET) 07-01-2017

Thomas juga menunjukkan bahwa bank sentral di pasar maju cenderung memiliki kepemilikan emas yang relatif tinggi sebagai bagian dari cadangan. Misalnya, AS, Perancis, Jerman, dan Italia memiliki kepemilikan emas yang mencapai 70 persen dari cadangan mereka.

Sebaliknya, negara-negara pasar berkembang memiliki bagian yang lebih kecil. Tiongkok, misalnya, melaporkan memiliki 5 persen dari cadangannya dalam bentuk logam. Jika dilihat dari sisi itu, beberapa bank sentral di pasar berkembang mengejar ketertinggalan dari bank sentral di negara maju.

Thomas menyebut, para pembuat kebijakan juga tampak khawatir tentang keberlanjutan utang AS yang memiliki pinjaman sekitar 35 triliun dollar AS, setara dengan 124 persen dari PDB negara tersebut. Banyak bank sentral memiliki sebagian besar cadangan mereka dalam bentuk obligasi negara AS. Para pembuat kebijakan mungkin semakin khawatir dengan risiko fiskal di AS bagi negara mereka.

Quote

Investor jangka panjang sekarang tertarik untuk memegang emas karena suku bunga lebih rendah.

Secara umum, investor juga ramai membeli emas saat mencermati pemilihan presiden AS, yang diikuti dan telah dimenangkan kembali oleh mantan Presiden AS, Donald Trump. Trump selama ini dikenal akan kebijakan yang mengakibatkan perang dagang dengan China. Ia juga cenderung ingin mengontrol bank sentral AS, The Federal Reserve, agar menetapkan standar inflasi lebih tinggi dari 2 persen.

”Dengan situasi tersebut, emas dapat menawarkan manfaat lindung nilai terhadap potensi guncangan geopolitik, termasuk potensi peningkatan ketegangan perdagangan, risiko subordinasi Federal Reserve, dan ketakutan utang,” kata Thomas.

Tembus 3.000 dollar AS

Bagaimana harga emas pada 2025? Harga emas diperkirakan melanjutkan peningkatan meski kemungkinannya kecil bisa melampaui pertumbuhan pada 2024.

Goldman Sachs memprediksi, logam mulia itu diperkirakan akan naik hingga 3.000 dollar AS per troy ounce pada akhir 2025. Kenaikan harga di level itu diperkirakan membuat pertumbuhan harga tahunan 20 persen.

Thomas menyampaikan, risetnya juga menemukan, pergerakan harga emas mengikuti hukum lama, yakni terhubungnya inflasi dengan harga emas, tidak terjadi pada tahun 2017-2022.

Emas biasanya diperdagangkan sesuai dengan suku bunga. Sebagai aset yang tidak menawarkan imbal hasil, emas biasanya menjadi kurang menarik bagi investor saat suku bunga lebih tinggi dan cenderung lebih diinginkan saat suku bunga turun.

Sejak dua tahun lalu, hukum ini kembali berlaku karena pembelian besar oleh bank sentral. Kenaikan harga emas juga akan menyesuaikan penurunan suku bunga oleh bank sentral, dalam menanggapi redamnya inflasi, yang sudah dimulai pertengahan tahun ini dan diproyeksikan berlanjut hingga 2026.

Pegawai Toko Emas Bintang Timur di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, sedang memberi label harga pada kalung emas yang dipajang, Jumat (20/10/2023). Pelemahan rupiah dan suhu politik di Timur Tengah yang memanas membuat harga emas naik. harga emas batangan Antam tembus Rp 1,12 juga per gram, Jumat (20/10/2023). Nilai ini mencapai rekor tertinggi sepanjang 2023.

Dengan tren ini, emas menjadi produk investasi yang tetap layak dibeli. ”Investor jangka panjang sekarang tertarik untuk memegang emas karena suku bunga lebih rendah. Pada saat yang sama, kepemilikan bank sentral mungkin masih akan menumpuk,” kata Thomas.

Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan, ditemui di Jakarta, menjelaskan, pergerakan harga emas masih bisa berfluktuasi dengan risiko ekonomi dan politik global. Harga emas tahun ini memang sudah menyentuh rekor tertingginya di 2.720 dollar AS per troy ons pada akhir Oktober. Hal ini juga terbaca dari data inflasi Indonesia bulan Oktober. Produk emas menjadi salah satu penyumbang inflasi yang membalikkan tren deflasi lima bulan terakhir.

Namun, harga emas belakangan ini kembali turun karena pelaku pasar melihat kemenangan Trump memberi sentimen positif di pasar saham. Investor pun beralih ke saham dan meninggalkan emas sehingga menjatuhkan harganya. Di sisi lain, momentum ini dinilai baik untuk investor membeli emas.

Pria yang biasa disapa Darma itu juga memprediksi, harga emas masih akan bertumbuh di tahun 2025. Namun, pertumbuhan harga itu menurut dia akan lebih moderat dari tahun ini. Ketidakpastian ekonomi dan politik global masih akan jadi bahan bakar kenaikan harga emas.

”Harga emas ke depan, walaupun kenaikannya tidak 30 persen, at least mungkin (tumbuh) di atas dari 5-7 persen,” ujarnya.

Di Indonesia, pembelian emas yang sudah lebih terjangkau oleh masyarakat juga dinilai akan meningkatkan permintaan emas. Produk seperti emas digital kini menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin memiliki emas dengan cara mencicil di harga murah. Selain itu, kata Darma, masyarakat Indonesia juga mulai berani membeli emas fisik daripada emas dalam bentuk perhiasan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Aufrida Wismi Warastri
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra