Kejuaraan Dunia Senam Artistik, Pertaruhan Wajah Indonesia

Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 krusial untuk mengembalikan kepercayaan dunia luar. Terutama jika Indonesia bermimpi jadi tuan rumah Piala Dunia atau Olimpiade.

29 Sep 2025 19:04 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa, rebiyyah salasah

JAKARTA, KOMPAS — Kurang dari sebulan, Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 akan digelar di Indonesia untuk pertama kali. Kesempatan langka ini tak hanya menjadi panggung unjuk gigi pesenam Tanah Air, tetapi juga momen pembuktian bahwa Indonesia masih layak jadi tuan rumah ajang olahraga level dunia.

Kejuaraan yang diikuti 80 negara itu akan berlangsung di Stadion Indonesia Arena, Jakarta, 19-25 Oktober. Penyelenggaraan ini merupakan sejarah baru karena Indonesia untuk pertama kali menjadi tuan rumah. Indonesia juga menjadi negara Asia Tenggara pertama yang menggelar kejuaraan tersebut.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari, dalam kunjungan ke Menara Kompas, Senin (29/9/2025), mengatakan, ajang itu menjadi pertaruhan wajah olahraga Indonesia. Jika penyelenggaraan berlangsung sukses, Indonesia akan mendapatkan kepercayaan lagi pada masa depan.

”Kesempatan kita ada di Kejuaraan Dunia Senam untuk kembali membuktikan kepada masyarakat dunia, kita ini Indonesia, kita ini negara besar. Mudah-mudahan, dengan sama-sama menyukseskan ajang itu, nantinya lebih banyak lagi kejuaraan dunia di Indonesia,” ucap Okto.

Indonesia memang terbukti mampu menyelenggarakan ajang olahraga internasional di level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Dari ajang multicabang, seperti Asian Games 2018 sampai ajang tunggal Piala Dunia FIBA 2023 dan Piala Dunia FIFA U-17 2023, sukses digelar.

Di sisi lain, Indonesia mulai diragukan karena gagal menggelar ajang Piala Dunia U-20 2023 dan World Beach Games 2023. Sebagai negara yang bermimpi untuk menjadi tuan rumah Olimpiade dan Piala Dunia Sepak Bola, pembatalan dua ajang tersebut adalah kemunduran besar.

Quote

Olahraga jangan sampai diacak-acak dengan kepentingan-kepentingan yang non-olahraga. Sebab, kita tahu semangat olahraga dalam mendapatkan prestasi itu butuh proses, tidak serta-merta.

Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia Raja Sapta Oktohari (kiri) berbincang dengan Pemimpin Redaksi Kompas/Kompas.id Haryo Damardono dalam kunjungan ke Kantor Redaksi Kompas di Jakarta, Senin (29/9/2025). Selain untuk mempererat silaturahmi, kunjungan ini juga untuk berdiskusi tentang berbagai macam permasalahan olahraga di Indonesia.

Kompas/Wisnu widiantoro
29-09-2025

”Jadi, kita merasakan betul bagaimana kekecewaan saat bidding Olimpiade 2032, ternyata diberikan kepada Brisbane. Setelah itu, pada saat kita diberikan kepercayaan (World Cup) U-20 dan World Beach Games, ternyata tidak bisa dilaksanakan karena hal-hal terkait nonteknis,” jelas Okto.

KOI sudah memiliki cetak biru untuk mengakselerasi olahraga Tanah Air. Tujuan utama saat ini adalah mengincar posisi tuan rumah Olimpiade 2036. Namun, sebelum itu, mereka akan terlebih dulu mencari batu loncatan dengan mengajukan diri sebagai tuan rumah Olympic Youth Games 2030.

Apabila Kejuaraan Dunia Senam berjalan lancar, peluang untuk mendapatkan hak tuan rumah Olympic Youth Games pasti meningkat. ”Cuma untuk mendapatkan itu, butuh dukungan dari semua elemen masyarakat karena olahraga, kan, selalu menjadi alat pemersatu,” ujar Okto.

”Olahraga jangan sampai diacak-acak dengan kepentingan-kepentingan yang non-olahraga. Sebab, kita tahu semangat olahraga dalam mendapatkan prestasi itu butuh proses, tidak serta-merta. Kalau di tempat lain, mungkin bisa langsung serta-merta, bisa langsung jadi ini,” lanjut mantan ketua panitia penyelenggara Asian Para Games 2018 itu.

Indonesia tidak bisa bersantai. Sebab, negara-negara lain sudah sangat serius untuk memperebutkan status tuan rumah ajang olahraga. Di tahun ini, Singapura sudah berhasil menggelar Kejuaraan Dunia Akuatik 2025, sementara Rwanda menghelat Kejuaraan Dunia Balap Sepeda 2025.

Bagi dunia senam Tanah Air, ajang tahunan itu juga sangat penting untuk melanjutkan momentum positif. Seperti diketahui, Indonesia baru saja menciptakan sejarah dengan mengirimkan wakil untuk pertama kali di Olimpiade Paris 2024, yaitu Rifda Irfanaluthfi.

Pesenam Indonesia Rifda Irfanaluthfi (tengah) didampingi pelatihnya Eva Novalina Butar Butar saat tampil di Stadion Bercy Arena, Paris, pada Minggu (28/7/2024). Rifda menjalani debut di Olimpiade Paris 2024 dengan kondisi cedera di lutut kanan. Walaupun tidak bisa tampil maksimal, Rifda sukses menjadi pesenam pertama asal Indonesia yang tampil di Olimpiade.

Sayangnya, Rifda harus pensiun sepulang dari Olimpiade karena masalah cedera dan faktor usia. Kejuaraan dunia pun menjadi kesempatan bagi pesenam Indonesia lain untuk meneruskan jejak Rifda. Ajang itu juga bisa menjadikan senam lebih dikenal masyarakat agar memotivasi kemunculan pesenam baru.

Kabar gembira datang dari Piala Pharaoh 2025 di Kairo, Mesir, pekan lalu. Pesenam putri Alarice Mallica meraih emas dari nomor lantai. Alarice merupakan salah satu pesenam yang akan turun di kejuaraan dunia. ”Memang saat ini (sektor) putri lagi berjuang, baru mau mulai bangkit lagi,” kata pelatih tim senam putri Indonesia, Eva Novalina Butar Butar.

Di sisi lain, kejuaraan dunia nanti juga akan menjadi kesempatan terbaik untuk meneruskan spirit mendiang pesenam putra nasional Naufal Takdir Al Bari. Hanya beberapa pekan sebelum tampil di ajang terbesar itu, Naufal meninggal dunia karena mengalami kecelakaan latihan di Rusia.

”Jangan sia-siakan kepergian Naufal. Namun, sama-sama dengan semangat yang dilakukan oleh Naufal, kita akan membangkitkan prestasi olahraga khususnya di gimnastik ke kancah dunia, dimulai dari Kejuaraan Dunia Senam di Indonesia nanti,” terang Okto.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa, rebiyyah salasah
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto