Citra alkohol sebagai simbol kedewasaan di mata anak muda berubah selama beberapa tahun terakhir. Alhasil, industri berinovasi untuk mencoba menarik hati mereka.
04 Feb 2025 16:46 WIB · Internasional
Di beberapa negara, rutinitas kehidupan malam mulai berubah. Anak muda memilih menongkrong dan bersenang-senang tanpa minum alkohol. Selain untuk kesehatan dompet, mereka ingin menjaga kesehatan tubuh.
Di Singapura, orang dewasa muda biasanya berkumpul pada malam hari di sepanjang jembatan-jembatan di Clarke Quay. Mereka asyik menenggak minuman keras murah dengan gelas plastik. Setelah itu, mereka lanjut mengunjungi kelab malam yang sudah lama beroperasi, Zouk.
Itu potret di masa lalu. Saat ini, jembatan tersebut sepi. Larangan ketat pemerintah tentang minum alkohol di tempat publik diperparah dengan kedatangan pandemi Covid-19. Bagi Nicolas Tang (23), mahasiswa di Singapore Management University, menjadi dewasa selama pandemi Covid-19 memberi pengalaman yang sangat berbeda dari para seniornya.
”Saya pikir Covid-19 telah menghilangkan kebiasaan para senior mengajak mahasiswa baru dan yunior mereka ke bar dan kelab,” kata Tang kepada The Strait Times edisi Jumat (31/1/2025).
Pengeluaran juga menjadi alasan lain. Tang memperkirakan harus menghabiskan lebih dari 50 dollar AS (sekitar Rp 817.000) jika ia keluar hingga lewat tengah malam setelah kereta terakhir berangkat. Lebih baik uang itu dipakai untuk makan malam dan minum koktail.
Kaum muda juga tidak suka pergi ke bar. ”Itu hanya membuang-buang uang dan waktu. Harga alkohol di bar terlalu mahal dan orang-orang tidak benar-benar tahu cara berdansa. Mereka hanya melompat-lompat dan cenderung benar-benar mengganggu orang lain,” ujar mahasiswa Yale-NUS College, Aamir Bana (26).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/23/1507ae5f-75ff-44d3-836c-e69bf2fcb1f2.jpg)
CNA melaporkan, tren minum-minum juga mulai turun di Korea Selatan. Padahal, alkohol telah menjadi bagian utama dalam keseharian mereka. Penyebabnya, pekerja mulai mengurangi budaya hoesik, yaitu makan dan minum bersama seusai jam kerja. Mereka berhemat gara-gara inflasi.
Sebagian anak muda Korsel, terutama perempuan, takut mabuk karena bisa menjadi sasaran kejahatan seksual. ”Baru-baru ini di berita masih banyak kejahatan terkait alkohol dan saya sudah melihat teman-teman saya berada dalam situasi berbahaya ketika mereka mabuk,” tutur Son Hyeon-seo, Presiden Asosiasi Pengurangan Alkohol di Sahmyook University.
Sebuah asosiasi perdagangan di Korsel mencatat, indeks yang mengukur penjualan di restoran lokal mencapai rekor terendah tahun lalu. Laporan Layanan Pajak Nasional menunjukkan, jumlah tempat karaoke menjadi 25.990 unit per Juli 2024 dari 33.000 unit pada 2017.
Pada Desember 2024, Jun Jung-sook (77), pemilik pub di Seoul, mengeluh tempatnya tidak lagi ramai. Di masa lalu, orang harus mengantre untuk mendapatkan meja agar bisa mengakhiri hari dengan panekuk dan segelas makgeolli, minuman dari fermentasi beras.
”Saya tidak melihat orang mabuk lagi. Dulu jalanan di sini penuh sesak... itu sudah lama berlalu,” kata Jun sembari melirik lorong kosong. Jun telah menyewakan tempat usahanya sejak 2022, tetapi belum ada yang tertarik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/04/8d3e3a6105bbb3b0aa4ae5ea42983f1c-000_36RW2YZ.jpg)
Amerika Serikat turut mencatat penurunan konsumsi alkohol karena banyak faktor, termasuk karena gerakan sober curious. Ruby Warrington, penulis buku Sober Curious (2018), menjelaskan, sober curious adalah aksi orang menyadari efek buruk dari minuman alkohol terhadap kesehatan mental dan fisik mereka.
Sebagian anak muda mengatakan tidak pada minum alkohol demi kesehatan. Emerson Haven (26), pekerja seni di New York City, Amerika Serikat, terkadang minum-minum di acara sosial. Akan tetapi, dia sering kali memilih untuk keluar malam tanpa mengonsumsi alkohol.
”Ada riwayat kecanduan alkohol dalam keluarga. Jadi, saya berhati-hati. Saya tidak pernah minum alkohol jika saya merasa sedang mengalami hari yang buruk, karena saya tidak ingin menciptakan asosiasi itu. Dan, terkadang saya tidak menikmati perasaan mabuk,” kata Haven kepada Time.
Kepada Business Insider, Becca Borowski (25), warga Wisconsin, menuturkan, ia terlalu banyak minum saat kuliah. Saat berusia 22 tahun, ia mabuk berat lalu memutuskan berubah. ”Saya rasa orang menyadari setelah Covid-19 bahwa kita tidak perlu minum untuk bersenang-senang. Saya menyadari, saya tidak begitu menikmati minum, tetapi menikmati kehadiran semua orang,” ujarnya.
Survei oleh Gallup pada 2023 menemukan, kaum dewasa muda AS semakin jarang menikmati alkohol dalam dua dekade terakhir. Orang muda usia 18-34 tahun yang pernah mengonsumsi minuman beralkohol turun menjadi 62 persen selama periode 2021-2023 dari 72 persen selama periode 2001-2003.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/04/d77437cac3cea965b70f0851bad98054-000_36RY8VM.jpg)
”Generasi muda sedikit lebih menghindari risiko. Mereka tidak terlalu fatalistik tentang berbagai hal. Jika generasi yang lebih tua menganut etos ’Saya toh akan mati juga, saya lebih baik merokok’, gen Z menolaknya,” tutur Mary Charlton, profesor epidemiologi dan Direktur Iowa Cancer Registry Universitas Iowa.
Generasi muda pun semakin melek tentang siapa yang akan untung jika mereka mengonsumsi atau kecanduan produk tertentu. Jadi, mereka lebih memilih bersenang-senang dengan hal yang berbeda.
Sybil Marsh, dokter spesialis pengobatan keluarga dan kecanduan, menambahkan, citra alkohol turut bergeser. Alkohol awalnya adalah tanda kedewasaan. Kini, alkohol hanyalah satu dari sekian banyak cara orang dapat bersantai atau menunjukkan kekerenan dan sebagainya.
Taktik pemasaran alkohol jadi terus berkembang mengikuti perubahan nilai tersebut. ”Jika Anda melihat pemasaran alkohol, mereka tidak mengatakan bahwa minum alkohol itu sehat, tetapi minum alkohol dapat menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Berbeda dengan pemasaran yang dilakukan kepada gen X, yang seperti berpesta gila-gilaan,” tutur Marsh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/25/867ab106-51eb-4ab1-929c-807f974484ef_jpg.jpg)
Joshua Pillai, pendiri bersama bar koktail Behind the Green Door di Duxton Road, Singapura, mengakui, bisnisnya harus berinovasi untuk menghadapi perubahan gaya hidup konsumen. Belakangan muncul tren pesta dadakan dan festival mini yang digemari anak muda. Namun, mereka tidak terlalu tertarik minum alkohol untuk bersosialisasi.
”Jika Anda melihat London, banyak tempat yang memiliki menu non-alkohol, dan pesta atau rave yang tidak mabuk merupakan hal yang sangat populer,” ujar Pillai.
Gelombang kemunculan bar-bar sober yang menyajikan minuman non-alkohol juga terjadi di AS. Sebut saja Hekate di New York City, Sans Bar di Austin, dan The Sober Social di Atlanta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/03/16/Alcohol-Free-Bars_95101529_1615887357.jpg)
Sans Bar, misalnya, menyajikan nada colada yang meniru rasa tropis pina colada, menggunakan campuran sirup biru curacao bebas alkohol. Ada pula minuman Burnet lush yang memadukan klorofil, air garam asparagus, sari lemon, dan bahan-bahan botani.
”Kami mengutamakan pengalaman dan koneksi, bukan minumannya. Maksud saya, minumannya luar biasa. Namun, makna utama dari sebuah bar adalah menjadi tempat orang-orang bertemu,” kata Chris Marshall, pemilik Sans Bar, kepada CNN.
Di Korsel, minuman non-alkohol dan rendah kalori semakin populer. Konsumen mencari pelepas dahaga yang menyenangkan, tetapi tetap sehat. Dikutip dari Pulse, menurut pelacak pasar Euromonitor, pasar bir non-alkohol Korsel hanya bernilai 1,3 miliar won pada 2012, tetapi mencapai 41,5 miliar won pada 2021.
Perusahaan-perusahaan bir seperti Oriental Brewery, Tsingtao Brewery, dan HiteJinro memperkenalkan produk bebas alkohol, bir rendah alkohol, dan produk rendah kalori. Minuman semacam ini dulu tak populer karena dianggap kurang memberi efek mabuk. Akan tetapi, sekarang konsumen sudah berubah. (REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Fransisca Romana Ninik W