Indonesia memastikan mendapat satu tiket final sebelum semifinal. Ini karena dua ganda putra tuan rumah akan saling berhadapan pada laga empat besar.
23 Jan 2026 23:44 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Meski pertandingan semifinal belum dimulai, Indonesia sudah bisa memastikan satu tempat di partai puncak sektor ganda putra Daihatsu Indonesia Masters 2026. Sementara itu, ganda putri menempatkan dua wakil di semifinal.
Kepastian di ganda putra itu diraih setelah Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi meraih kemenangan keenam beruntun atas pasangan Malaysia, Man We Chong/Kai Wun Tee, pada perempat final Indonesia Masters 2026 di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Jumat (23/1/2026). Sabar/Reza menang dengan skor 22-20, 21-19 dan akan berhadapan dengan sesama wakil Indonesia lainnya di semifinal, Sabtu, yakni Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.
”Tentu ada plus minusnya bertemu teman sendiri karena kami tahu kelebihan satu sama lain. Ada kesulitan tersendiri juga. Tapi, pastinya ada satu wakil final di ganda putra dan mudah-mudahan kami bisa menampilkan yang terbaik,” kata Sabar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/0f042456-5695-4859-ab74-1cbeaf7f0199.jpg)
Kemenangan Sabar/Reza menjadi penentu Indonesia bisa mendapatkan kepastian lebih cepat soal menempatkan wakil di final karena mereka berada di paruh undian yang sama dengan Raymond/Joaquin, juga dua ganda putra lainnya, yaitu Fajar/Fikri dan Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana. Leo/Bagas kalah dari Fajar/Fikri pada babak kedua.
Pada pertandingan yang selesai paling akhir pada Jumat malam, Raymond/Nikolaus mengalahkan Fajar/Fikri, 18-21, 21-19, 21-14. Ketatnya persaingan dalam setiap perebutan poin membuat pertandingan antara yunior dan senior di pelatnas tersebut berlangsung 1 jam 16 menit. Ini menjadi durasi panjang untuk ganda putra dengan tempo permainan paling cepat dibandingkan empat nomor lain.
Laga ini menjadi penutup perempat final yang epik, salah satunya karena Raymond/Nikolaus bisa mengejar senior mereka setelah tertinggal 4-12 pada gim pertama. Mereka menyamakan skor menjadi 16-16 meski akhirnya kehilangan gim tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/41c9d328-bd33-49ce-9389-76504ab317cc.jpg)
Kemenangan pada gim kedua juga didapat setelah Raymond/Nikolaus tertinggal sejak awal, sebelum akhirnya bisa merebut tiga poin terakhir secara beruntun. Anak-anak muda ini pun melepaskan emosi dengan berteriak seperti sudah memenangi pertandingan.
”Di gim terakhir, kami lebih all out saja. Karena kami habis (tenaganya), mereka juga pasti lebih habis. Jadi, kami, ya, habis-habisan saja,” ujar Raymond.
Di nomor ganda putri, dua pasangan melanjutkan langkah ke semifinal, salah satunya pasangan baru, Apriyani Rahayu/Lanny Tria Mayasari, bertahan. Rekan mereka, yang juga menjalani debut sebagai pasangan di Indonesia Masters, Siti Fadia Silva Ramadhanti/Amallia Cahaya Pratiwi, tersingkir pada perempat final. Meski mendapat hasil berbeda, mereka memiliki kesamaan, yaitu mendapat pelajaran baru dari setiap pertandingan.
Kedua pasangan tampil dalam waktu bersamaan pada Jumat malam. Apriyani/Lanny berhadapan dengan unggulan keempat asal Taiwan, Hsu Ya Ching/Sung Yu Hsuan, sementara Fadia/Amallia melawan pemain Jepang, Arisa Igarashi/Miyu Takahashi.
Tim pelatih ganda putri pun berbagi tugas: Karel Mainaky mendampingi Fadia/Amallia, sedangkan Nitya Krishinda Maheswari bersama mantan atlet ganda putri lain, Shendy Puspa Irawati, memberi arahan bagi Apriyani/Lanny.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/415e8f4e-c198-4536-8488-c9ca50874d4c.jpg)
Situasi tersebut membuat suara bising di Istora tak berhenti selama kedua pertandingan berjalan, apalagi momentum di kedua lapangan selalu berubah. Ada momen ketika Fadia/Amallia dan Apriyani/Lanny unggul, tetapi berbalik karena lawan bisa mendapat poin secara beruntun.
Fadia/Amallia, yang memenangi gim pembuka, menyelesaikan pertandingan lebih dulu, tetapi dengan hasil kalah 21-16, 11-21, 14-21. Sekitar satu menit kemudian, Apriyani/Lanny menang 21-23, 21-18, 21-19 untuk berhadapan dengan unggulan teratas asal Malaysia, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan.
Setelah itu, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum menyusul langkah Apriyani/Lanny. Mereka menang atas Luo Xu Min/Wang Yi Duo (China) 18-21, 21-16, 21-10 dan akan melawan Igarashi/Takahashi di semifinal.
Dari perempat final yang berlangsung ketat sepanjang pertandingan selama 1 jam 4 menit, Apriyani/Lanny belajar mengatasi ketegangan untuk keluar dari tekanan. Gim pertama terlepas meski mereka mendapat game point terlebih dulu pada posisi 20-18.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/23/14a573045b8e0c06e193e2a2b7b12906-20260123PRI23HR.jpg)
Pada gim ketiga, Apriyani/Lanny unggul sejak awal hingga menjelang interval, tetapi disalip sejak poin 12-13. Pemenang pertandingan ini pun sulit ditebak karena sejak saat itu selisih skor tak pernah lebih dari dua poin. Apriyani/Lanny baru bisa meninggalkan lawan setelah 18-18.
”Saya cukup tegang, apalagi pada gim terakhir. Jadi, saat akan servis, saya mengingatkan sendiri untuk sabar dan jangan nafsu. Kak Apri dan Kak Titin (panggilan Nitya) juga selalu mengingatkan untuk jangan buru-buru,” tutur Lanny.
”Saya memaklumi ketegangan yang dirasakan Lanny karena poin pada pertandingan tadi memang ketat,” ujar Apriyani.
Selain dari raut wajah, ketegangan Lanny terlihat ketika dia mudah hilang fokus sehingga kehilangan poin secara beruntun. Momen itu terjadi salah satunya pada gim ketiga saat keunggulan 10-7 berbalik menjadi 10-11. Lanny baru bisa lepas dari rasa tegang ketika berteriak sambil mengepalkan tangan saat unggul.
Dari pengalaman dalam pertandingan selama 1 jam 4 menit itu, Lanny bertekad bermain lebih tenang saat menjalani semifinal. Apalagi, Tan/Muralitharan adalah salah satu ganda putri top dunia dengan status finalis Kejuaraan Dunia 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/23/2e7f462d-20ce-4c81-82eb-42722f9ce883.jpg)
Dalam pertandingan melawan ganda putri ranking kedua dunia itu, Apriyani menargetkan bahwa dia ingin belajar menahan fokus dengan konsisten. Meskipun berpengalaman melawan Tan/Muralitharan bersama pasangan sebelumnya, Fadia, semifinal yang akan berlangsung pada Sabtu akan menjadi tambahan pelajaran baginya dengan partner barunya.
Sementara, Fadia/Amallia akan menerapkan berbagai pelajaran yang mereka dapat dalam turnamen berikutnya, yaitu Thailand Masters Super 300, 27 Januari-1 Februari. Sebagai pasangan baru, mereka belajar bekerja sama dan saling memahami kebiasaan masing-masing. ”Kami harus mencari pola permainan yang pas dan itu bisa didapat dari pertandingan,” kata Fadia.
Tunggal putra, Alwi Farhan, juga melanjutkan langkah ke semifinal. Alwi menang atas Yushi Tanaka, 22-20, 21-16, pada perempat final dan akan melawan Chi Yu Jen pada babak berikutnya. Alwi mencapai tahap ini setelah tersingkir pada babak kualifikasi di Indonesia Masters 2025.
Penulis:
Yulia Sapthiani, Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra