Kembang Kuburan

Cinta mereka tumbuh di kuburan. Asmupa tertawa tak terkendali. Kehidupan dan kematian saling terkait.

09 Mar 2025 04:01 WIB · Sastra

Oleh A Muttaqin

 

-

Tentu hanya Tuhan yang tahu, mengapa Asmupa demikian mencintai Markakim. Sejak bau kencur, Asmupa telah menunjukkan kecantikan yang sungguh menakjubkan. Matanya tajam. Alisnya tajam. Kulitnya bersih. Tubuhnya berisi. Wajahnya memancarkan aura gaib dan mencemaskan. Tak heran bila saat remaja, Asmupa adalah fantasi bagi setiap lelaki di kampungnya. Di hadapan Asmupa, para bocah langsung menjelma menjadi lelaki dewasa dengan rayuan dan lelucon cabul yang menggetarkan.

Kendati demikian, Asmupa memiliki satu keganjilan. Ia gemar tidur di kuburan.

Kegemaran ini kapan persisnya terjadi, tentu hanya Tuhan (dan barangkali juga setan) yang tahu. Yang jelas, jika teman-teman madrasahnya kehilangan Asmupa saat jam pelajaran dan oleh gurunya ditanya perihal ini, hampir dengan pasti mereka menjawab: ”Di kuburan!” Dan menjelang umur perawan, tatkala hatinya gundah, atau gembira, atau sedang ingin sendiri, tak ada tempat yang bisa ia andalkan selain kuburan. Lantaran inilah orang sekampungnya memberi Asmupa julukan: Kembang Kuburan.

Namun, jangan heran bila benih cinta ternyata bisa tumbuh di kuburan.

Betapa tidak. Markakim, pemuda gemblung yang punya kegemaran tak kalah mengerikan, yakni memburu telur kranggang, justru mendapatkan cinta Asmupa di kuburan. Ya, di kuburan yang ditunggu pohon-pohon jangkung dan rindang inilah nasib mempertemukan Asmupa dan Markakim saat si pemburu itu mengincar sarang kranggang yang menggantung di pohon gayam. Sarang yang lumayan besar dan tampak mengandung telur berlimpah.

Sebetulnya, banyak atau sedikit telur kranggang bukan tujuan utama bagi Markakim. Tak seperti pemburu lain yang mencari telur kranggang untuk menyambung hidup, Markakim melakukan itu sekadar hobi belaka. Markakim tak pernah menjual telur kranggang ke tengkulak pakan burung seperti pemburu lain. Bahkan telur-telur itu dengan sukarela kerap ia bagi ke sesama pemburu yang kurang beruntung atau hanya ditinggalkan begitu saja di bawah pohon agar dinikmati burung-burung liar.

Sebagai lelaki berjiwa petualang dan suka tantangan, yang menjadi kepuasan Markakim adalah jika ia mendapati sarang kranggang di pohon tertinggi dan tak seorang pemburu pun berani menjamahnya: ”Ini baru sarang perawan,” ujar Markakim girang jika ia mendapat sarang yang demikian.

Dan itu lumrah saja. Tak mungkin watang pemburu-pemburu itu bisa mencapai sarang yang terlalu tinggi kecuali dengan memanjatnya. Dan, ketahuilah, memanjat sarang kranggang membutuhkan tekad dan nyali yang kuat. Sebab, kranggang-kranggang yang garang dan gesit itu akan merubung dan menyerang si pemburu dan itu sama saja dengan terperosok ke neraka jahanam. Karena keberanian itu, tak heran bila orang-orang memberi gelar Markakim sebagai Raja Kranggang.

Quote

Duh, duh, duh, beruntungnya semak-semak itu…

Dan di kuburanlah benih cinta Asmupa dan Markakim tumbuh.

Kala itu, matahari tepat di atas kepala dan Asmupa yang sudah tak kuat menahan letupan dahsyat di sekitar kandung kemihnya, terpaksa kencing di sebalik semak di sisi pohon gayam di tengah kuburan. Mengira siang itu tak ada orang kecuali yang telah bersemayam di bawah nisan, Asmupa tersentak tatkala tiba-tiba mendengar suara yang seperti telah dikenalnya.

”Duh, duh, duh, beruntungnya semak-semak itu…”

Asmupa langsung mencari sumber suara itu. Dan di atas pohon, ia mendapati Markakim melepas senyuman yang sungguh menjengkelkan.

”Bangsat. Kau mengintipku!” umpat Asmupa.

”Duh, duh, duh, berani betul kau kencing di kuburan.”

”Jangan banyak bacot, turun!”

Menahan marah dan malu, Asmupa lalu mengambil batu dan melemparkan ke arah Markakim. Beruntung batu itu hanya mengenai ranting dekat kakinya. Asmupa lalu lari lintang-pukang ke selatan, menuju telaga yang biasanya digunakan warga untuk mengambil air minum. Siang itu, sang telaga tampak hijau, sunyi, dan tenang. Di situ Asmupa menangis sesenggukan. Asmupa memejamkan mata, seperti tak sudi melihat apa pun. Namun, apa boleh buat. Dalam terpejam, ia justru melihat Markakim tersenyum, senyum yang lebih mengerikan ketimbang jerangkong penunggu kuburan.

Asmupa menjadi semakin benci, jijik, dan malu.

Tak tahu harus berbuat apa, Asmupa lalu berjalan, lurus ke arah sebatang kayu di antara dua batu yang biasa digunakan warga sebagai pijakan untuk menimba air. Tanpa berpikir lagi, Asmupa pun menerjunkan diri. Ia ingin segera mati. Tapi sungguh maut bukanlah sesuatu yang bisa direncanakan. Saat Asmupa megap-megap, Markakim yang rupanya menguntit Asmupa dari kejauhan langsung terjun dan menyelamatkannya. Sigap mengambil kesempatan berharga dan diimpi-impikan semua lelaki di kampungnya, Markakim langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Asmupa, mengarahkan mulutnya ke mulut indah gadis itu dan meniupkan nafas buatan.

Tentu saja Asmupa, yang tidak jatuh pingsan, tahu betul perbuatan Markakim. Namun demikian, ia hanya diam dan menyerah saja. Ia bahkan sempat merasakan bibir Markakim yang ndower dan hangat di bibirnya dan menikmati sensasi licin yang tak pernah ia bayangkan.

Siang itu, telaga yang sunyi menjadi lebih sunyi lagi. Tak ada satu burung pun yang terdengar berbunyi.

”Kawini aku secepatnya,” kata Asmupa tiba-tiba.

”Duh, duh, duh, sembrono...”

”Kawini aku.”

”Duh, duh, duh, ngawur...”

”Kawin!!!” bentak Asmupa.

Hari itu sungguh menjadi malapetaka bagi kaum laki-laki di sana. Sebab permintaan Asmupa ibarat doa yang mustajab. Sejak kecil, ia telah menjadi bocah yang paling merdeka dan terbiasa berbuat sekenanya. Warsiani, sang ibu, juga sangat memanjakan Asmupa sejak ia menjadi janda dan tak ingat berapa lelaki yang menanam bibit di rahimnya hingga Asmupa lahir ke dunia. Warsiani tak pernah bisa menolak keinginan Asmupa, termasuk kehendaknya kawin dengan si Raja Kranggang.

Quote

Edan. Tahu saja Asmupa kalau Markakim lelanange jagat. Lihat saja ke mana-mana bawa watang…

Hati Warsiani tentu sangat berat melepas anak semata wayangnya yang jelita ke pangkuan si bujang gemblung yang sehari-hari hanya masuk-keluar hutan dan kuburan untuk memburu telur kranggang. Padahal, jika mau, Asmupa bisa mendapatkan lelaki paling terpandang. Namun, apa boleh buat. Anak gadisnya itu sudah semprul sejak dalam kandungan dan Warsiani hanya bisa menghibur diri dengan berpegang pada nasihat Nabi: ”Orang sabar disayang Tuhan.”

”Kembang Kuburan akan jadi milik Raja Kranggang!” kata Tarman seraya membanting kartu domino.

”Markakim, si Balak Enam itu, mujur betul,” ujar Kasto.

”Edan. Tahu saja Asmupa kalau Markakim lelanange jagat. Lihat saja ke mana-mana bawa watang…” kata Matukiran.

Semua pun tertawa cekikikan.

Perkawinan Asmupa dan Markakim berlangsung sekadarnya. Karena tak ingin membuat gempar warga, perkawinan itu diselenggarakan dengan sederhana dan dalam tempo yang sesingkat-sesingkatnya, dihadiri Modin, Bayan, Pak RT, dan empat sanak Markakim. Tak ada jamuan istimewa. Tak ada tayub dan dangdut koplo yang digandrungi anak-anak muda di sana. Setelah akad nikah beres, Pak Modin sempat membisiki Markakim: ”Cangkul istrimu dari depan dari belakang, sebab ia ladang tempat kau bercocok tanam…”

Tentu saja Markakim tak mengerti maksud Pak Modin.

Tapi, sebagai lelaki yang hampir sepanjang umurnya bergumul dengan sarang kranggang, ia tahu jika ada sarang yang mentul-menantang, ia hanya perlu watang panjang dan menyogroknya dengan khusyuk dan tenang. Dan itulah yang diamalkan saat menjalani malam pertama yang mendebarkan. Seperti sebuah pohon besar, Asmupa ia panjat, ia goyang-goyang ke kiri dan ke kanan, ia telusuri sarangnya di antara ranting dan lebat dedaunan, lalu menyogroknya sampai telur-telurnya rontok dan berhamburan ke keranjang di ujung watang.

Esoknya, Asmupa dan Markakim bangun agak kesiangan.

Kendati demikian, wajah Asmupa tampak cerah dan bercahaya, dan ia tahu: Markakim memang sungguh jantan. Cintanya bertambah dalam. Wajahnya dipenuhi syukur dan sukacita. Warsiani yang juga pernah muda hanya tersenyum maklum saat menghidangkan sarapan. Sebelum berangkat ke ladang, ia berpesan:

”Segera turun dari ambin sebelum nasi, sayur dan ikannya dingin.”

Tanpa mandi, Asmupa dan Markakim langsung ke meja makan. Mereka makan dengan rakusnya seolah telah merampungkan kerja paling berat yang menguras seluruh tenaga.

”Hari ini, Sampean tak boleh nyogrok keranggang,” kata Asmupa.

”Duh, duh, duh, hanya sebentar,” ujar Markakim.

”Tak boleh.”

”Duh, duh, duh, sebentar saja.”

”Sebelum bedug dobol, Sampean kudu sudah di rumah.”

”Tentu saja.”

Begitulah. Setelah menggerojok tubuhnya di sumur, dengan badan dan pakaian yang masih basah, Markakim berangkat. Sambil menggotong watang panjang ia melewati warung kopi tempat para pemuda biasa kongkow dan santai. Melewati sisi kiri warung itu, Markakim berjalan dengan percaya diri, siap dengan celotehan dan ejekan.

”Wahai Raja Kranggang, bagaimana rasanya menghisap madu Kembang Kuburan?” kata Tarman.

Markakim tersenyum ringan, tak menghiraukan celoteh si Tarman. Dengan langkah yang tegap dan mantab, ia berjalan ke selatan, lurus menuju kuburan, sebab ia tahu di sana masih ada sarang yang belum ia taklukkan.

Markakim mengebatkan langkah, mempercepat kerjanya, tak alon-alon waton kelakon seperti biasanya, sebab Asmupa tengah menunggu dengan senyum dan cinta yang hanya bisa didapat di surga sana. Sampai di kuburan, Markakim langsung menuju ke pohon gayam yang menjulang di tengah kuburan. Mengucap salam dan permisi kepada Begejil penunggu gayam, Markakim menyandarkan watang dan memanjatnya. Melewati cabang-cabang yang rumit dan lebat, Markakim terus memanjat dan memanjat, tak menggubris gigitan keranggang yang mulai terasa di tangan dan kakinya, seolah mengingatkan Markakim agar ia tak mengusik ketenteraman telur dan anak-anaknya.

Markakim mengambil watang dan naik lagi, mengarahkan watang itu pada sarang yang dituju dan naik lebih ke atas lagi. Sementara itu, kranggang-kranggang mulai merambat ke punggung, perut, leher dan kepala Markakim. Merasa teracam, kranggang-kranggang itu menyerang Markakim dengan gigitan yang kuat dan Markakim yang seumur-umur seperti kebal dengan gigitan itu, mulai kelimpungan. Gigitan kranggang-kranggang itu terasa nyeri, panas, dan gatal.

Kendati demikian, Markakim tak mau menyerah begitu saja. Ia tetap naik lebih tinggi hingga watang-nya menyentuh sarang itu. Tahu bahwa ia telah mencapai jarak yang tepat antara watang dan sarang kranggang itu, tanpa banyak pertimbangan, Markakim langsung menyogrok sarang itu. Namun ia lupa—sebuah kecerobohan yang sulit dimengerti terjadi pada penyogrok ahli macam Markakim—ia berada tepat di bawah sarang kranggang dan sarang yang robek itu menjatuhkan ribuan kranggang ke wajahnya.

Seperti raja Abrahah yang dilempar ribuan kerikil dari neraka, kranggang-kranggang itu menyerang Markakim tanpa ampun, sebagian masuk hidung, mulut, dan menggigit seluruh wajah Markakim. Markakim yang kelimpungan menjatuhkan watang dan mulai hilang keseimbangan. Saat satu keranggang itu berhasil mencapai mata dan menggigit kornea matanya, tubuh Markakim oleng dan ranting yang menjadi tumpuan kakinya patah. Markakim pun terperosok dan melesat ke bawah sana. Kepalanya membentur nisan di sisi semak, tempat ia dulu melihat Asmupa kencing. Nisan yang seolah menjadi saksi keberuntungan dan nasib buruknya.

”Mati. Markakim mati, ceblok dari pohon gayam,” kata Soman yang datang memberi kabar duka.

Quote

Saat para pengantar jenazah menggotong keranda Markakim ke kuburan, Asmupa masih tertawa dan mengikuti barisan pengantar jenazah itu di bagian paling buncit.

Mendengar ini, Warsiani langsung menjerit sekuat tenaga. Namun, Asmupa malah tertawa. Tawa yang sungguh mengerikan. Tawa yang tak putus-putusnya, bahkan sampai orang-orang yang mengambil jenazah Markakim sampai ke rumahnya. Tawa itu juga terus bergema tatkala Pak Modin dan yang lain-lain lalu-lalang mengurus jenazah Markakim, dan para ibu yang tengah takziah melihat Asmupa dengan tatapan yang hanya bisa dimengerti kaum perempuan.

”Sabar ya, Ning, sabar…”

Saat para pengantar jenazah menggotong keranda Markakim ke kuburan, Asmupa masih tertawa dan mengikuti barisan pengantar jenazah itu di bagian paling buncit. Ia bahkan menolak saat Warsiani menggandeng tangannya dan terus berjalan sambil tertawa hingga sang suami selesai dimakamkan.

”Saudara-saudara menjadi saksi, apa Markakim ini orang baik?” tanya Modin setelah membaca talkin dan hendak menutup upacara pemakaman.

”Baik!!!” jawab para pengantar serempak memberi kesaksian.

Tapi Asmupa tetap tertawa. Tawa yang kian dingin dan hampa, dan tak bisa dimengerti oleh semua yang hadir di sana.

Sejak hari itu, Asmupa kembali tidur di kuburan.

Bertahun-tahun kemudian, orang-orang yang lewat di depan kuburan masih mendapati Asmupa tertawa di sisi makam Markakim, di bawah pohon gayam yang telah mempertemukan cinta sekaliguas menjadi perantara Maut yang merenggut segalanya. 

 

Perajurit Kulon, 2025

A Muttaqin, menulis puisi dan prosa. Cerpennya terkumpul dalam bunga rampai Klub Solidaritas Suami Hilang: Cerpen Pilihan Kompas 2014, Kasur Tanah: Cerpen Pilihan Kompas 2017, dan Ihwal Nama Masjid Pucuk: Cerpen Pilihan Kompas 2022. Buku puisinya yang terbaru, Tilas Genosida, beroleh anugerah buku puisi terbaik pilihan Tempo 2024.

Antonius Kho, lahir tahun 1958 di Klaten, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan seni rupa di Bandung, melanjutkannya di Koeln, Jerman. Menerima sejumlah penghargaan, antara lain, 1st Prize ”Mask in Venice” Art Addiction Annual di Venesia (1998) Gold Masks ”Diploma of Excellence”, Palazzo Correr di Venesia (1989). Sejak 2004, mendirikan Liang Art Space (Wina Gallery), di Ubud, Bali.

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

A Muttaqin
 | 

Editor:

Moh. Hilmi Faiq