Setelah viral dan banyak dicari kedai-kedai penjual Mi Bangladesh semakin bertumbuhan bak jamur di musim hujan. Akan kah kuliner ini bertahan?
26 Jan 2025 07:30 WIB · Gaya Hidup
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/25/99863125dab279c35d862f6b7ec60eb8-20250120_150627.jpg)
Mi instan pelan-pelan masuk semakin dalam ke kehidupan kaum urban. Mi instan yang kini berdandan dan dilabeli Mi Bangladesh, menjadi makanan idaman baru.
Sekitar dua dekade silam tren tari kejang sempat kembali melanda kalangan remaja Indonesia yang sebelumnya tenar di era 1980-an. Tak hanya di kota-kota besar di Pulau Jawa seperti Jakarta, tarian patah-patah itu juga digandrungi banyak remaja tanggung di Kota Medan, Sumatera Utara.
Banyak remaja gandrung ingin menguasai tarian modern asal Negeri Paman Sam itu tak terkecuali Teuku Ivan Paloh, yang saat itu masih duduk di kelas 3 SMP di Kota Medan. Ivan lumayan rajin berlatih breakdance bersama rekan-rekan sebayanya.
Kalau sedang dekat-dekat sana saya mampir kongkow (nongkrong) sekalian memesan semangkuk mi bareng teman-teman.
Setiap seusai latihan dia tak langsung pulang tapi lanjut kongkow (nongkrong) di Warung Kopi (Warkop) Elizabeth. Tempat itu terkenal strategis dan menjadi lokasi tongkrongan favorit anak muda Kota Medan.
Namun, bukan semua itu yang melekat kuat dalam ingatan Ivan seperti saat dia menceritakan hal itu pada Rabu (22/01/2025). Setiap kali hang out di warkop tersebut Ivan selalu memesan semangkuk mi instan berkuah bumbu rempah pekat khas Aceh.
Kudapan ringan itu lumayan untuk mengusir rasa lapar usai lelah berlatih breakdance. Saat itu jajanan kegemaran Ivan tadi hanya dikenal dengan nama Mi Warkop. Tak ada yang menyangka justru hidangan mi itu lah yang menurut Ivan jadi cikal bakal Mi Bangladesh, yang viral dan popular sekarang.
”Kalau sedang dekat-dekat sana saya mampir kongkow sekalian memesan semangkuk mi bareng teman-teman,” kenang Ivan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/25/cd1a63f3-b212-4bc8-95da-5d510ca21beb_jpeg.jpg)
Selipan-selipan memori lama tersebut ternyata tak hanya tersimpan kuat dalam ingatan Ivan. Citarasa lezat Mi Warkop tadi justru menginspirasinya merintis dan membuka bisnis waralaba kuliner Mi Bangladesh sejak 2022.
Sekarang ada enam cabang kedai Mi Bangladesh berjenama Mi Banglades Agam Paloh yang didirikan dan dikelolanya. Dari cabang-cabang di Medan, Kualanamu, dan Asahan itu, Ivan total mempekerjakan 50 karyawan.
Nama Mi Bangladesh berasal dari nama peracik asalnya, Bang Abdullah asal Delima, Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh. Dari beberapa huruf awal setiap kata dicuplik dan dipadukan menjadi kata dan kalimat baru nama mi kuah racikan berempah itu, Mi Bangladesh.
Soal penamaan dikenal dua versi penulisan. Versi pertama menggunakan penulisan resmi nama negara, Bangladesh dengan huruh ”h” di akhir kata, sementara versi satu lagi tanpa huruf ”h”.
Sementara untuk jenama waralabanya, Ivan menggunakan tambahan ”Agam Paloh”, yang berarti nama anak laki-laki asal daerah Paloh tempat kelahiran mendiang kakeknya. Waralaba Ivan kini juga sudah merambah keluar Medan, salah satunya ke Jakarta.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/20/36fb6d1f-fa83-460b-9f3d-737e3e59e7d1_jpg.jpg)
Merambah luar Medan
Setidaknya dalam dua atau tiga tahun terakhir jajanan Mi Bangladesh mulai banyak banyak dikenal di luar Medan. Kawasan bekas ibukota Jakarta dan daerah-daerah sekitarnya termasuk yang ikut terpengaruh perkembangan tren kuliner satu ini.
Sejumlah kedai, warung, maupun restoran menjual menu Mi Bangladesh bermunculan bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Ada banyak juga jenama serta format tempat berjualan yang ditawarkan, mulai dari warung kopi, kedai, maupun restoran.
Salah satu pemiliknya Melly Marlina adalah mantan pekerja bidang kehumasan, yang banting stir membuka bisnis makanan, Mi Bangladesh. Melly bekerjasama dengan waralaba Ivan dan mendirikan Mi Banglades Agam Paloh di Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan.
Tapi yang paling penting pastilah tetap rasanya.
Melly tertarik lantaran melihat peluang cuan dari bisnis Mi Bangladesh yang tengah sangat viral sekarang. Walau menurutnya ada banyak orang yang FOMO (fear of missing out atau takut ketinggalan) terkait menu satu ini, Melly mengaku tetap memperhatikan faktor kualitas rasa hidangan yang akan dia jual.
”Tapi yang paling penting pastilah tetap rasanya,” ujar Melly saat ditemui, Rabu (22/1/2025).
Berbeda dengan Mi Aceh, bahan baku Mi Bangladesh jauh lebih sederhana. Bahan utamanya adalah mi instan, bumbu bubuk bawaan, ditambah bumbu merah khas Aceh alias bumbu Mi Bangladesh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/20/fbdd0611-77a9-473c-befa-e975ce642774_jpg.jpg)
Bumbu tambahan itu terdiri dari aneka rempah macam Bunga Lawang, Cengkeh, Kapulaga, Cabai Kering, Bubuk Kari, dan beberapa tambahan lain sesuai ciri khas masing-masing produsen. ”Di Jakarta sudah ada banyak penjual Mi Bangladesh. Setiap penjual punya karakter rasa berbeda-beda, tetapi masing-masing tetap ramai,” tutur Melly.
Dengan dua jenis bumbu tadi mi instan, biasanya dari jenama terkenal, lantas direbus bersama tambahan telor dan sayuran hijau sampai kondisi ”nyemek” alias becek namun tak sampai berkuah. Saat disajikan Mi Bangladesh juga dilengkapi dengan puding telor khas.
Pertama kali mencicipi saat berkunjung ke Medan tahun 2017 dan 2019. Rasanya enak banget sampai nagih. Makanya, saya pengin coba lagi di Jakarta.
Puding telor itu dibuat dari telor jenis Omega-3, yang dimasak rendam di dalam air mendidih sampai isinya setengah matang. Tambahan puding telor itu menghadirkan sensasi dan cita rasa berkrim (creamy) mewah saat dilumat dalam mulut.
Salah satu penggemar Mi Bangladesh yang ketagihan adalah D Wahyundarta (47). Saat ditemui di kedai Mi Bangladesh Agam Paloh, Jalan Ciledug Raya, dia mengatakan sudah lama menggemari kuliner ini.
”Pertama kali mencicipi saat berkunjung ke Medan tahun 2017 dan 2019. Rasanya enak banget sampai nagih. Makanya, saya pengin coba lagi di Jakarta,” ucap Wahyundarta.
Fasilitas oke
Sementara itu selain kualitas rasa masakan Melly juga melengkapi kedainya dengan beragam fasilitas oke, yang tujuannya membuat betah para pelanggan untuk datang dan kembali datang.
Beberapa seperti ruangan berpenyejuk udara selain area semiterbuka, yang keduanya berkapasitas total 100 orang tamu, plus fasilitas karaoke gratis. Dengan semua menu hidangan yang ditawarkan dan fasilitas tambahan tadi beragam pembeli berdatangan.
Mereka tak hanya berasal dari para tamu yang sekadar ingin nongkrong mengopi sendirian atau bersama teman-temannya. Banyak pula yang datang mengajak anggota keluarga seperti anak-anak maupun orang tua.
Beberapa pengunjung lain juga menjadikan warung kopi ini sebagai tempat berkumpul seperti untuk arisan, berdiskusi, pembubaran panitia, hingga pertemuan pegawai kelurahan. Hal sama juga terjadi di Warkop Mie Bangladesh Aneuk Nanggroe di Ciputat Raya, Tangerang Selatan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/21/25cfc6ee-9df9-4725-b52e-8f79e53ed9d0_jpg.jpg)
Saat dikunjungi, Selasa (21/1/2025) malam lalu, suasana tampak lumayan ramai. Para tamu asyik makan sementara lagu-lagu pop Indonesia kekinian terdengar mengalun keluar dari pengeras suara.
Menurut Nurul Shafira (19), salah satu pemilik bersama (co-owner) Warkop Mie Bangladesh Aneuk Nanggroe, di masa kampanye pemilihan umum lalu tempatnya sering dipakai berkumpul. Baik untuk berdiskusi internal maupun sosialisasi pihak tamu penyewanya.
Kedainya menyediakan 50 meja dengan total kapasitas daya tampung mencapai 100 orang. Selain area kedainya yang luas dan semiterbuka, fasilitas area parkir yang disediakan juga lumayan luas tambah juga berada di pinggir akses jalan raya sehingga mudah dijangkau.
Baik kedai Melly maupun Shafira, keduanya juga menawarkan beragam menu makanan dan minuman khas Aceh dan Medan dengan harga terjangkau. Di Kedai Shafira harga makanan dan minuman yang dijual berkisar antara Rp 18.000 seperti Mi Aceh Biasa hingga termahal Rp 33.000 berupa Nasi Goreng Kampung Spesial.
Orang kita gemar makan mi instan. Selain itu kalau saya pedagang, dengan menyediakan bumbu merah khas Aceh itu saya bisa menggunakannya untuk membuat aneka hidangan macam Mi Aceh, Nasi Goreng Aceh, dan Mi Bangladesh.
Sementara untuk menu andalan di kedai Melly juga disajikan hidangan lain seperti Mi Bang Paloh, Roti Canai, dan Nasi Goreng. Sementara untuk minuman dari berbagai jenis yang ditawarkan menu Teh Tarik menjadi penawar dahaga terlaris.
Bakal bertahan
Saat dihubungi per telepon pengamat kuliner Nusantara sekaligus travelling chef Wira Hardiyansyah menyebut keberadaan Mi Bangladesh berpotensi terus bertahan walau hypenya akibat viral berkurang.
Dari sisi pedagang menu satu ini dinilai praktis dan menguntungkan lantaran bahan baku dan bumbunya terbilang praktis. Baik bahan baku mi instan maupun bumbu tambahan, bumbu merah khas Aceh, keduanya sangat mudah didapat karena akan selalu tersedia di pasaran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/20/f453d5fb-cc96-4c79-b59d-9db6bd7053fa_jpg.jpg)
”Orang kita gemar makan mi instan. Selain itu kalau saya pedagang, dengan menyediakan bumbu merah khas Aceh itu saya bisa menggunakannya untuk membuat aneka hidangan macam Mi Aceh, Nasi Goreng Aceh, dan Mi Bangladesh,” tambah Wira.
Secara bisnis, tambahnya, hal itu sangat praktis dan sekaligus juga ekonomis. Dari situ lah Wira yakin jika menu ”Mi Nyemeknya Orang Medan” itu akan bisa terus bertahan. Apalagi Mi Bangladesh juga dijual di warung-warung kopi atau kedai, yang menjual menu utama Mi Aceh, yang sudah ada dan bertahan sejak lama.
Mi instan kalau sudah berdandan, banyak juga yang malas pindah ke lain makanan.
Penulis:
Wisnu Dewabrata, Prayogi Dwi Sulistyo, Dwi Bayu RadiusEditor:
Moh. Hilmi Faiq, Dwi AS Setianingsih