Presiden AS Donald Trump berjanji akan membahas isu kedelai sebagai topik utama ketika bertemu Presiden China Xi Jinping.
02 Okt 2025 14:00 WIB · Internasional
WASHINGTON, KAMIS — Kedelai akan menjadi salah satu penentu dalam negosiasi perdagangan Amerika Serikat dan China. Sejak perang dagang kedua negara berlangsung, pasar petani kedelai AS tergerus. AS menuduh China beralih membeli kedelai dari AS ke negara-negara lain di Amerika Selatan.
Presiden AS Donald Trump berjanji akan membahas isu kedelai tersebut ketika bertemu Presiden China Xi Jinping bulan depan. Dalam sebuah unggahan di Truth Social, Rabu (1/10/2025) waktu setempat, Trump menuding petani kedelai AS merugi karena China. China hanya menggunakan kedelai untuk negosiasi dengan tidak membeli dari AS.
”Saya tidak akan pernah mengecewakan petani kita! Saya akan bertemu dengan Presiden Xi dalam empat pekan dan kedelai akan menjadi topik diskusi utama,” kata Trump.
Bulan lalu, Trump dan Xi sepakat lewat telepon untuk bertemu di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Gyeongju, Korea Selatan, akhir Oktober. Mereka akan membahas konflik perdagangan kedua negara, obat-obatan terlarang, dan perang Ukraina-Rusia.
Menurut Bloomberg, data Departemen Pertanian AS, China belum mencatat satu kargo pun hingga 18 September 2025, beberapa pekan setelah musim pemasaran dimulai. Padahal, panen musim gugur adalah musim penjualan utama. Petani-petani AS membawa panen kedelai segar dari ladang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/dd24c419-a190-46e9-9a67-7d363ca5c3e9_jpg.jpg)
Alhasil, petani AS menderita kerugian miliaran dollar AS karena harga kedelai tertekan.
Juru bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, tidak mengomentari secara khusus tentang isu kedelai. Namun, ia mengingatkan inti kerja sama ekonomi China-AS adalah saling menguntungkan.
”Pada prinsipnya, kami harap pihak AS akan bekerja sama dengan China untuk mengimplementasikan kesepahaman bersama yang dicapai oleh para kepala negara kita dalam panggilan telepon mereka,” tutur Liu.
Ketegangan perang tarif AS-China terlihat mulai mereda. Pada Mei 2025, kedua negara sepakat untuk gencatan perang tarif sementara. Bea masuk impor atau tarif AS terhadap China turun dari 145 persen menjadi 30 persen. Tarif China kepada AS berkurang dari 125 persen menjadi 10 persen.
Namun, negosiasi dua negara itu tak kunjung selesai sehingga situasi belum stabil. Pejabat AS-China telah mengadakan empat putaran perundingan selama Mei-September 2025. Pembicaraan putaran berikutnya akan berlangsung beberapa pekan mendatang.
Upaya AS-China untuk meredakan ketegangan perdagangan sempat memicu ekspektasi. Beijing akan lebih banyak pembelian produk pertanian ke AS sebagai bagian dari kesepakatan dengan Trump. Namun, Beijing tak kunjung membeli kedelai AS.
Asosiasi Kedelai Amerika (ASA) mendesak Trump untuk memprioritaskan kedelai dalam perundingan dengan China. ”AS tidak menjual ke China pada musim hasil panen baru ini karena tarif pembalasan sebesar 20 persen yang diberlakukan China sebagai tanggapan atas tarif AS,” kata Presiden ASA Caleb Ragland, pekan lalu.
AS tidak menjual ke China pada musim hasil panen baru ini karena tarif pembalasan sebesar 20 persen yang diberlakukan China sebagai tanggapan atas tarif AS.
Ragland melanjutkan, situasi tersebut membuat negara eksportir lain, seperti Brasil dan Argentina, merebut pasar petani AS. Petani kedelai AS merasa sangat frustrasi.
”Secara umum, para petani selalu berada di pihak Presiden Trump. Saya pikir pesan yang ingin disampaikan oleh para petani kedelai secara keseluruhan adalah: Presiden Trump, kami mendukung Anda. Kami membutuhkan Anda untuk mendukung kami sekarang juga,” tutur Ragland.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/8bb11f40-9330-476e-a464-ed53c78be90f_jpeg.jpg)
Sejak 1990-an, industri kedelai AS tumbuh pesat sebagai respons terhadap permintaan China. Ekonomi China yang tumbuh pesat beralih ke produsen asing untuk membantu memenuhi kebutuhan domestik.
Kedelai yang kaya protein merupakan bagian penting dalam diet masyarakat China. China mengandalkan hasil panen dalam negeri untuk kacang kukus dan tahu. Negara ini juga membutuhkan lebih banyak kedelai untuk ekstraksi minyak dan pakan ternak.
Pada tahun 2024, China memproduksi 20 juta metrik ton kedelai. Beijing juga mengimpor lebih dari 105 juta metrik ton.
Bagi AS, kedelai sekarang menjadi ekspor pangan utama. Ekspor kedelai mencakup sekitar 14 persen dari seluruh produk pertanian yang dikirim ke luar negeri.
China merupakan pembeli asing terbesar AS. Pada 2024, AS mengekspor kedelai senilai hampir 24,5 miliar dollar AS. China menyumbang lebih dari 12,5 miliar dollar AS, jauh lebih besar ketimbang Uni Eropa sebagai pembeli terbesar kedua (2,45 miliar dollar AS).
Senator AS John Hoeven dari Partai Republik sepakat, China membeli kedelai dari Amerika Selatan untuk menekan AS dalam negosiasi perdagangan. Setelah bertemu Duta Besar AS untuk China David Perdue, Hoeven tidak yakin ada batas waktu spesifik bagi China untuk melanjutkan pembelian kedelai AS.
”Dia tidak memberi tahu saya bahwa penjualan akan segera terjadi. Pembahasannya lebih kepada kita perlu terus menekan hingga mendapatkan penjualan sembari mendukung para petani kita,” ujar Hoeven.
Dalam unggahannya, Trump mengulangi janji untuk menggunakan hasil dari pendapatan tarif impor untuk membantu para petani. Menurut Bloomberg, paket bantuan bagi para petani tersebut belum diumumkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/6ba3db1b-0ee8-485e-bfb2-0356b66bd157_jpeg.jpg)
Selama jabatan periode pertama, pemerintahan Trump memberi bantuan petani, termasuk petani kedelai dan daging babi, yang tertekan akibat perang dagang. Waktu itu, tarif balasan terhadap AS membuat ekspor pertanian AS merugi lebih dari 27 miliar dollar AS selama periode pertengahan 2018 hingga akhir 2019.
Namun, sebagian besar petani tidak menginginkan bantuan. Mereka ingin agar Trump memberikan solusi jangka panjang.
”Petani Amerika, terutama saya sendiri, tidak menginginkan bantuan. Kami ingin bekerja. Kami menggarap lahan, kami memanen lahan, dan hasil panen dari lahan. Hal terburuk yang kami inginkan adalah bantuan,” ujar Brian Warpup (52), petani generasi keempat dari Warren, Indiana. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Irene SarwindaningrumPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan