Di dalam desain besar manajemen talenta nasional, ada target krusial di bidang riset dan inovasi yang harus terwujud pada 2045 atau saat usia kemerdekaan Republik Indonesia tepat satu abad.
04 Des 2024 05:11 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS—Indonesia butuh waktu 79 tahun setelah merdeka untuk punya fondasi manajemen talenta nasional. Bangsa ini kini berkejaran dengan waktu untuk menciptakan talenta-talenta unggul bidang riset dan inovasi. Kerja keras ini diproyeksi baru terlihat saat usia republik ini mencapai satu abad. Akankah kita berhasil?
Fondasi itu baru lahir pada 2024 atau setelah 79 tahun republik ini berdiri dan tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 108 Tahun 2024 tentang Desain Besar Manajemen Talenta Nasional. Salah satu aspek penting dalam peraturan presiden itu, yakni menciptakan sumber daya manusia unggul di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di dalam desain besar itu, ada target krusial di bidang riset dan inovasi yang harus terwujud pada 2045 atau saat usia kemerdekaan Republik Indonesia tepat satu abad. Target dimaksud, yakni Indonesia harus mencapai 4.000 sumber daya manusia per 1 juta penduduk di bidang riset dan inovasi.
Artinya, dari proyeksi 319 juta penduduk pada 2045, diperlukan tambahan 38.000 sumber daya manusia di bidang riset dan inovasi baru per tahun atau sekitar 4 persen dari jumlah lulusan pendidikan tinggi per tahun. Tambahan jumlah lulusan sumber daya manusia di bidang tersebut mendesak karena pada 2021, jumlah sumber daya manusia di bidang riset dan inovasi dengan kualifikasi doktor atau S3 persentasenya baru 19,6 persen.
Keterbatasan jumlah sumber daya manusia di bidang riset dan inovasi menyebabkan daya saing talenta Indonesia tertinggal jauh dari negara lain. Daya saing talenta Indonesia berdasarkan capaian Global Talent Competitiveness Index, pada 2023 sebesar 40,25 dan ada di peringkat ke-80 dari 134 negara.
Talenta Indonesia di bidang riset dan inovasi sesuai Global Innovation Index, pada 2024, ada di posisi ke-54 dari 133 negara dunia. Indonesia masih tertinggal dari negara tetangga, Singapura, Malaysia, dan Thailand yang menempati peringkat ke-4, ke-33, dan ke-41.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/07/cc85b7bf6a02099b6dc07e6555cea526-Rizal.jpg)
Upaya menciptakan serta meningkatkan daya saing talenta unggul, salah satunya sudah dimulai dari Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Lembaga ini berperan mencari dan melahirkan bakat-bakat potensial untuk dikembangkan menjadi talenta unggul.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengakui, manajemen talenta nasional baru dibenahi secara resmi menjelang periode kepresidenan Joko Widodo berakhir melalui Perpres No 103 Tahun 2024. ”Leading-nya justru di KSP (Kantor Staf Kepresidenan) lho,” kata Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti juga mengingatkan, talenta unggul yang menjadi perhatian pemerintah tidak hanya di bidang akademik atau ilmu fisik namun juga dari bidang seni dan olahraga.
Saat ini, pemerintah sedang mencari dan mengidentifikasi talenta-talenta berbakat di satuan pendidikan dasar hingga menengah. Proses itu dilakukan melalui kompetisi, salah satunya kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN).
”Kami benar-benar berangkat dari satuan pendidikan. Kami berangkat dari sekolah karena anak-anak ini asalnya dari sekolah. Ibaratnya kita mau mengembangkan talenta dengan segala peluang di bidang sains, olahraga, akan baik kalau berangkat dari sekolah,” kata Kepala Puspresnas Maria Veronica Irene Herdjiono, Jumat, (22/11/2024), di Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/f841f7e1985fa55e4577af4b18fb6182-20241203_ARS_Alur_Manajemen_Talenta_tahap_mumed.png)
Upaya lain adalah dengan memberi kesempatan ke sekolah atau warga mendaftarkan anak berprestasi ke Puspresnas. Proses pendaftaran bibit-bibit unggul itu lalu dikurasi dan terdata dalam platform Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT).
Sejak adanya pemantauan dan kurasi talenta, kerumunan anak-anak berbakat pelan, tetapi pasti mulai terlihat. Dari data SIMT yang diakses pada Sabtu, (23/11/2024), total peserta didik yang berprestasi di bidang riset dan inovasi jumlahnya mencapai 101.423 orang, disusul seni dan budaya sebanyak 37.033 orang, serta olahraga sebanyak 11.493 orang.
”Berikutnya, kami lakukan pembibitan talenta. Jadi, bagian dari proses anak-anak yang juara OSN, kami bina ikuti Olimpiade internasional, dia dapat prestasi,” ucap Maria.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/aebe8b0f-be69-4dca-8527-61386abf7dcf_jpg.jpg)
Pengembangan talenta juga dilakukan Puspresnas dengan menyiapkan bibit-bibit potensial agar dapat mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri. Salah satunya, yakni melalui Beasiswa Indonesia Maju (BIM) Program Persiapan S-1 Luar Negeri. Program ini sudah berjalan empat tahun dengan jumlah peserta didik berprestasi yang direkrut tiap tahun sebanyak 400 orang.
Pengembangan talenta melalui BIM Program Persiapan S-1 Luar Negeri masih menyisakan ragam persoalan. Masalah terbaru yang muncul, yakni para orangtua siswa peserta BIM Program Persiapan S-1 Luar Negeri angkatan 4 pada 18 November 2024 menggagas petisi daring di laman Change.org. Petisi ini disampaikan untuk bersama-sama menyatukan suara menanyakan keberlanjutan program tersebut kepada Puspresnas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/04/b080619677f64e23fee360518f4c2e66-20241203_H01_ARS_Alur_Manajemen_Talenta_mumed.png)
Petisi itu berlanjut dengan audiensi antara orangtua dan pihak Puspresnas, Jumat (22/11/2024), di Puspresnas, Jakarta. Dalam audiensi itu, pihak Puspresnas memastikan konseling dan pembinaan untuk peserta BIM Program Persiapan S-1 Luar Negeri tetap berlanjut.
Isu lain yang masih jadi pekerjaan rumah, yakni mengakomodasi anak-anak berprestasi, termasuk mereka yang mengharumkan nama bangsa di tingkat internasional agar bisa terus mengakses pendidikan setinggi mungkin. Dari temuan Kompas, setidaknya ada dua peserta didik yang pernah mengikuti Olimpiade Fisika Internasional, tetapi gagal seleksi BIM.
Anak-anak ini akhirnya gagal menempuh pendidikan di sejumlah universitas top di Eropa dan kembali melanjutkan kuliah di Singapura dengan biaya sendiri. Ada juga yang berkuliah dengan memanfaatkan program subsidi Pemerintah Singapura dan ada kewajiban bekerja di negeri itu selama tiga tahun setelah lulus.
”Justru itu yang kadang kami sayangkan. Itu Beasiswa dari luar negeri kadang lebih mudah prosesnya dibandingkan dari dalam negeri,” kata Ketua Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) Hendra Kwee.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/01/7249f106-10d4-4941-a6d2-7cd4d5d317f0_jpg.jpg)
Upaya mengembangkan talenta potensial di bidang riset pun kerap terkendala lantaran ekosistem riset di dalam negeri belum memadai. Ada putra-putri terbaik yang sebelumnya menempuh pendidikan magister dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di luar negeri dan fokus di bidang riset bahkan harus menganggur saat kembali ke Tanah Air.
“Saya sudah melamar kerja lebih dari 100 perusahaan di Indonesia. Tetapi, belum ada satu pun perusahaan yang panggil,” kata Velisia (26), (bukan nama sebenarnya).
Perempuan yang menempuh pendidikan magister dan fokus pada bidang riset kesehatan mental itu sudah menganggur sejak menyelesaikan studi S-2 di salah satu universitas terkemuka di Inggris pada Januari 2024. Dia kini pun meragukan disiplin ilmunya karena merasa kalau berpendidikan tinggi dan fokus pada riset rupanya belum dilirik pasar tenaga kerja di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/30/40e364c8-06c0-4e86-a439-921179a47fba_jpg.jpg)
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko, mengatakan, banyak putra-putra terbaik di bidang riset yang melempem saat kembali ke Tanah Air. Hal ini terjadi karena sistem yang mendukung para peneliti untuk berkarya di dalam negeri belum terbentuk.
”Kenapa kalau anak Indonesia di luar negeri kelihatan bagus, begitu balik ke negaranya, hancur semua? Bagus atau tidak itu bukan tergantung individu. Individu tentu besar peranannya, tetapi harus ada supporting system,” kata Tri.
Rendahnya sistem pendukung bagi periset menyebabkan periset-periset yang awalnya belajar atau berkiprah di luar negeri, saat kembali ke Tanah Air malah tak bisa berkutik. Situasi ini menyebabkan bangsa ini tak mampu mempertahankan sumber daya manusia yang unggul.
Padahal, keberadaan talenta-talenta unggul sangat dibutuhkan sebagai panutan atau champion. Artinya, dengan adanya talenta unggul sebagai mentor yang tersebar di berbagai sektor dengan jumlah yang cukup, mereka bakal menjadi lokomotif penggerak kemajuan suatu bangsa di setiap bidang yang mereka geluti.
Handoko juga mengatakan, pekerjaan rumah penting bagi pemerintah dalam isu ini adalah mencetak talenta-talenta unggul di bidang STEM (science, technology, engineering, mathematics) atau sains, teknologi, rekayasa, dan matematika. Hal itu bukan berarti meremehkan pengembangan talenta unggul di bidang keilmuan lainnya. Namun, pertumbuhan ekonomi yang melibatkan inovasi yang kuat suatu negara, menurut dia, memang banyak bertumpu pada hard science atau ilmu alam atau fisik.
Penulis:
Stefanus Ato, Insan Alfajri, Melati Mewangi, Pandu Wiyoga, Sarie FebrianeEditor:
Sarie Febriane, Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase