Perguruan tinggi punya potensi untuk dimanfaatkan mendukung kemajuan bangsa. Kolaborasi dengan pemerintah dan industri perlu dikuatkan untuk mendukung pembangunan.
04 Jan 2025 13:42 WIB · Humaniora
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/04/de67e3a3dcc165537005777e9d0258bd-cropped_image.png)
JAKARTA, KOMPAS — Pendidikan tinggi harus berdampak pada pembangunan nasional dengan memaksimalkan potensi ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi. Namun, sivitas akademika belum maksimal berkarya dan berkolaborasi dengan industri ataupun pemerintah daerah untuk memecahkan masalah di masyarakat.
”Kampus belum maksimal berproses atau berkarya. Mahasiswa juga belum maksimal belajar. Hal ini disebabkan masih banyak hambatan regulasi. Padahal, perguruan tinggi itu entitas yang otonominya tinggi. Karena itulah, pemerintah ingin memastikan investasi pendidikan dan industri harus jalan sama-sama dan dibangun secara baik supaya kehadiran perguruan tinggi memberi dampak baik bagi pembangunan ekonomi,” kata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Satryo Soemantri Brodjonegoro di acara Taklimat Media 2025: Arah dan Kebijakan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta, Jumat (3/1/2025).
Menurut Satryo, Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak produktif. Indonesia masih termasuk dalam negara berpendapatan menengah karena peningkatan ekonominya bukan akibat produksi, melainkan konsumsi.
”Ini harus diubah dengan mendorong industri bernilai tambah tinggi dan basisnya pengembangan sains dan teknologi. Tujuannya supaya bisa bersaing di tingkat global. Untuk itu, perlu sumber daya manusia dan talenta mumpuni serta hasil riset dan pengembangan yang dapat menjadi industri start up atau industri hightech lainnya sehingga pada tahun 2029 Indonesia sudah bisa punya industri yang signifikan,” papar Satryo.
Oleh karena itu, potensi Indonesia yang besar, termasuk jumlah penduduknya yang besar, dapat dimanfaatkan untuk mendorong tumbuhnya industri dalam negeri. Salah satunya, mobil listrik nasional. ”Kalau mau dikomersialkan, harus ada afirmasi dari APBN untuk dapat bersaing. Misalnya, wajib beli mobil listrik nasional untuk mobil dinas kementerian hingga pemerintah daerah,” ujar Satryo.
Kampus belum maksimal berproses atau berkarya. Mahasiswa juga belum maksimal belajar. Hal ini disebabkan masih banyak hambatan regulasi.
Satryo ingin memastikan bahwa Kemendiktisaintek mampu menjadikan pendidikan tinggi sebagai agen pembangunan ekonomi supaya pendidikan tinggi mampu memberikan dampak yang lebih baik bagi masyarakat. Untuk itu, Kemendiktisaintek berperan dalam mencapai swasembada pangan, energi, air, penguatan pendidikan, sains dan teknologi, serta digitalisasi. Selain itu, juga memperkuat kesetaraan jender dan perlindungan hak perempuan, anak, serta penyandang disabilitas.
”Kemendiktisaintek juga berperan dalam pelestarian lingkungan hidup serta melanjutkan hilirisasi dan industrialisasi berbasiskan sumber daya alam dan maritim,” ujar Satryo.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/28/e1505ea88518e57ec614acce5880a231-20241028_093909.jpg)
Sementara itu, Wakil Menteri Diktisaintek Fauzan menegaskan, program-program yang telah disusun Kemendiktisaintek sangat mempertimbangkan aspek keberlanjutan. Karena itu, struktur kementerian perlu disesuaikan, mulai dari staf, sumber daya, hingga lainnya, dalam rangka meningkatkan efektivitas kerja.
”Kebermanfaatan ke masyarakat dalam rangka mendukung Astacita Pak Presiden ini menjadi salah satu prioritas yang menjadi atensi, menjadi perhatian bagi perguruan tinggi,” ujar Fauzan.
Wakil Menteri Diktisaintek Stella Christie memaparkan, Kemendiktisaintek bertugas untuk membangun ekosistem yang mendukung pertumbuhan sains dan teknologi. Sebab, Indonesia memiliki potensi individu yang tersebar di berbagai perguruan tinggi yang sangat mumpuni.
”Kita mempunyai ilmuwan-ilmuwan yang sangat mumpuni, yang sangat pakar pada bidangnya. Saya sudah beruntung bertemu dengan banyak ilmuwan tersebut dan inilah yang perlu kita bangun, yaitu bagaimana kita bisa membangun kondisi yang mendukung pertumbuhan setiap individu tersebut di masing-masing perguruan tinggi yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia,” kata Stella.
Menurut Stella, penting untuk mendorong perguruan tinggi di daerah dengan keunikannya masing-masing, membuat ekosistem yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. ”Jadi, riset lokal di daerah perlu dikembangkan karena akan membawa pertumbuhan ekonomi lokal. Dampak ini bisa terjadi kalau kita pentingkan ekosistem yang mendukung riset di lokal. Ada korelasi jelas antara kualitas riset dan saintek di perguruan tinggi dengan ekonomi di daerah,” tuturnya.
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Nur Adji