PSG melewati ujian terberat di fase grup Piala Dunia Antarklub dengan menghancurkan Atletico. Mereka tetap menunjukkan sifat bengis meski tidak diperkuat Dembele.
16 Jun 2025 06:05 WIB · Olahraga
LOS ANGELES, SENIN — Paris Saint-Germain melewati ujian pertama sekaligus terberat pada fase penyisihan grup Piala Dunia Antarklub dengan kemenangan besar 4-0 atas Atletico Madrid di Stadion Rose Bowl, Los Angeles, Amerika Serikat, Senin (16/6/2025) dini hari WIB. Laga ini memperlihatkan sisi bengis PSG yang kerap menang dengan skor telak dalam tiga laga terakhir.
Atletico bisa dikatakan sebagai lawan paling sepadan dari PSG di fase penyisihan Grup B. Dua tim lainnya di Grup B, Botafogo dan Seattle Sounders, punya kualitas di bawah juara Liga Champions Eropa itu. Menghadapi Atletico yang berpotensi menjadi batu sandungan, PSG relatif tidak mendapat kesulitan sehingga meraih poin sempurna di laga pembuka.
PSG menampilkan gaya permainan dengan determinasi dan rotasi tanpa henti yang membawa mereka memenangi Liga Champions. Gelandang Fabian Ruiz mencetak gol pembuka PSG pada menit ke-19 lewat sepakan keras mendatar jarak jauh.
Vitinha lalu menggandakan keunggulan PSG pada waktu tambahan babak pertama. Di babak kedua, PSG mempertegas keunggulan melalui Senny Mayulu pada menit ke-87. Tidak berselang lama, Lee Kang-in mencetak gol keempat lewat eksekusi penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/8507a31459d97ff8c0673866b0427909-CWC_PSG_Atletico_Madrid_Soccer_2_.jpeg)
Ini adalah ketiga kalinya, secara beruntun, PSG mengakhiri laga dengan skor mencolok. Sebelumnya, tim arahan pelatih Luis Enrique tersebut mengalahkan Stade de Reims, 3-0, pada final Piala Perancis. Sisi bengis PSG mulai tampak ketika mereka menghancurkan Inter Milan, 5-0, pada final Liga Champions.
Kali ini, sifat bengis PSG tidak hilang, tetapi justru makin pekat seiring kemenangan telak atas Atletico. Tiga kemenangan beruntun dengan skor telak itu menjadikan PSG sudah mencetak 12 gol tanpa sekali pun kebobolan.
”Penampilan yang sangat bagus. Seperti biasa, saya akan berbicara tentang tim. Kami bermain dengan sangat baik. Tidak mudah, sulit dengan suhu (panas) seperti ini. Kami bermain baik melawan tim yang sangat bagus. Semua orang tahu Atletico adalah tim yang tangguh, tim yang agresif. Kami berhasil mengendalikan seluruh permainan,” kata Vitinha.
Meski tidak diperkuat penyerang Ousmane Dembele yang cedera, serangan-serangan PSG tetap berbahaya. Saat para penyerang terbentur kebuntuan dalam mencetak gol, para gelandang PSG tampil sebagai pahlawan. Penyerang sayap Khvicha Kvaratskhelia kali ini lebih berperan sebagai pembuka ruang dan penyedia umpan matang.
Pemain berpaspor Georgia itu berkontribusi terhadap dua gol PSG di babak pertama. Ia juga seharusnya mencetak gol tetapi digagalkan kiper Jan Oblak dan mistar gawang. Gol pertama PSG tercipta berkat kecerdasan Kvaratskhelia. Ia mampu merangsek ke area penalti Atletico, lalu menerima bola pada posisi tubuh membelakangi gawang dan dengan cerdik mengumpankannya kepada Ruiz.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/569754f122c8cbb3d8cf523b0b445a83-wires_photo_1_.jpg)
Asis keduanya tercipta pada fase akhir serangan balik yang berlangsung bagaikan kilat. Kvaratskhelia berlari kencang di sisi kiri sebelum mengumpankannya kepada Vitinha.
Pergerakan Kvaratskhelia di laga ini memperlihatkan betapa dirinya seperti diliputi rasa lapar dan haus akan bola. Dia sulit dihentikan saat menguasai bola dan tidak enggan berlari menekan ketika kehilangan bola.
Di sisi lain, para pemain Atletico tidak merespons secara cepat meski sudah tertinggal dua gol di babak pertama. Suhu panas turut memengaruhi stamina mereka lantaran pertandingan dimulai tengah hari pukul 12.00 waktu setempat.
Alih-alih terus menekan dan mengejar bola, para pemain Atletico cepat kelelahan bermain pada siang terik. Pada satu momen, bek kiri Atletico, Javi Galan, yang jarang naik membantu serangan, kehilangan bola di area pertahanan PSG. Ia tidak langsung berlari merebut bola, tetapi hanya berdiri di sana dan tampak linglung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/16/b5879a1dda472d2ca50d962cc4807d87-CWC_PSG_Atletico_Madrid_Soccer_4_.jpeg)
Enrique bahkan harus tampil dengan celana pendek dan kaus tipis akibat suhu terik. Pemandangan seperti itu cukup langka mengingat para pelatih di Eropa biasanya mengenakan setelan jas lengkap, atau minimal tidak mengenakan celana pendek saat mendampingi tim. Akibat suhu terik, wasit harus memberikan kesempatan kepada para pemain melakukan pendinginan di tepi lapangan.
”Senang (dengan hasil ini). Saya rasa kami bersaing di level yang sama seperti sebelumnya. Bahkan, dengan suhu dan panas seperti ini. Anda harus mengatasi (panas) karena ini adalah waktu terbaik untuk negara-negara Eropa, tetapi sulit bermain dalam kondisi seperti ini, kata Enrique.
Berkat tiga poin dari Atletico, PSG kini memimpin Grup B. Langkah ”Les Parisiens” menuju fase gugur semakin terbuka karena akan bertemu Botafogo, kemudian Seattle Sounders, yang punya materi pemain di bawah Atletico pada laga berikutnya. (AFP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari