Antam masih mengimpor sekitar 30 ton emas per tahun. Adapun produksi emas dalam negeri semestinya bisa mencapai 90 ton dalam setahun.
14 Okt 2025 19:08 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah mengevaluasi produksi emas untuk kebutuhan dalam negeri yang masih terbatas. Evaluasi ini juga bertujuan membenahi penyediaan emas PT Aneka Tambang Tbk yang masih banyak bergantung pada impor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia saat ditemui di kantornya, di Jakarta, Selasa (14/10/2025), mengatakan, pasokan emas untuk permintaan dalam negeri tahun ini terbatas karena beberapa kondisi.
Salah satunya adalah penghentian operasi di PT Freeport Indonesia akibat peristiwa longsor di tambang bawah tanah, di Mimika, Papua, bulan lalu. Kejadian itu mengakibatkan tujuh pekerja meninggal.
Di tengah ketimpangan pasokan dan permintaan itu, harga emas belakangan ini pun melonjak. Pada Selasa (14/10/2025), harga emas batangan Antam mencapai Rp 2.360.000 per gram, yang merupakan rekor harga tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).
Rekor harga tertinggi emas Antam sebelumnya dicapai pada Senin (13/10/2025) yang berada di level Rp 2.331.000 per gram.
”Sekarang ini, kami sedang melakukan evaluasi total. Jadi, produksi terhadap konsentrat di Freeport itu belum dilakukan secara maksimal. Dengan demikian, pasti mengalami kekurangan pasokan,” kata Bahlil.
Freeport Indonesia sendiri mampu menghasilkan 3 juta ton konsentrat yang produksi olahan emasnya maksimal sekitar 50 ton per tahun. Perusahaan asal Amerika Serikat yang 51 persen sahamnya kini dimiliki Pemerintah Indonesia itu menjadi salah satu produsen emas terbesar di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/06/c1dbcfad3888d11b8de0468a81a15e79-20251006TOK12.jpg)
Selain Freeport, Bahlil juga menyebut PT Amman Mineral Internasional Tbk, yang tambangnya berada di Nusa Tenggara Barat, sebagai penghasil emas terbesar. Saat ini, perusahaan itu menambang 970.000 ton konsentrat per tahun dan dapat menghasilkan 20 ton emas per tahun.
Sementara itu, keberadaan mereka belum dapat memenuhi kebutuhan perusahaan tambang terintegrasi milik negara, seperti PT Aneka Tambang Tbk (Antam).
Mulai 2025, pemerintah telah meminta Freeport untuk menjual semua emas produksinya ke Antam. Namun, Bahlil tidak menampik, akibat gangguan operasional di Freeport saat ini, tingkat produksi belum bisa mendukung kinerja penjualan emas Antam.
”Apa yang akan dilakukan? Ke depan kita lagi membahas, mengevaluasi, bersama Dirjen Minerba, langkah-langkah apa yang harus dilakukan untuk kemudian bisa mengoptimalkan kebutuhan emas Antam,” ujar Bahlil.
Direktur Utama Antam Achmad Ardianto, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin (29/9/2025), mengungkapkan, tahun ini Antam memprediksi penjualan emas bisa mencapai 45 ton, naik dari penjualan emas sebanyak 43,7 ton di 2024 dan 26 ton di 2023.
Permintaan itu mayoritas dipenuhi dengan mengimpor sekitar 30 ton emas per tahun. Hal ini mengingat tambang emas Antam di Pongkor, Jawa Barat, hanya bisa menghasilkan sekitar 1 ton emas setahun.
Antam juga memproduksi ulang emas yang dibeli dari masyarakat atau perusahan dalam negeri. Namun, jumlah produksi dari pembelian tersebut hanya berkisar 2,5 ton per tahun.
Tantangan penyediaan emas oleh Antam, menurut Achmad, salah satunya karena tidak ada aturan bagi perusahaan penambang atau pengolahan emas untuk mengutamakan pasar dalam negeri. Padahal, potensi produksi emas di dalam negeri, baik oleh penambang rakyat atau perusahaan besar yang legal, bisa berkisar hingga 90 ton per tahun.
Sementara itu, kerja sama Antam dengan Freeport belum berjalan mulus kendati mulai tahun ini Antam akan mengambil seluruh emas Freeport.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/07/cef60af1-363d-4dbb-9b4c-437e3df18652_jpg.jpg)
Sejak April hingga akhir tahun ini, Antam diekspektasikan dapat menyerap emas batangan dari pabrik emas milik PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur, sebanyak 9 ton. Jumlah itu menjadi tahap awal dari rencana kerja sama penjualan emas Freeport ke Antam sebanyak 30 ton setahun.
”Namun, perkiraan produksi emas Freeport di tahap awal karena proses commisioning dan juga ada beberapa kejadian, mungkin baru 25 ton. Baru nanti bisa sampai 45 ton per tahun,” kata Achmad.
Sementara itu, untuk meningkatkan produksi emas di wilayah tambang yang mereka punya, Antam terus melakukan eksplorasi di Pongkor, Jawa Barat.
Tidak ada aturan bagi perusahaan penambang atau pengolahan emas untuk mengutamakan pasar dalam negeri.
Dalam laporan per 30 September 2025, yang disampaikan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Jumat (10/10/2025), kegiatan yang dilakukan berfokus pada kegiatan pengeboran yang terdiri dari in mine drilling (underground) dan deep drilling (surface).
Selain emas, kegiatan eksplorasi Antam juga berfokus pada komoditas nikel di Konawe Utara dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara; kemudian bauksit di daerah Tayan, Landak dan Mempawah-Toho, Kalimantan Barat. Jumlah pengeluaran untuk kegiatan itu sebesar Rp 176,95 miliar.
Penulis:
Erika KurniaEditor:
Agnes TheodoraPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra