Indonesia dan Arab Saudi sama-sama tengah mengembangkan sepak bola putri. Namun, Indonesia hanya berfokus pada timnas. Liga dalam negeri ditunda lagi hingga 2027.
21 Feb 2025 17:01 WIB · Olahraga
JEDDAH, JUMAT — Timnas sepak bola putri masih unggul atas Arab Saudi. Namun, dengan perkembangan sepak bola putri yang pesat dan liga yang berjalan serta berjenjang di Arab Saudi, bukan tidak mungkin negara tersebut bisa mengimbangi atau bahkan menyalip Indonesia dalam waktu dekat. Apalagi, di sisi lain, pengembangan sepak bola Indonesia masih hanya berfokus dengan timnas, sedangkan pelaksanaan liga putri terus ditunda.
Timnas putri mengawali agenda pada 2025 dengan kemenangan 1-0 atas Arab Saudi dalam laga resmi FIFA di Stadion King Abdullah City, Jeddah, Kamis (20/2/2025) tengah malam WIB. Gol semata wayang Indonesia tercipta dari kaki Reva Octaviani lewat titik penalti pada menit ke-30.
Dengan kemenangan ini, Indonesia memang belum terkalahkan dalam tiga pertemuan dengan Arab Saudi. Pada dua pertandingan sebelumnya yang digelar 2023, ”Garuda Pertiwi” memetik hasil imbang 1-1 dan menang 1-0.
Kendati berhasil mengakhiri laga dengan kemenangan, beragam catatan evaluasi dibawa pulang ”Garuda Pertiwi” dari pertandingan ini. Soal transisi dari bertahan ke menyerang, misalnya, Indonesia belum bisa melakukannya dengan sempurna.
Alhasil, berkali-kali kesempatan serangan balik terputus karena hanya satu pemain Indonesia yang menekan pertahanan lawan. Tidak ada dukungan dari pemain lain yang masih tertinggal di daerah pertahanan sendiri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/2e13fc6314499d839c71c3064fa9d367-IMG_3540.jpeg)
Problem ini lebih sering muncul pada babak kedua ketika Arab Saudi banyak menyerang dan Indonesia mengandalkan serangan balik. Selepas turun minum juga, Indonesia lebih banyak tertekan. Alih-alih menjalankan skema permainan dengan nyaman karena dalam kondisi unggul, Vivi Oktavia Riski dan kawan-kawan lebih sering panik ketika akan membangun serangan.
Sebaliknya, Arab Saudi bermain dengan tenang dan menjalankan skema permainan mereka tanpa terlihat tertekan karena tertinggal. Menjelang akhir babak pertama, Arab Saudi nyaris menyamakan skor setelah Al Bandari Mubarak mampu melewati kiper Indonesia, Laita Roati, dan melepaskan tendangan ke arah gawang.
Beruntung bagi Indonesia, Vivi siaga di depan gawang untuk menyapu tendangan tersebut. Tiga menit menjelang akhir pertandingan, Arab kembali mengancam gawang Indonesia dengan tekanan beruntun. Semuanya tidak berbuah gol karena bola membentur mistar gawang.
”Pertandingan hari ini sangat luar biasa dan juga agak menegangkan karena Arab Saudi sebagai tuan rumah. Tegang dengan suporter yang banyak, tetapi juga untungnya ada suporter Indonesia. Intinya luar biasa, kerja keras teman-teman, pelatih, ofisial, yang membuat kami lebih mudah bermain. Banyak yang harus diperbaiki, apalagi fisik, juga dari segi permainan satu-duanya, juga bisa dibilang kurang baik,” kata Kapten timnas putri, Vivi Oktavia Riski
Sementara itu, pelatih timnas putri, Satoru Mochizuki bersyukur timnya mampu memenangi laga itu. Namun, Mochizuki terkejut dengan penampilan Saudi yang cukup kuat.
”Kami bersyukur bisa menang, tetapi di luar prediksi, ternyata Arab Saudi cukup kuat. Mereka kuat dalam duel satu lawan satu, sering memenangkan bola, bagus juga saat membangun serangan. Padahal, itulah yang ingin kami lakukan,” kata Mochizuki
Di atas kertas, Indonesia lebih unggul dari Arab Saudi dalam beberapa aspek. Dari peringkat dunia, misalnya, Indonesia yang memiliki posisi lebih baik dari Arab Saudi. Garuda Pertiwi menempati peringkat ke-97 dunia. Sedangkan Arab Saudi berada di urutan ke-166.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/11/01e49b1f-a30f-4bc9-a133-a50cf4fc3459_jpeg.jpg)
Akan tetapi, peringkat Arab Saudi saat ini merupakan lonjakan yang terjadi dalam empat bulan. Tim ini naik 8 peringkat dari peringkat terakhir bulan Agustus sekaligus jadi posisi terbaik mereka sejak masuk ke dalam peringkat dunia pada Maret 2023.
Apabila dibandingkan dengan Indonesia yang sudah punya timnas putri dan debut di turnamen internasional sejak 1977, Arab Saudi baru meluncurkan timnas putrinya pada 2021. Namun, rentang yang jauh itu bukan juga jaminan apa pun. Terlebih, dalam empat tahun terakhir, Arab Saudi menunjukkan keseriusan mereka membangun sepak bola putrinya.
Tim berjulukan ”The Green Ladies”, di bawah kepemimpinan pelatih Luis Cortes, telah memainkan 29 pertandingan, mencetak 32 gol, dan telah berpartisipasi dalam 15 kamp pelatihan. Kehadiran kompetisi dalam negeri juga telah memberikan kontribusi terhadap pengembangan performa para pemain timnas.
Setelah membentuk timnas pada 2021 dan meluncurkan program pemusatan latihan regional melibatkan 700 remaja putri, Arab Saudi meluncurkan liga dengan dua kasta. Liga sepak bola putri itu bernama SAFF (Federasi Sepak Bola Arab Saido) Women’s Premier League dan First Division League pada 2022.
Dua tahun berselang, Arab Saudi juga menggelar Saudi Women’s Second Division League, kompetisi sepak bola putri kasta ketiga. Kompetisi ini diikuti oleh 25 tim yang terbagi dalam lima grup.
Berdasarkan laporan NEOM, perkembangan dari 2021-2023 itu menciptakan peningkatan 195 persen jumlah pemain yang terdata. Ada juga peningkatan sebesar 112 persen jumlah klub sepak bola putri. SAFF kini punya lebih dari 35 perempuan wasit, lebih dari 1.000 pelatih berkualifikasi, dan 50 pemain internasional dari 20 negara yang berpartisipasi di SAFF Women’s Premier League.
Situasi ini berbanding terbalik dengan Indonesia. Ironisnya, kemenangan Indonesia atas Arab Saudi tercipta hanya berselang beberapa jam setelah Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengumumkan kabar soal penundaan kembali liga putri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/50e9884c2bd10308daba01f963362ea7-Screenshot_2025_02_21_at_12.42.34.png)
Dalam unggahannya di Instagram, Erick mengatakan bahwa pihaknya baru menggelar rapat untuk perencanaan Liga 1 Putri yang akan bergulir pada 2027. ”Kami membuat proyeksi dengan menghitung potensi di beberapa bidang, mulai dari operasional, kompetisi, dan komersial untuk 10 tahun mendatang,” tulis Erick.
”Kami juga akan melakukan benchmarking dengan sejumlah liga putri yang sudah berjalan di luar negeri, seperti liga di Belanda, Jepang, dan Inggris. Dengan persiapan yang matang, kami ingin Liga 1 Putri bisa bergulir untuk jangka panjang dan bisa meningkatkan kualitas pemain sepak bola putri yang akan memperkuat timnas putri Indonesia,” tulisnya lagi.
Padahal, dalam beberapa kesempatan, Erick memastikan bahwa liga putri akan bergulir pada 2026. Alasannya, talenta pemain belum cukup untuk bisa digelar kompetisi dalam waktu dekat. Erick menargetkan Liga Putri sudah diputuskan secara resmi pada Kongres Biasa PSSI 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/12/28/15a68123-3318-4d4b-a7c7-748c5d3af6a5_jpg.jpg)
Kompetisi sepak bola putri pertama kali digelar dengan tajuk Liga 1 Putri pada 2019. Setelah Persib Putri keluar sebagai juara, kompetisi itu tidak dilanjutkan pada musim selanjutnya. Dalam tiga tahun, liga tidak digelar dengan alasan pandemi. Namun, pada 2021, ketika tiga kasta kompetisi sepak bola putra dan kompetisi yunior telah dijalankan, Liga 1 Putri tetap tidak bergulir.
Harapan muncul ketika PSSI mendorong tim putra peserta Liga 1 untuk memiliki AFC Club Licensing Regulation, yaitu lisensi sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh organisasi sepakbola negara-negara Asia. Salah satu syaratnya adalah memiliki tim putri berbadan hukum.
Salah satu klub yang baru naik kasta pada 2021, Persis Solo, memenuhi persyaratan itu dengan membentuk Persis Women. Klub ini memiliki tujuan jangka pendek untuk bisa mengarungi kompetisi profesional yang digelar PSSI. Atas tujuan itu, model pembinaannya pun dirancang sebagai tim profesional.
Lantaran ”hilal” bergulirnya kompetisi tak kunjung muncul, Persis memilih membubarkan tim pada 2023. Asosiasi Sepak Bola Wanita Indonesia (ASBWI) pernah dijanjikan PSSI bahwa liga putri akan digelar pada 2025. Namun, dalam perkembangannya, kompetisi kembali ditunda pada 2026 hingga terbaru ditunda lagi sampai 2027.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/12/28/cd229ca0-a529-42f1-9eb6-e27db3e060fa.jpg)
Padahal, kompetisi bisa menstimulus pembinaan pesepak bola putri. Selain itu, pelatih Satoru Mochizuki bisa mencari pemain-pemain seperti Reva dengan mudah karena ada kompetisi. Dia, misalnya, tidak perlu repot-repot memantau PON yang hanya ada empat tahun sekali.
PSSI lebih berfokus mengembangkan sepak bola putri dengan membangun timnas. Pemusatan latihan yang direncanakan jangka panjang digelar untuk menggantikan ketiadaan kompetisi dalam negeri. Sementara itu, pesepak bola putri yang tidak masuk timnas masih harus kembali bertahan sekali lagi menunggu datangnya kompetisi.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar Alexey