KUALIFIKASI PIALA dUNIA ZONA EROPA

Kegagalan Menembus Piala Dunia, Akhir Era Emas Wales

Dua kali beruntun, timnas Wales gagal lolos ke turnamen besar. Sejalan dengan kerinduan kepada sosok pemain bintang seperti Bale, era emas mereka tampak sudah lewat.

27 Mar 2026 17:48 WIB · Olahraga

AP/PA/David Davies

Oleh Kelvin Hianusa

CARDIFF, JUMAT — Era emas tim nasional Wales sudah benar-benar berakhir. Berbagai rentetan kejadian pahit mulai menghapus memori indah tim kuda hitam itu. Salah satu dan yang baru terjadi adalah kegagalan mereka dalam perebutan tiket Piala Dunia 2026 di depan para pendukung sendiri.

Perjalanan Wales harus terhenti dengan mengenaskan di semifinal playoff Jalur B kualifikasi zona Eropa. Tim asuhan Craig Bellamy itu disingkirkan Bosnia-Herzegovina dalam drama adu penalti di Stadion Cardiff City, Wales, Jumat (27/3/2026) dini hari WIB.

Wales hanya perlu bertahan empat menit di sisa waktu normal dan beberapa menit injury time untuk lolos ke final. Mereka sudah unggul 1-0 lewat gol pemain sayap Daniel James di awal paruh kedua. Namun, penyerang veteran lawan Edin Dzeko berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-86.

Laga berlanjut ke babak tambahan, dan ditentukan lewat adu penalti. Di depan publik sendiri, Wales takluk 2-4 dalam adu tos-tosan. Dua pemain Liga Inggris, Brennan Johnson (Crystal Palace) dan Neco Williams (Nottingham Forest), gagal mengeksekusi penalti. ”Rasanya menyakitkan,” kata Bellamy.

Wales goalkeeper Karl Darlow, right, fails to prevent Bosnia and Herzegovina's Kerim Alajbegovic from scoring the winning penalty during a shootout in the World Cup playoff semifinal soccer match between Wales and Bosnia and Herzegovina in Cardiff, Wales, Thursday, March 26, 2026. (Nick Potts/PA via AP)

Wales pun gagal lolos dua kali beruntun ke putaran final turnamen besar. Sebelumnya mereka tidak masuk Piala Eropa 2024 karena kalah adu penalti juga dari Polandia di final playoff. Tren kegagalan itu kembali terjadi setelah terakhir kali pada 2014, tepat sebelum era emas ”Si Naga” mulai bersemi.

Di era emas yang dipimpin pemain legendaris Gareth Bale, Wales berhasil mencapai berbagai prestasi terbaik dalam sejarah negara mereka. Mulai dari mencapai peringkat ketiga di Piala Eropa 2016 sampai berhasil lolos ke Piala Dunia lagi pada 2022 setelah absen selama 64 tahun.

”Kembali tampil di Piala Dunia adalah target utama kami. Untuk tahu kami gagal, dan melihat kekecewaan para pemain, itu semakin menyakitkan. Namun, matahari akan tetap terbit, pertanyaan akan muncul, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana kami bisa lebih baik?” kata Bellamy yang juga mantan pemain timnas Wales.

Wales sebenarnya tampil mengesankan di babak semifinal. Mereka mampu mendominasi Bosnia dengan permainan ofensif nan agresif. Itu bisa terlihat dari statistik. James dan rekan-rekan unggul dalam jumlah penguasaan bola, 61,9 persen, ataupun percobaan tembakan, 19-14.

Gaya main itu, di era Bellamy, jauh berbeda dengan era sebelumnya. Saat Bale memimpin tim ke semifinal Piala Eropa, Wales bermain dengan gaya pragmatis dan sangat disiplin. Mereka cenderung lebih pasif bertahan, lalu mengandalkan serangan balik kilat yang dimotori Bale.

Wales manager Craig Bellamy gestures during the World Cup playoff semifinal soccer match between Wales and Bosnia and Herzegovina in Cardiff, Wales, Thursday, March 26, 2026. (David Davies/PA via AP)

Wales tampil atraktif karena punya para pemain berkualitas. Sembilan pemain mereka berasal dari Liga Inggris yang digadang-gadang sebagai yang terbaik sedunia. Salah satunya gelandang Harry Wilson yang sedang menjalani musim terbaiknya di Fulham, sudah menciptakan 10 gol dan 6 asis di liga.

Peran seorang pelatih juga tidak kalah penting. Wales memiliki Bellamy yang sudah malang melintang di klub-klub besar Inggris, seperti Liverpool dan Manchester City, sebagai pemain. Dia menimba ilmu dari beberapa pelatih kelas dunia, antara lain Rafael Benitez dan Kenny Dalglish.

Masalahnya, ”Si Naga” tidak punya lagi sosok bintang besar seperti Bale dan Aaron Ramsey yang terbiasa dengan panggung megah. Ketika era emas Wales, Bale bermain untuk Real Madrid dan Ramsey untuk Arsenal. Kedua pemain itu tidak hanya memimpin tim, tetapi juga mampu menggenjot rasa percaya di dalam diri rekan-rekannya.

Di laga-laga eliminasi yang penuh pertaruhan, sosok besar dan berpengalaman akan sangat berpengaruh dari sisi teknis ataupun mentalitas. Seperti di Stadion Cardiff City, sosok pembedanya adalah Dzeko. Bintang 40 tahun itu memang sudah jauh menurun dan mendekati waktu pensiun, tetapi skuad Bosnia seolah hidup kembali setelah dia masuk dari bangku cadangan.

Semua pemain Wales di Liga Inggris berasal dari klub-klub medioker. Pencetak gol mereka, James, bahkan hanya berstatus pemain pelapis di klub promosi Leeds United. James baru dipercaya tampil empat kali sebagai pemain mula di liga, sisanya hanya diturunkan dalam situasi darurat pada pengujung laga.

Bosnia and Herzegovina's Edin Dzeko, top right, scores their side's first goal during the World Cup playoff semifinal soccer match between Wales and Bosnia and Herzegovina in Cardiff, Wales, Thursday, March 26, 2026. (Nick Potts/PA via AP)

Jika berkaca dari sejarah, Wales semestinya membutuhkan nama-nama besar untuk kembali ke era emas. Mereka sudah pernah menghasilkan bintang dunia, mulai dari Ian Rush, Ryan Giggs, sampai Bale, dan Ramsey. Wales hanya perlu mengulang rumus tersebut di masa depan.

Meskipun begitu, menurut James, era emas Wales belum berakhir. Mereka hanya kurang beruntung di dua turnamen terakhir. ”Kredit kepada tim ini karena kami mampu mendominasi laga sampai babak tambahan, tetapi pertandingan harus ditentukan dengan adu penalti, begitulah adanya,” katanya. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji