Kekuatan Niat yang Melapangkan Jalan Siti ke Tanah Suci

Dari penghasilan yang disisihkan sebagai tukang pijat, seorang warga Kabupaten Sleman, DIY, bisa memenuhi niatnya untuk menunaikan ibadah haji tahun ini.

07 Mei 2025 10:55 WIB · Nusantara

Oleh Mohamad Final Daeng

Siti Khopsah (59) tak pernah menyangka jalannya ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji dilapangkan sedemikian rupa. Meski hanya bekerja sebagai tukang pijat, Siti berhasil mewujudkan mimpinya untuk memenuhi Rukun Islam kelima tersebut di tengah berbagai kesulitan.

Saat ditemui di rumahnya di Desa Sardonoharjo, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (4/5/2025) sore, Siti baru saja selesai memijat seorang pelanggan. Dia melayani jasa pijat khusus untuk perempuan dan anak.

”Kebetulan simbah (nenek), ibu, dan adik semua punya keterampilan memijat. Alhamdulillah, saya juga bisa meski tidak pernah diajari khusus oleh orangtua,” ucapnya.

Berkat keterampilannya itu, sejak remaja Siti sudah sering dimintai tolong orang yang mengalami salah urat, keseleo, atau hanya sekadar pegal-pegal badan. Seiring waktu, dia pun memantapkan diri untuk menekuni profesi tersebut.

Jemaah menjalani tawaf atau berdoa sambil mengelilingi Kabah di area Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Rabu (14/6/2023) dini hari. Tawaf menjadi bagian dari amalan umrah yang juga dilakoni jemaah sambil menunggu waktu haji. 

Namun, penghasilan dari pekerjaan tersebut tidaklah menentu. Kadang ramai, kadang selama berhari-hari sepi tanpa pelanggan. Meski begitu, kondisi itu tak merisaukan Siti, yang memegang prinsip bahwa rezeki sudah ada yang mengatur.

Hingga akhirnya pada 2019 dia diminta suaminya, M Hudam (72), untuk mendampingi sang mertua, yakni Saudah (92), menunaikan ibadah haji. Permintaan itu pun langsung disambutnya dengan gembira karena sejalan dengan keinginan yang sejak lama didambakan Siti.

Namun, keputusan itu bukanlah sesuatu yang ringan. Sejumlah hal menjadi tantangan. Salah satunya, saat mendaftarkan diri pada 2019, ada ketentuan bahwa pendampingan jemaah lanjut usia atau lansia (berumur di atas 65 tahun) hanya bisa dilakukan oleh suami/istri atau anak kandung.

Hudam pun menyadari hal itu, tetapi memilih tetap mendaftarkan Siti sebagai pendamping ibunya dengan harapan ketentuan itu bisa dilonggarkan pada saat keberangkatan. ”Ternyata, tahun ini pendamping lansia bisa dilakukan juga oleh menantu. Alhamdulillah, doa simbah (Saudah) terkabul agar bisa didampingi menantunya,” ujar Hudam.

Siti Khopsah (kanan) didampingi suaminya, M Hudam, saat diwawancarai di rumah mereka di Desa Sardonoharjo, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (4/5/2025) sore.

Status sebagai pendamping jemaah lansia ini membuat Siti bisa lebih cepat menunaikan ibadah haji, yakni hanya menunggu selama enam tahun. Adapun jika menempuh jalur reguler, waktu tunggu haji di Kabupaten Sleman saat mendaftar pada 2019 itu adalah 27 tahun.

Persoalan administratif sudah beres, giliran urusan finansial yang menghadang. Uang yang dimiliki Hudam sebagai pensiunan guru dan tabungan Siti tak cukup untuk membayar setoran awal biaya haji sebesar Rp 25 juta. Mereka pun terpaksa menutupinya dari pinjaman sebesar Rp 10 juta.

Quote

Sejak awal saya niatkan untuk berusaha dan berdoa.

”Awalnya sempat deg-degan juga, apakah nanti bisa membayar utang itu sekaligus melunasi sisa biaya haji. Tetapi, sejak awal saya niatkan untuk berusaha dan berdoa,” ujar Siti.

Kekuatan niat itulah yang tak disangka-sangka Siti bisa melapangkan jalannya. Seiring waktu, pelanggannya pun bertambah banyak sehingga dia bisa menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk ditabung. Siti menerima bayaran Rp 100.000 untuk setiap pelanggan.

infografik Rangkaian Perjalanan Ibadah Haji

Penundaan ibadah haji selama dua tahun akibat pandemi Covid-19 juga memberi tambahan waktu baginya untuk mengumpulkan uang. Hingga akhirnya setelah enam tahun menabung dia bisa melunasi sisa biaya haji sebesar Rp 30,4 juta pada Maret lalu. ”Utang untuk membayar setoran awal juga alhamdulillah sudah lunas,” kata Siti.

Hudam menambahkan, tadinya mereka bersiap untuk pasrah saja seandainya Siti gagal berangkat haji karena uang yang tidak cukup untuk pelunasan. ”Kami juga tidak mau memaksakan diri. Alhamdulillah, ternyata uangnya bisa terkumpul tepat waktu,” ujar Hudam yang telah lebih dulu menunaikan ibadah haji pada 2011.

Bagi Hudam, hal ini juga bermakna besar karena berarti sang ibunda Saudah yang sudah sangat sepuh itu tak sendirian dalam beribadah nanti. Saudah pun tercatat sebagai jemaah tertua dari Kabupaten Sleman tahun ini. Keduanya dijadwalkan bertolak ke Tanah Suci pada 20 Mei 2025 melalui Embarkasi Solo, Jawa Tengah.

”Ibu (Saudah) sudah menabung sejak 20 tahun lalu. Dari dulu memang beliau selalu ingin pergi haji. Setiap ada undangan dari orang yang mau berangkat haji atau pulang dari haji, beliau selalu minta diantarkan untuk hadir. Katanya biar bisa didoakan naik haji juga,” ucap Hudam.

Siti Khopsah (59), warga Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta, yang bersiap menjalani ibadah haji tahun ini, saat ditemui di rumahnya di Desa Sardonoharjo, Sleman, Minggu (4/5/2025). Meski hanya berpfofesi sebagai tukang pijat, Siti bisa mewujudkan mimpi untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut.

Siti dan Saudah menjadi bagian dari 221.000 anggota jemaah asal Indonesia yang berkesempatan menunaikan ibadah haji tahun ini. Keberangkatan jemaah tersebar di 14 embarkasi di seluruh Indonesia.

Kelompok terbang 1 telah diberangkatkan pada Jumat (2/5/2025) dini hari dari Embarkasi Jakarta-Pondok Gede menuju Bandara Internasional Prince Mohammad bin Abdulaziz di Madinah. Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/5/2025), Menteri Agama Nasaruddin Umar memastikan semua petugas dan layanan haji di Madinah telah siap.

”Saya baru tiba dari Madinah untuk mengecek seluruh persiapan haji. Jemaah, kan, nanti langsung ke Madinah. Semua persiapan haji di sana sudah siap,” kata Nasaruddin (Kompas, 3/5/2025).

Jelang keberangkatan yang tinggal menghitung hari, Siti pun masih tak menyangka dirinya bisa mewujudkan impian besar tersebut. Harapannya kini menjadi pendamping terbaik bagi mertuanya sekaligus menjadi haji yang mabrur. ”Mohon doanya, ya,” ucap Siti dengan wajah semringah….


Kerabat Kerja

Penulis:

Mohamad Final Daeng
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar