TAJUK RENCANA

Kejutan Harga BBM

Ini bukan ”April Mop”. Pada hari Rabu (1/4/2026), harga bahan bakar minyak di SPBU Pertamina sungguh tidak naik. Realitas ini di luar dugaan, sebuah kejutan.

02 Apr 2026 05:30 WIB · Tajuk Rencana

Kompas/Bahana Patria Gupta

Oleh Redaksi

Lebih mengejutkan lagi, berdasarkan pantauan lapangan, di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum (SPBU) swasta, seperti BP, harga produk BP 92 hanya Rp 12.390 per liter, selisih sedikit dengan harga Pertamax Rp 12.300 per liter. Adapun harga BP Ultimate Diesel Rp 14.620 per liter, dengan pembanding harga Pertamax Dex Rp 14.200 per liter.

Sejak Selasa siang, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi sebenarnya telah menegaskan bahwa pemerintah tidak menaikkan harga BBM. Pemerintah juga menjamin ketersediaan stok energi nasional. Namun, di Jakarta, SPBU tetap dipadati pembeli yang entah tidak membaca berita atau mungkin saja menduga ada pengumuman susulan di Selasa malam.

Liberia-flagged tanker Shenlong Suezmax, carrying crude oil from Saudi Arabia, that arrived clearing the Strait of Hormuz, is seen at the Mumbai Port in Mumbai, India, Thursday, March 12, 2026. (AP Photo/Rafiq Maqbool)

Keputusan pemerintah disyukuri oleh sebagian warga, terutama kelas menengah yang hidupnya makin terimpit dari hari ke hari. Sebelumnya, sudah terbayang memori lama ketika inflasi menembus dua digit. Tahun 2005, Badan Pusat Statistik pernah mencatat inflasi tahun 2005 mencapai 17,11 persen. Komoditas paling dominan yang memberikan andil adalah tarif angkutan dalam kota sebesar 2,79 persen dan bensin 2,61 persen (Kompas, 3 Januari 2006).

Namun, bagi masyarakat terdidik, terutama pembaca koran ini, keputusan itu tetap menyisakan diskusi sehat berkepanjangan dan pertanyaan yang belum terjawabkan. Sungguhkah keputusan itu tepat? Apakah sekadar obat penghilang rasa sakit ataukah obat penawar yang sesungguhnya?

Pertanyaan ini tentunya diajukan oleh sebagian masyarakat, yang telah bersiap untuk menanggung short pain untuk meraih long gain di masa mendatang. Mereka siap menderita asalkan negeri ini mampu melejit di masa depan.

Warga antre mengisi BBM hingga luar SPBU di Kawasan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (31/3/2026). Terjadi antrean panjang di sejumlah SPBU di Surabaya dan Sidoarjo. Antrean warga untuk mengisi BBM hari ini dilatarbelakangi oleh beredarnya isu kenaikan harga per April 2026 akibat konflik Timur Tengah.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Daripada terus menyubsidi BBM sekuat tenaga mengikuti pergerakan harga minyak dunia yang terus melambung, bukankah lebih baik mengalihkannya untuk membangun transportasi publik yang andal? Di Jakarta saja, misalnya, Presiden sudah berganti tetapi jaringan MRT barulah satu jalur. Kita berulang kali membanggakan kereta cepat Whoosh ke teman-teman dari negara lain meski sering lupa itu barulah satu jalur. Itu baru satu contoh.

Saat ini, kita hargai penjelasan pemerintah yang telah memaparkan transformasi pengelolaan belanja negara sesuai arahan Presiden. Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pengelolaan belanja tersebut dapat menghemat anggaran hingga Rp 204,4 triliun.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia seusai mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Di atas kertas, rencana transformasi apa pun biasanya indah. Namun, waktu yang kelak akan menjawabnya. Dibutuhkan pula peran dari kita, warga mana pun, untuk kiranya mengawal dan meluruskan hal-hal yang kurang pas. Evaluasi berkala oleh pemerintah juga mesti dilakukan.

Di sisi lain, keputusan pemerintah ini seharusnya juga dimaknai bersama sebagai ruang untuk menempa diri, untuk mempersiapkan diri jika terjadi sesuatu hal di luar prediksi-prediksi baik. Apabila perang di Timur Tengah tidak juga usai atau malah meluas, inilah saat untuk mematangkan rencana mitigasi dalam lingkup negara ataupun individu. Sebagaimana cuaca buruk yang tak mudah diubah, maka mitigasi kita seharusnya mempersiapkan diri menghadapi hal-hal yang tak nyaman itu.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati