Kompas.id Brief

Kemacetan Horor di Tanjung Priok, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Kemacetan panjang terus berulang di jalan akses menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Sampai kapan persoalan ini dibiarkan?

19 Apr 2025 11:59 WIB · Metro

Oleh Redaksi

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Bagaimana situasi kemacetan di sekitar kawasan Tanjung Priok?
  2. Mengapa kemacetan di Tanjung Priok itu bisa terjadi?
  3. Apa usulan solusi untuk mengatasi kemacetan berulang di Tanjung Priok?
  4. Bagaimana upaya evaluasi dan mitigasi kemacetan di Tanjung Priok supaya tidak berulang?

Bagaimana situasi kemacetan di sekitar kawasan Tanjung Priok?

copy title

Sejak Kamis (17/4/2025), kemacetan panjang terjadi di sejumlah ruas jalan akses menuju Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kendati kepadatan kendaraan itu mulai dapat diurai pada Jumat (18/4/2025) sore, kemacetan panjang itu merugikan banyak pihak, terutama pengendara yang terjebak hingga berjam-jam di jalan akses menuju pelabuhan.

Kemacetan, antara lain, terjadi Jalan Yos Sudarso yang mengarah ke Pos 9. Jalur lambat dari Pos 9 sampai persimpangan Kramat juga padat. Kondisi ini imbas dari antrean truk kontainer di pintu masuk New Priok Container Terminal One (NPCT 1). Selain itu, lalu lintas kendaraan di persimpangan Kramat yang mengarah ke Pos 9 pun padat imbas dari truk kontainer yang ingin berputar balik mengarah ke pintu masuk NPCT 1.

Sementara itu, lalu lintas dari arah Plumpang ke Simpang Lima Semper tersendat karena antrean kendaraan yang mengarah ke Tugu dan Kramat padat. Kondisi ini terjadi akibat antrean truk kontainer di pintu masuk NPCT 1.

Kepadatan kendaraan juga terjadi di Jalan Enggano yang mengarah ke Pos 9. Lalu lintas di Jalan Plumpang Raya yang mengarah ke Simpang Lima Semper juga padat. Demikian pula di ruas Jalan Syech Nawawi Al Bantani yang mengarah ke Kebon Baru. Kondisi lalu lintas di sejumlah ruas jalan itu terpantau lebih lancar pada Jumat sore.

Selama ini, kemacetan memang kerap terjadi di Tanjung Priok. Namun, kemacetan kali ini dinilai paling parah dalam 10 tahun terakhir.

Kemacetan di Tanjung Priok itu membuat banyak warga tersiksa. Jujun (23), karyawan swasta, misalnya, harus menempuh dua jam dari Bogor, Jawa Barat, menuju Jakarta Utara, pada Kamis malam. Ia terjebak mulai dari Jalan Yos Sudarso, persisnya di dekat Astra Honda Motor di Sunter, Jakarta Utara.

Sammy (22) juga terjebak kemacetan dalam perjalanan pulang ke Cakung, Jakarta Timur. Bahkan, ia dan pengguna Transjakarta yang naik dari Halte Pulogadung terpaksa turun di tengah jalan dan berjalan kaki sampai Halte Cakung Cilincing.

Mengapa kemacetan di Tanjung Priok itu bisa terjadi?

copy title

Executive General Manager Pelindo Regional 2 Tanjung Priok Adi Sugiri menjelaskan, situasi ini terjadi karena ada peningkatan arus barang peti kemas terkait kegiatan penerimaan dan pengiriman peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok. Hal ini bersamaan dengan selesainya masa arus mudik lebaran dan pascapembatasan lalu lintas barang.

Salah satu titik kemacetan ialah Terminal NPCT 1 karena peningkatan volume kendaraan yang melakukan kegiatan penerimaan pengiriman peti kemas. Lonjakan volume kendaraan sampai 100 persen.

Dalam sehari biasanya hanya 2.000-2.500 TEUs masuk ke terminal, tetapi Kamis itu lebih dari 4.000 TEUs menyerbu NPCT 1.

Adi meminta maaf atas kekacauan lalu lintas yang terjadi. Ia menyebut banyak perusahaan logistik berlomba mengirim atau menerima barang sebelum libur panjang 18-20 April 2025.

Akan tetapi, kemacetan tersebut tidak berdiri sendiri. Problem itu seolah mengulang masalah sistemik yang sudah lama dirasakan pelaku logistik di Indonesia, termasuk soal pembatasan operasionalisasi truk menjelang Lebaran 2025 yang dirasa terlalu lama dan memberatkan para pelaku usaha.

Tahun ini, pembatasan truk sumbu tiga atau lebih berlaku selama 16 hari, yakni dari 24 Maret hingga 8 April 2025. Pelaku usaha logistik menilai kebijakan ini tidak memberikan cukup ruang bagi pelaku industri untuk menyesuaikan jadwal pengiriman dan menimbulkan kerugian miliaran rupiah. Senior Consultant Supply Chain Indonesia Sugi Purnoto memperkirakan potensi kerugian ekonomi akibat pembatasan tersebut mencapai Rp 1 triliun (Kompas, 20/3/2025).

Keluhan juga datang dari Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (Asdeki). Ketua Asdeki Mustofa Kamal Hamka mengatakan, pembatasan ini membuat biaya sewa kontainer membengkak karena pengusaha harus menanggung demurrage—denda atas keterlambatan pengembalian kontainer—yang bisa lebih dari Rp 330.000 per hari per kontainer dan nilainya naik secara progresif.

Apa usulan solusi untuk mengatasi kemacetan berulang di Tanjung Priok?

copy title

Banyak pihak ingin integrasi dan penataan kawasan utara Jakarta dipercepat. Dalam diskusi terpumpun Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) di auditorium PT Pelabuhan Indonesia Regional 2, Jakarta Utara, Selasa (27/6/2023), Ketua DTKJ Haris Muhammadun mengatakan, integrasi dan penataan kawasan harus dipercepat melalui penguatan kerja sama semua pemangku kepentingan.

Penataan itu meliputi permukiman, lingkungan, kawasan ekonomi sekitar pelabuhan, industri pariwisata, kesejahteraan nelayan, dan pengendalian banjir rob. Kemudian, pengembangan sarana dan prasarana pengelolaan sampah. ”Progresnya (integrasi dan penataan) belum begitu mulus. Apalagi, konstruksi Jalan Tol Harbour Road II juga sedang dibangun. Semoga kemacetan ini jadi atensi gubernur baru (Pramono Anung) dan pimpinan lain,” kata Haris, Jumat sore.

Jalan Tol Harbour Road II membentang sepanjang 9,6 kilometer. Tol layang ini akan menghubungkan Tol Akses Tanjung Priok dan Jalan Tol Ir Sedyatmo. Proyek tersebut ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Pengerjaannya ditargetkan rampung pada 2025 sehingga bisa meningkatkan daya saing Pelabuhan Tanjung Priok dalam efisiensi jalur logistik.

Menurut Haris, diperlukan satuan tugas untuk mempercepat integrasi dan penataan kawasan utara Jakarta. Kemacetan, misalnya, tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan satu instansi.

Bagaimana upaya evaluasi dan mitigasi kemacetan di Tanjung Priok supaya tidak berulang?

copy title

Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Priok M Takwim Masuku saat memberikan keterangan pers, Jumat, mengatakan, tiga kapal bersandar secara bersamaan di NPCT 1 sehingga volume bongkar muat meningkat hingga 4.000 kendaraan. Padahal, kapasitas NPCT1 hanya 2.500 truk.

Dua kapal yang terlambat itu seharusnya sudah sandar sejak pekan lalu. Sementara satu kapal lain dijadwalkan sandar 24 jam lalu atau Kamis.   

Peningkatan aktivitas bongkar muat inilah yang menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas jalan yang mengarah ke Pelabuhan Tanjung Priok. Ruas jalan itu meliputi Jalan Yos Sudarso, Jalan Enggano, Jalan Plumpang Raya, dan sejumlah ruas jalan lain.

Agar kejadian itu tidak terulang, imbuh Takwim, pihaknya melakukan sejumlah langkah mitigasi, yakni mengurangi aktivitas bongkar muat di NPCT 1 dan mengalihkannya ke terminal lain. 

Ada tujuh terminal dengan kapasitas berbeda. Terminal Jakarta International Container Terminal (JICT), misalnya, bisa untuk bongkar muat hingga 5.000 truk dalam sehari. Sementara Terminal Koja bisa menampung kegiatan bongkar muat 1.300 truk. Adapun Terminal Mustika Alam Lestari (MAL) memiliki kapasitas 800 truk.

Langkah mitigasi lanjutan yang akan dilakukan adalah menunda kegiatan bongkar muat dari sisi laut sehingga proses bongkar muat dapat dilakukan secara bersamaan.

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai kejadian itu merupakan dampak dari kesalahan kebijakan yang diterapkan pemerintah, yakni waktu pembatasan operasional logistik saat Lebaran yang terlalu lama. Di sisi lain, kemacetan parah yang terjadi juga jadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih mengedepankan angkutan barang berbasis rel dibandingkan jalan raya. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti