Situasi ekonomi yang sulit diprediksi membuat sejumlah anak muda Jakarta berkeinginan pindah bekerja ke luar negeri. Namun, kehati-hatian tetap yang paling utama.
05 Apr 2025 13:47 WIB · Metro
Bagai buah simalakama. Begitulah situasi anak muda Indonesia saat ini. Galau dalam pilihan bekerja di Jakarta dengan pendapatan minim ataukah ”move on” hijrah ke negeri orang. Jika salah mengambil keputusan, nyawa jadi taruhannya.
Beragam kejadian mengerikan berkelindan dengan kisah sukses insan yang bekerja di luar negeri, terkadang menjadi pertimbangan sebelum menggarap ”ladang nafkah”. Namun, situasi negara yang tidak menentu membulatkan tekad anak muda untuk tetap hijrah ke negeri orang.
Seperti yang dialami Dyah Chandra Kirana (29), pramugari yang memutuskan untuk ”pindah pesawat” dari maskapai domestik ke maskapai luar negeri. Ia putuskan hijrah ke Manama, ibu kota Bahrain, setelah melihat situasi Indonesia yang tidak menentu.
”Kalau hanya bekerja di Indonesia, sulit bisa berinvestasi,” kata Chandra, Sabtu (5/4/2025).
Keputusan ini dia ambil karena tergiur pendapatan berlipat. ”Tawaran gaji di Bahrain tiga kali lebih besar ketimbang di Jakarta,” ujar Chandra.
Memang ia mendengar sejumlah berita tentang beberapa pekerja Indonesia yang telantar atau bahkan meregang nyawa saat bekerja di negeri orang. Namun, hal itu tidak menyurutkan niatnya untuk tetap bekerja di luar negeri.
”Saya lebih takut jika tidak memiliki tabungan untuk masa depan,” ucap Chandra.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk, dia pun bertanya kepada pihak perusahaan tentang benefit yang dapat dia peroleh. Selain gaji, dia juga mendapat sejumlah tunjangan lain, seperti tempat tinggal, bahkan biaya untuk penatu.
”Selain itu, saya juga berkesempatan bisa pulang ke Indonesia setiap tahun karena ada cuti selama satu bulan per tahun,” tutur Chandra.
Namun, yang paling penting adalah dirinya memiliki kesempatan menginvestasikan sebagian penghasilannya untuk tabungan di hari tua.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/08/b95b96b5-0683-4d71-9c78-678aa9e86d4e_jpg.jpg)
Pendapat berbeda diutarakan Glenn Wuisan (27) yang pernah merasakan pedihnya mengecap pekerjaan di negeri orang. Sebelum bekerja di negeri orang, lanjutnya, perlu persiapan matang dan harus teliti dalam membaca perjanjian.
Glenn berkisah saat dirinya bekerja sebagai koki di salah satu hotel di Oman tahun 2021. Saat itu, dia memang tergiur untuk bekerja di sana lantaran gajinya tinggi. ”Penawaran gajinya bisa sampai dua digit. Jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia,” katanya.
Hanya saja, saat sampai di Oman, dirinya merasa tidak betah karena situasi kerja yang tidak sesuai ekspektasi. ”Saya diminta bekerja hingga 18 jam per hari,” ujar Glenn.
Memang kondisi saat itu mengharuskan seluruh pegawai bekerja lebih keras karena hotel sedang kekurangan pekerja lantaran dilanda pandemi Covid-19.
Penawaran gajinya bisa sampai dua digit. Jauh lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.
Selain itu, Glenn merasa tidak cocok dengan kondisi cuaca di negara itu yang lebih kering dibandingkan iklim di Indonesia. Akibatnya, setiap hari, dia selalu mimisan. ”Baru bekerja tiga bulan, berat badan saya turun hampir 20 kilogram,” ujarnya.
Ia pun memilih pulang ke Indonesia dan berkelana ke sejumlah hotel di Jakarta. Kini, dia dipercaya menjadi koki di salah satu hotel bintang lima di Jakarta. ”Apa pun yang terjadi, itu menjadi pelajaran hidup buat saya,” kata Glenn.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/28/68df243d75e701309d1148f9770b12f9-gaia_hotel.jpeg)
Berbeda dengan Glenn yang pulang ke Indonesia dengan selamat, Soleh Darmawan (24), pemuda dari Jakasampurna, Bekasi, Jawa Barat, pulang dalam kondisi tak bernyawa. Dia tewas saat bekerja di Kamboja.
Seorang sahabat bernama Seli menawari Soleh pekerjaan di sebuah restoran dengan gaji puluhan juta rupiah di Thailand. Tawaran itu membuat Soleh rela melepaskan pekerjaan di Jakarta sebagai koki di salah satu hotel di Senayan.
Sang ibu, Diana (42), awalnya khawatir akan keputusan putra sulungnya itu. Karena ia mendengar adanya praktik perdagangan organ di Thailand.
Namun, Soleh tetap meyakinkan orangtuanya demi penghidupan yang lebih layak untuk adik-adiknya.
Dia ingin sekali membantu sang ayah, Saifullah (47), untuk membiayai kelima adiknya. Saifullah hanyalah buruh bangunan dan pendapatannya tidak tetap.
”Adik kelima Soleh tidak sekolah karena tidak ada biaya. Soleh ingin bekerja di luar negeri dan menjanjikan adiknya itu bisa sekolah kembali tahun depan,” kata Diana.
Saifullah mengakui jika selama ini, dirinya kesulitan membiayai keenam anaknya. ”Soleh pun bisa berkuliah karena ada bantuan dari sebuah yayasan,” katanya.
Ingin mengabdi untuk keluarga, Soleh pun bertekad ke luar negeri dengan kemampuan tata boga yang dimilikinya. Namun, takdir berkata lain, Soleh pulang tak bernyawa. Setelah kematiannya, barulah terkuak bahwa Soleh bekerja sebagai operator judi online di Kamboja.
Kepergian Soleh memang membawa duka, tetapi dirinya tak ingin terlarut dalam kesedihan karena ada lima anak lagi yang harus disekolahkan.
Diana berharap kejadian ini tidak menimpa anak muda lain, terutama yang tinggal dalam keterbatasan. ”Jangan ada korban lain lagi. Cukup Soleh saja,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/28/d76acba3bbbcb1785cdabf7e902cb8b3-20250328RAM_Soleh_Darmawan.jpg)
Kekhawatiran itu mengemuka lantaran di desanya sudah ada dua pemuda yang dikirim ke Kamboja untuk menjadi admin judi online karena tawaran dari sang penyalur.
Dari berbagai kejadian ini, anak muda di Jakarta dihadapkan dengan beragam pilihan sulit: apakah tetap bertahan di Jakarta ataukah bekerja di luar negeri. Apalagi saat ini, situasi ekonomi dalam negeri sulit diprediksi.
Jika mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jakarta fluktuatif. Pada tahun 2024, TPT berada di angka 6,21 persen, di bawah target sebesar 7,91 persen. Tahun 2023, TPT ada di angka 6,53 persen yang berhasil di bawah target 8,21 persen.
Namun, dalam dokumen Rencana Pembangunan Daerah Jakarta 2023-2026, TPT diprediksi naik ke 7,31 persen. Fluktuasi ini menunjukkan resiliensi tenaga kerja yang belum baik sehingga dibutuhkan peningkatan kemampuan menghadapi perubahan pasar di masa depan.
Pemerintah pun terus berusaha membuka lapangan kerja agar anak muda tetap tertarik berkarier di Jakarta. Salah satu caranya melalui acara bursa kerja yang menghubungkan pencari kerja dengan perusahaan.
Dalam sambutannya membuka Job Fair Wilayah Jakarta Timur, Jakarta Timur, 26 Februari 2025, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyebut, pihaknya ingin acara bursa kerja bisa hadir menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Agar lebih merata, Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Energi (TKTE) Jakarta diminta menggelar acara serupa di tingkat kecamatan.
Selama ini, ’job fair’ enam bulan sekali dan tempatnya juga jauh. Biaya ke sana jadi besar.
Rano menambahkan, selama ini, job fair lebih banyak dilakukan di pusat kota, salah satu yang paling sering di Gedung Small and Medium Enterprises and Cooperatives (Smesco), Pancoran, Jakarta Selatan. Itu pun biasanya hanya enam bulan sekali.
Kehadiran bursa kerja yang merata membuat masyarakat bisa mengakses acara ini dengan murah. Adapun kegiatan job fair wilayah Jakarta Timur ini diikuti 37 perusahaan dengan target 1.900 lapangan kerja.
”Selama ini, job fair enam bulan sekali dan tempatnya juga jauh. Biaya ke sana jadi besar. Saya ingin potong itu. Kita adakan di kecamatan-kecamatan karena wilayah industri ada di sekitar itu,” ucap Rano.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/24/b4e1303d-cf37-45f2-803a-3058fabc0d8d.jpg)
Tidak hanya lewat bursa kerja, pemerintah juga ingin menciptakan lapangan kerja baru bagi warga. Rano menyebut, pemerintah akan membuka sekitar 500.000 lapangan kerja untuk petugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU), pemadam kebakaran, dan petugas kesehatan untuk masyarakat lanjut usia.
Selain itu, masyarakat yang ingin meningkatkan keahlian di berbagai bidang juga diajak mendatangi balai latihan kerja yang ada di setiap wilayah.
”Job fair ini menjadi momentum untuk berbagi informasi pekerjaan yang ada di Indonesia, juga potensi pekerjaan yang ada di luar negeri. Kalau memang ada kendala skill, Pemprov DKI punya balai latihan kerja yang bisa memberikan pelatihan berbagai bidang, termasuk bahasa,” kata Rano.
Pengamat sosial dari Institut Bisnis Muhammadiyah Bekasi, Hamluddin, berpandangan, dalam situasi sulit seperti ini, warga akan mempertimbangkan segala hal untuk mendapatkan penghidupan.
Namun, apa pun pilihannya, pemerintah dan aparat kepolisian bertugas memastikan warganya bekerja secara aman tanpa dibayangi ketakutan. ”Jangan sampai warga merasa tidak aman ketika mencari nafkah,” katanya.
Oleh sebab itu, kolaborasi dengan berbagai pihak dan juga peningkatan kemampuan kepada warga menjadi kunci agar mereka mampu tetap bertahan dengan pilihan yang sudah mereka tentukan sendiri.
Penulis:
Rhama Purna JatiEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari