KECELAKAAN LAUT

Keluarga Korban KMP Mutiara Sentosa II di Makassar Kesulitan Cari Informasi Sanak Saudara

Hingga Senin siang, keluarga korban KMP Mutiara Sentosa II kesulitan mencari informasi pasti. Belum ada data penumpang yang dipegang otoritas terkait di Makassar.

03 Agt 2026 15:15 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS

Oleh Saiful Rijal Yunus

MAKASSAR, KOMPAS — Keluarga korban terbakarnya Kapal Motor Penumpang atau KMP Mutiara Sentosa II di Makassar, Sulawesi Selatan, kesulitan mendapatkan informasi keberadaan sanak saudaranya. Pemerintah diminta fokus menangani hal ini lewat pusat penanganan darurat lintas sektor.

Rastia (46), warga Makassar, menuturkan sudah berkeliling selama beberapa jam ke sejumlah tempat untuk mencari tahu keberadaan sepupunya, Bustang Sanusi. Bustang adalah salah satu penumpang dalam kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan Madura, Jawa Timur.

”Saya keluar rumah sejak jam 10 pagi, datang ke pelabuhan, tetapi tidak bisa masuk. Saya cari kantor agen tidak ketemu,” katanya saat ditemui di kantor Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Makasar, Senin (3/8/2026).

Bersama suami dan seorang anaknya, ia lalu diarahkan ke agen pelabuhan di Jalan Pettarani, berjarak sekitar 10 kilometer dari pelabuhan. Namun, sesampai di lokasi yang diarahkan, kantor agen pelabuhan itu tidak ditemukan.

Rastia (46) menunjukkan foto keluarganya yang menjadi korban KMP Mutiara Sentosa II, di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (3/8/2026). Ia kesulitan mendapatkan informasi dan harus ke sana kemari untuk mendapatkan kebenaran akan nasib keluarganya tersebut. Hingga kini, data total korban belum dipastikan.

Mereka lalu kembali ke Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar. Di situ, mereka bertanya kepada petugas, lalu diarahkan ke KSOP Makassar.

Di kantor ini, mereka menunggu lebih dari dua jam. Namun, ia tidak kunjung mendapatkan informasi.

”Saya diminta keluarga besar di Takalar untuk mencari tahu keberadaan Bustang karena mereka jauh dan saya di Makassar. Kami berharap bisa segera dapat infonya,” ucapnya.

Sekitar pukul 13.00 Wita, ia mendapat telepon dari keluarganya yang lain dan memastikan Bustang selamat. Hal itu diperoleh dari teman dan kerabat di Surabaya, tanpa bantuan dari otoritas terkait di Makassar.

Irwan, keluarga korban lainnya, menyampaikan, hingga Senin siang, pihaknya belum mendapatkan informasi keberadaan kakaknya, Sitti Fatimah. Sebab, informasi yang ada masih simpang siur.

”Kami baru tahu bahwa dia naik KM Mutiara Sentosa II dari video yang beredar. Dia naik berdua sama anaknya dan waktu kebakaran dia dorong anaknya untuk loncat,” ucap Irwan.

Anak Sitti diketahui selamat dan telah dievakuasi. Namun, Sitti belum diketahui kabarnya.

This aerial picture shows the passenger ship Mutiara Sentosa 2 catching fire in the waters off Madura island, East Java, on August 2, 2026. Five people have been found dead, 41 are missing and 225 were rescued after an Indonesian ferry caught fire while at sea on August 2, search and rescue officials said. (Photo by FRIDA PERKASA / AFP)

Saat ini, ia melanjutkan, keluarga mendapat pesan untuk mengirimkan informasi tentang Sitti, terutama ciri khas hingga sidik jari keluarga. Situasi ini menjadi pertanyaan bagi keluarga besar tentang kenapa hal itu harus dilakukan.

Kepala Seksi Pengawasan Bandar di KSOP Utama Makassar Bahar menuturkan, hingga Senin siang, sedikitnya 10 orang mencari keberadaan keluarga dan kerabat yang menumpang KMP Mutiara Sentosa II.

Meski begitu, ia melanjutkan, pihaknya belum mendapatkan informasi lengkap akan jumlah dan data penumpang. Hal itu masih dikoordinasikan dengan KSOP Surabaya dan pihak terkait.

Ditanya belum adanya posko bersama lintas sektor di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, Bahar menuturkan, hal itu bukan menjadi kewenangannya. Untuk KSOP, pihaknya membuka aduan jika ada yang mencari keluarga dan kerabat dalam peristiwa terbakarnya kapal bermuatan ratusan orang tersebut.

Kantor KSOP Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (3/8/2026).

Diberitakan sebelumnya, KMP Mutiara Sentosa II rute Surabaya-Makassar terbakar saat berlayar di perairan utara Pulau Madura. Berdasarkan laporan dari lapangan, kebakaran diperkirakan terjadi pada pukul 06.00–07.00 WIB.

Kepala Kantor SAR Surabaya Nanang Sigit mengatakan, berdasarkan data sementara, jumlah penumpang kapal 271 orang. Namun, pihaknya belum bisa memastikan apakah data penumpang itu sesuai dengan jumlah faktual yang ikut berlayar.

Sampai Senin siang ini, jumlah korban yang dapat dievakuasi 234 orang dengan rincian 229 orang selamat dan 5 penumpang tewas. Dengan asumsi jumlah total penumpang 271 orang, diperkirakan masih ada 37 penumpang kapal yang hilang.

”Pencarian penumpang kapal yang belum ditemukan terus berlangsung. Saat bersamaan, tim SAR juga mengevakuasi korban selamat dan korban meninggal secara bertahap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya,” ujar Nanang.

Survivors of the Mutiara Sentosa 2 ferry which caught fire in the waters off Madura island, East Java, on August 2, 2026, gather at Tanjung Perak port in Surabaya early on August 3, 2026. An Indonesian ferry caught fire at sea on Sunday, killing five people and leaving another 41 missing after some jumped overboard, search and rescue officials said. A total of 225 people on the vessel were rescued, said the regional Surabaya Search and Rescue Agency, which provided the latest figures in an afternoon update. (Photo by JUNI KRISWANTO / AFP)

Sementara itu, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia Djoko Setijowarno mengatakan, langkah cepat pertama ialah tanggap darurat serta koordinasi dalam upaya pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap penumpang dan semua kru kapal.

Langkah cepat kedua yang harus dilakukan ialah penanganan penumpang dan membuka posko crisis center. Posko darurat tersebut bisa didirikan di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sebagai pelabuhan asal keberangkatan kapal dan Pelabuhan Makassar sebagai pelabuhan tujuan perjalanan.

Pembukaan posko tersebut untuk memudahkan pendataan ulang penumpang, identifikasi korban, dan penanganan keluarga penumpang. Selain itu, posko tersebut juga untuk pemenuhan logistik dan medis, memastikan fasilitas medis, pemulihan trauma (trauma healing), serta transportasi lanjutan/akomodasi bagi korban yang selamat.

Ketiga adalah investigasi dan penegakan hukum. Investigasi bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mengidentifikasi penyebab pasti kebakaran. Audit manifes menjadi penting untuk mencocokkan data resmi kapal dengan jumlah aktual penumpang dan jenis muatan kendaraan yang diangkut saat berlayar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim