Kekesalan Guardiola, Penyesalan Manchester City

Momentum positif yang dibangun Manchester City selama dua bulan terakhir terbenam di St James Park. Guardiola sangat frustrasi seusai kalah 1-2 dari Newcastle.

23 Nov 2025 14:02 WIB · Olahraga

AP

Oleh Kelvin Hianusa

NEWCASTLE, SABTU — Manajer Manchester City Pep Guardiola kehilangan kendali setelah timnya kalah dari Newcastle United. Mulai dari pemain lawan Bruno Guimaraes, wasit, hingga operator kamera sempat dijadikan tempat pelampiasan sang manajer. Sikap itu cukup untuk memperlihatkan rasa frustrasi yang teramat besar. 

Guardiola memang sudah melewati seribu laga sebagai manajer. Lawatan ke markas Newcastle, Stadion St James Park, Minggu (23/11/2025) dini hari WIB, merupakan yang ke-1.001 baginya. Namun, segudang pengalaman itu ternyata tidak berkaitan dengan kedewasaan. Kekalahan dramatis 1-2 sukses merusak sikap tenang Guardiola.

Seusai peluit panjang, manajer asal Spanyol itu masuk ke lapangan. Dia terlebih dulu beradu argumen dengan Guimaraes. Dialog cukup intens itu berlangsung sekitar setengah menit. Setelah itu, Guardiola berjalan ke arah wasit Samuel Barrott. Dengan wajah kesal, dia mengacungkan jempol di depan muka sang wasit.

”Itu terjadi di laga versus Bournemouth dan terjadi lagi tadi,” kata Guardiola tentang potensi pelanggaran terhadap kiper Gianluigi Donnarumma dalam proses gol kedua Newcastle. ”Saya tidak melihatnya, tetapi Gigio melihat itu. Saya percaya kepada pemain. Wasit dan VAR justru memutuskan sebaliknya,” lanjutnya. 

Bukan hanya itu, kontroversi dalam gol yang dicetak pemain sayap Harvey Barnes tersebut. Asisten video wasit (VAR) juga sempat memeriksa ulang gol karena berpotensi offside. Guimaraes terlihat sedikit lebih maju dibandingkan garis terakhir pertahanan City. Namun, pada akhirnya gol disahkan.

Guardiola semakin tidak terkendali. Giliran operator kamera yang menjadi sasarannya. Tidak nyaman karena terus diikuti, sang manajer mengekspresikan kekesalannya. Dia membuka penyuara jemala dari kuping operator tersebut, lalu membisikkan sesuatu. Tindakan pria berusia 54 tahun itu menjadi sorotan di media.

Manchester City's Spanish manager Pep Guardiola gestures on the touchline during the English Premier League football match between Newcastle United and Manchester City at St James' Park in Newcastle-upon-Tyne, north east England on November 22, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /
Quote

Tentu kami ingin melanjutkan momentum positif di dua bulan terakhir, tetapi tidak mudah untuk datang ke tempat seperti ini setelah jeda internasional.

Wajar jika Guardiola merasa sangat frustrasi. Laga itu sangat penting bagi City. Jika menang, Erling Haaland dan rekan-rekan bisa menipiskan jarak hingga satu poin dengan pemuncak klasemen Arsenal. Mereka seharusnya bisa menekan tim rival yang baru akan bertanding di derbi London Utara pada Minggu malam WIB.

Belum lagi, City sempat memegang momentum di paruh kedua. Tuan rumah unggul lebih dulu lewat Barnes pada menit ke-64. Empat menit berselang, bek City Ruben Dias menyamakan kedudukan. Para pemain City tampak sangat percaya diri seusai gol itu. Namun, mereka justru kecolongan gol kedua dari Barnes pada menit ke-70.

Banyak insiden yang menjadi kontroversi dalam kepemimpinan wasit Barrott. Gelandang City Phil Foden terjatuh akibat tekel bek Fabian Schar di paruh pertama, tetapi wasit tidak memberikan hadiah penalti. Saat Donnarumma diganggu pemain Newcastle dalam proses gol penentu, wasit juga hanya bergeming.

Meskipun begitu, Guardiola menyadari, tim asuhannya bisa jauh lebih baik. Mereka sebenarnya bisa unggul di paruh pertama jika mampu lebih klinis di depan gawang. Hanya saja, tim tamu melewatkan peluang sebesar 1,41 ekspektasi gol (xG) sebelum turun minum. Haaland dan Foden berkali-kali gagal mengeksekusi peluang emas.

”Laga yang sengit. Ada peluang untuk kedua tim. Kami melewatkan beberapa peluang dan justru kemasukan di paruh kedua. Kami tidak bisa memanfaatkan peluang. Tentu kami ingin melanjutkan momentum positif di dua bulan terakhir, tetapi tidak mudah untuk datang ke tempat seperti ini setelah jeda internasional,” jelas Guardiola.

Akibat kekalahan itu, City (22 poin) harus merelakan peringkat kedua untuk Chelsea (23) yang menang 2-0 atas Burnley. Mereka gagal memanfaatkan tren buruk Newcastle yang kalah dalam dua pertandingan terakhir di liga domestik. Adapun City sudah kalah empat kali di musim ini, terbanyak di antara tim sepuluh besar liga.

TOPSHOT - Newcastle United's English midfielder #11 Harvey Barnes celebrates after scoring their second goal during the English Premier League football match between Newcastle United and Manchester City at St James' Park in Newcastle-upon-Tyne, north east England on November 22, 2025. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Di sisi lain, hasil itu menjadi momen bersejarah untuk Pelatih Newcastle Eddie Howe. Setelah 17 pertemuan di Liga Inggris, Howe akhirnya merasakan kemenangan pertama atas Guardiola. Kemenangan itu terasa lebih indah karena Newcastle mampu bangkit dari jebakan zona degradasi. Mereka naik menuju peringkat ke-14 (15 poin). 

”Saya punya daftar panjang berisi hal-hal yang tidak berhasil (saat bertemu Guardiola), jadi mungkin saya lebih bisa memberi tahu Anda apa yang tidak bekerja. Soalnya hal-hal yang berhasil dilakukan hanya sedikit. Anda hanya perlu belajar dari pengalaman dan sedikit mengubah sesuatu di lain waktu. Itulah yang kami lakukan,” jelas Howe.

Pahlawan Newcastle di St James Park adalah Barnes. Pemain 27 tahun itu mengejutkan dengan sumbangan sepasang gol. Dia baru menghasilkan satu gol di liga dalam sebelas pekan awal. Performa apik tersebut bisa menjadi pegangan Newcastle di laga-laga berikutnya karena membutuhkan sosok pembeda setelah kehilangan penyerang Alexander Isak. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji