Kematian Warga Saat Berebut Makanan di Garut, Sosiolog: Bukan Sekadar Masalah Ekonomi

Dua warga tewas saat berebut makanan gratis di pesta pernikahan anak Gubernur Jawa Barat di Garut. Seorang korban lain adalah polisi yang berupaya membantu warga.

18 Jul 2025 21:22 WIB · Kriminalitas

Oleh Dahlia Irawati

MALANG, KOMPAS — Tewasnya tiga orang, termasuk dua warga yang berdesakan dalam pesta syukuran pernikahan putra Gubernur Jawa Barat di Lapangan Otto Iskandar Dinata, Kabupaten Garut, Jawa Barat, disebut bukan sekadar berakar pada masalah ekonomi. 

Hal itu tampak dari perempuan yang sudah tua dan membawa anak usia delapan tahun di tengah kerumunan orang untuk mendapat makan gratis, yang kemudian berujung kematian anak tersebut. Kedua korban adalah nenek dan cucunya. Padahal, orangtua seharusnya akan mencegah anak ikut berkerumun karena berbahaya. Apalagi, jika melihat situasi massa yang tak terkendali.

”Tapi, di sini naluri itu tumpul. Ini bisa jadi karena naluri masyarakat telah tererosi selama puluhan tahun dengan kondisi sosial masyarakat yang menormalisasi risiko sebagai bagian hidup sehari-hari. Saya melihat masyarakat sudah terbiasa hidup dalam kondisi prekariat atau hidup di tepi jurang sehingga mereka tidak bisa lagi mampu membedakan risiko masuk akal dengan risiko fatal,” ujar Wida Ayu Puspitosari, dosen Antropologi Sosial Universitas Brawijaya, Jumat (18/7/2025).

Menurut Wida, kematian tiga orang di Garut tersebut bukan sekadar berakar pada kemiskinan ekonomi. Lebih jauh adalah kemiskinan kognitif. ”Kemiskinan kognitif di mana sudah direproduksi secara sistematis dengan sistem pendidikan gagal, media yang sering mengutamakan sensasi daripada edukasi, hingga struktur sosial yang menghukum pemikiran kritis,” ucapnya.

Warga berdesak-desakan dalam acara syukuran pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Kabupaten Garut, Jumat (18/7/2025). Tiga orang meninggal dunia dalam peristiwa ini.

Kondisi ini, menurut Wida, menciptakan masyarakat yang telah kehilangan kemampuan dalam melakukan asesmen risiko. ”Masyarakat tidak mampu menghitung probalibilitas risiko karena seluruh hidup mereka sudah jadi perjudian dengan kematian. Dan paling tragis adalah, bagaimana masyarakat telah kehilangan kemampuan untuk belajar dari pengalaman kolektif mereka sendiri. Misalnya tragedi kerumunan massal dalam tragedi 1998 atau tragedi publik lain yang sudah jadi sejarah panjang di Indonesia,” katanya.

Menurut Wida, saat tragedi kematian tiga orang di Garut ini muncul, masyarakat melihat seolah-olah ini baru kejadian pertama kali. ”Padahal tidak. Artinya, tidak pernah ada memori kolektif akan dampak negatif serupa yang bisa ditransformasi dari generasi ke generasi agar kejadian memilukan ini tidak terus berulang,” ucap Wida.

Wida menyebut, masyarakat Indonesia saat ini cenderung bertindak dengan herd mentality atau mentalitas kerumunan/kelompok, di mana masyarakat cenderung mengikuti perilaku/pendapat massa, bahkan meskipun itu bertentangan dengan kepentingan pribadi. Masyarakat kehilangan cara beradaptasi dengan lingkungan (termasuk cara melindungi diri sendiri) karena mengikuti ”arah” kerumunan.

Acara syukuran pernikahan putra sulung Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yaitu Maula Akbar dengan Wakil Bupati Garut Luthfianisa Putri Karlina menelan korban jiwa. Dua warga dan seorang polisi meninggal, diduga saat warga berdesakan ketika mengantri makanan gratis di gerbang barat Alun-alun Garut, Jawa Barat, Jumat 18 Juli 2025 siang.

”Jadi, kematian ini adalah gejala masyarakat yang sudah kehilangan cara mereka beradaptasi dengan lingkungan. Tragedi Garut bukan anomali, tetapi hasil yang sudah dapat diprediksi dari sistem sosial yang sudah rusak. Rusak karena manipulasi politik ataupun dari degradasi kemampuan masyarakat melindungi diri,” kata Wida.

Berdesakan

Diberitakan sebelumnya, dua warga dan seorang anggota polisi meninggal dalam acara syukuran pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Lapangan Otto Iskandar Dinata, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025). Diduga warga saling berdesak-desakan dalam acara tersebut.

Kegiatan ini merupakan rangkaian dari acara pernikahan Maula Akbar Mulyadi dan Wakil Bupati Garut Putri Karlina. Maula adalah putra sulung Dedi Mulyadi.

Warga antre  pada hari terakhir pencairan tahap pertama Bantuan Sosial Tunai dari kemensos di Kantor Pos Kota Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (11/6/2020). Panjangnya antrean membuat warga mengabaikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 dengan berdesakan saat menunggu antrean. Dalam dua hari Kantor Pos  harus mencairkan Bantuan Sosial Tunai kepada 9000 keluarga penerima manfaat di Sidoarjo. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Sebelumnya Maula dan Putri telah melaksanakan ijab kabul pada Kamis (17/7/2025). Dalam acara di Lapangan Otto Iskandar Dinata pada Jumat ini, warga dapat menikmati aneka makanan gratis.

Warga yang datang ke acara ini kemudian berdesak-desakan sekitar pukul 13.00 WIB. Dalam video yang beredar di media sosial, warga dari berbagai kalangan usia tak bisa bergerak. Ada warga terinjak dan hingga kemudian didapati tiga orang meninggal dalam pesta yang berujung duka itu.

Berulang

Kasus kematian tragis di mana bermula dari rebutan dan desak-desakan untuk mendapatkan sesuatu sudah bukan hal baru di tanah air. Setelah lebih dari 10 tahun, kasus seperti ini kembali terjadi kali ini.

Salah satu kematian paling tragis terjadi di Pasuruan, Jawa Timur, tahun 2008. Saat itu, ribuan orang antre sejak pagi di dekat rumah orang yang akan membagikan bahan pokok. Mereka berebut masuk demi mendapatkan zakat 2,5 kilogram (kg) beras atau setara dengan uang Rp 30 ribu per orang saat itu.

Aksi desak-desakan dan rebutan masuk itu menyebabkan banyak warga pingsan, bahkan berujung kematian. Setidaknya 21 orang tewas dan puluhan lainnya dilarikan ke RS karena tak sadarkan diri.

Kasus kematian akibat berebut sesuatu hal bukan ini saja. Tahun 2013, rebutan daging saat pembagian daging kurban di Masjid Istiqlal juga menyebabkan orang berdesak-desakan. Seorang warga lansia tewas dalam kegiatan itu meski disebut korban tewas saat sedang berjalan.

Kasus-kasus kematian tragis seperti ini terus saja terjadi. Apakah kecerobohan ini terus tereproduksi? Benarkah masyarakat kita sudah sangat tergantung dan kehilangan naluri melindungi diri? Mari mengetuk nurani masing-masing. Sampai kapan hal-hal seperti ini akan terjadi?

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Dahlia Irawati
 | 

Editor:

Harry Susilo