Teriakan protes mengiringi langkah ratusan orang yang turun ke jalan setelah meninggalnya sopir ojek daring Affan Kurniawan.
29 Agt 2025 17:37 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS — Kematian Affan Kurniawan (21) karena dilindas kendaraan taktis Brimob mengundang gelombang protes warga yang datang di area Markas Korps Brimob Polda Metro Jaya Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025). Teriakan protes keras mengiringi langkah ratusan orang yang di area itu.
Jejak kemarahan massa sejak Kamis (28/8/2025) malam masih terlihat di lokasi. Bangkai mobil yang habis dibakar massa belum bergeser dari posisinya.
Pada Jumat siang, ratusan orang kembali mengepung kawasan Mako Brimob di Jalan Kwitang Raya, Jakarta Pusat. Sebagian besar dari mereka datang dengan mengenakan atribut ojek daring.
Massa protes berjalan bergerombol dari Simpang Senen menuju Mako Brimob. Tak henti-hentinya, warga meneriakkan kecaman keras yang ditujukan ke aparat.
”Kami datang untuk menuntut keadilan. Kami ingin pelaku ditindak dan dipecat. Semua harus transparan,” ungkap Samsul (35), pengemudi ojek daring yang ikut aksi itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/29/6083f6f1-02ff-44c3-ab3c-d6458420fd3e_jpg.jpg)
Affan menjadi korban dalam kerusuhan di sekitar Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam. Ia tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob yang melaju menerobos kerumunan di sekitar Pejompongan, Jakarta Pusat. Kerusuhan Kamis malam itu terjadi setelah gelombang unjuk rasa buruh yang dilanjut unjuk rasa memprotes tunjangan DPR yang fantastis.
Ajakan mengikuti aksi protes itu didapat Samsul dari koordinator wilayah komunitas ojek daring di Jakarta Utara. Selain itu, sejak pagi dia juga mendapatkan pesanan pengantaran yang mengarah ke Mako Brimob. Pesanan tersebut diikuti oleh ajakan aksi di sana di kolom chat.
”Teman-teman juga mendapatkan pesanan yang sama. Kami matikan aplikasi untuk datang ke sini,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/1ebaf5a208b1cb662627c1a02ae6b47a-20250829kum41.jpg)
Aksi protes tersebut diwarnai lemparan batu dan botol ke area Mako Brimob. Mereka juga mengarahkan kembang api ke dalam gerbang. Suara letusan kembang api terus menggelegar dari halaman Mako Brimob.
Aksi massa itu diredam oleh blokade TNI yang sejak Jumat pagi ikut mengamankan Mako Brimob. Aparat TNI beberapa kali menenangkan massa yang terus-terusan meminta untuk masuk ke dalam markas.
Menjelang sore, petugas kepolisian mulai melempar gas air mata ke arah kerumunan msssa. Para peserta aksi dan aparat TNI yang sedang berada di depan gerbang berlari menjauh dari lokasi.
Tian (30), pengendara ojek daring asal Depok, Jawa Barat, turut mengikuti aksi pada Jumat siang. Dia mengaku akan bertahan di sana sampai perwakilan dari Mako Brimob mengumumkan nama pengemudi rantis yang melindas Affan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/e1a57983f977ed8a886b52beedf488a2-IMG_20250829_WA0003.jpg)
Dia menilai, tindakan yang dilakukan aparat Kamis malam itu adalah pembunuhan, bukan ketidaksengajaan. Setelah melihat kejadian penabrakan di media sosial, ia tak kuasa menahan amarah saat menyaksikan rantis terus melaju, menyeret tubuh Affan. Padahal, kendaraan itu sempat berhenti setelah menabrak.
”Kalau memang tidak sengaja, seharusnya waktu menabrak itu dia mundur, bukan malah lanjut jalan melindas sampai korban terseret,” ungkapnya.
Sebelumnya, sekitar pukul 10.00, situasi di sekitar Mako Brimob sempat terkendali setelah aparat TNI dikerahkan untuk memperkuat pengamanan. Kehadiran mereka sempat meredakan kemarahan massa yang mengepung lokasi itu sejak Kamis malam.
Ketegangan terjadi antara massa dan aparat kepolisian pada aksi protes Kamis malam. Tembakan gas air mata dan ledakan petasan mewarnai aksi tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/412683b23d80f92186294daab0305a87-IMG_20250829_WA0015.jpg)
Jejak ketegangan masih tergambar jelas di sekitar lokasi. Sejumlah kendaraan tampak hangus terbakar. Bagian kendaraan yang sudah hangus dijarah oleh sejumlah warga untuk dijual kembali. Sementara kaca pos pengamanan di Mako Brimob terlihat pecah oleh lemparan batu.
Setelah sempat mereda pada Jumat pagi, menjelang siang ratusan orang kemudian berkumpul di kawasan Simpang Senen, yang berjarak sekitar 200 meter dari Mako Brimob. Hingga Jumat sore, aksi protes yang diwarnai petasan dan gas air mata masih terus berlangsung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/29/6da891b011a6013d26b40dc4bb338be3-IMG_20250829_152238_001.jpg)
Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Asep Edi Suheri berjanji akan mengusut kematian Affan Kurniawan secara profesional dan transparan. Dia berjanji akan mengevaluasi dan memperbaiki secara menyeluruh pola pengamanan aksi massa agar kejadian serupa tidak terulang.
”Kadiv Propam sudah menyampaikan bahwa tujuh orang saat ini sedang dalam pemeriksaan dan sudah ditahan. Ke depan, semua proses akan berjalan secara transparan, obyektif, dan dapat dipantau oleh semua pihak,” ujarnya.
Penulis:
Fajar RamadhanEditor:
Irene Sarwindaningrum, Andy Riza HidayatPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto