Peringatan Ke-80 Kemerdekaan RI beriringan peringatan ke-123 hari lahir Bung Hatta. Jejak Hatta dapat disimak di pameran di TPU Tanah Kusir hingga 17 Agustus 2025.
16 Agt 2025 07:05 WIB · Politik & Hukum
Hujan deras tak menghentikan sejumlah pemuda yang sedang bekerja di salah satu sudut Taman Permakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta, Selasa (12/8/2025) siang. Di bawah pendopo tak berdinding, mereka memasang aneka gambar, poster, serta beberapa lembar koran lama yang dicetak besar pada panel-panel kayu. Seluruh karya itu menampilkan satu sosok, dia yang terbaring tenang di makam yang berjarak tak sampai 20 meter dari ruang pamer karya-karya tersebut, dialah Mohammad Hatta.
Di jalan masuk menuju makam proklamator kemerdekaan sekaligus Wakil Presiden Pertama Indonesia itu, ada pula sejumlah banner berisi kutipan-kutipan yang pernah ia tuliskan dan sampaikan dalam berbagai kesempatan.
”Hanya ada satu tanah yang dapat menjadi Tanah Airku, dia tumbuh sesuai upaya dan upaya itulah dayaku,” adalah satu di antaranya. Pernyataan yang disampaikan Hatta dalam pleidoinya di Pengadilan Negeri Belanda, Maret 1928 itu, menjadi salah satu dari sekian banner kutipan yang digantung berdekatan bak deretan gorden yang menutup satu sama lain.
Tak hanya itu, di jalan masuk menuju makam Bung Hatta, terpasang pula sebuah tenda panjang yang didominasi warna merah. Di bawah naungan tenda tersebut, berdiri panel-panel berisi gambaran wajah dan profil singkat beberapa tokoh yang turut mendirikan bangsa Indonesia dan dimakamkan di Tanah Kusir.
Mereka antara lain Abdurrahman Baswedan, Ali Sadikin, Buya Hamka, Soekanto Said, Mr Roem, dan Hasyim Ning. Selain itu, ada pula Soedarpo Sastrosatomo, Saifuddin Zuhri, Kasman Singodimejo, Wilopo, Syafruddin Prawiranegara, serta Soedjatmoko.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/15/19454b48cca31a69800203925892e7b2-cropped_image.jpg)
Selama enam hari berturut-turut, pameran arsip tersebut digelar di areal makam Bung Hatta yang berdampingan dengan mendiang istrinya, Siti Rahmiati Hatta. Tidak hanya untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 2025, gelaran itu juga dibuat untuk memperingati Hari Lahir Ke-123 Mohammad Hatta, yang jatuh saat pameran itu dibuka, 12 Agustus 2025.
Putri sulung Bung Hatta, Meutia Hatta, saat membuka pameran bertajuk ”Jejak Integritas Bung Hatta dan Mereka yang Melawan hingga Akhir” itu mengatakan, ziarah ke makam ayahnya memang selalu dilakukan. Akan tetapi, tahun ini pihak keluarga dan Yayasan Bung Hatta ingin memberikan warna berbeda dalam memperingati hari lahir ke-123 Sang Proklamator. Tujuannya, agar lebih banyak orang memahami karakter Bung Hatta secara lebih mendalam.
”Warna baru ini coraknya adalah kita berziarah sambil menyampaikan informasi mengenai bagaimana tekad Bung Hatta agar tidak dimakamkan di Taman Pahlawan, juga diikuti oleh sejumlah tokoh-tokoh bangsa yang mempunyai integritas,” kata Meutia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/15/4614a121-35bb-457f-8d34-bedbc544ad00_jpg.jpg)
Niat itu, lanjutnya, diwujudkan dengan memamerkan foto, arsip, dan berbagai karya seni. Menurut dia, karya-karya itu dapat menjadi petunjuk penting bahwa integritas dalam memperjuangkan kemerdekaan itu bisa dibangun tidak sebatas konsep. Meski tidak mudah, integritas dalam memperjuangkan ataupun mengisi kemerdekaan bisa dipraktikkan sepanjang hayat.
”Seperti kata Bung Hatta, tindakan lebih penting dari kata-kata,” kata Meutia.
Perjuangan kemerdekaan Indonesia memang tak bisa dilepaskan dari momentum ulang tahun Bung Hatta. Pasalnya, setelah bertahun-tahun dijajah Belanda lalu memasuki masa pendudukan Jepang, titik terang kemerdekaan Indonesia terjadi pada 12 Agustus 1945.
Pada hari ulang tahunnya yang ke-43 itu, Hatta bersama dengan Sukarno dan dr Radjiman Wediodiningrat, yang merupakan bagian dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), mendapatkan kabar langsung dari Marsekal Terauchi Hisaichi, panglima angkatan perang Jepang di Asia Tenggara bahwa pemerintah pusat Jepang akan memberikan kemerdekaan untuk Indonesia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/05/29/MOHAMMAD-HATTA97-05_1590736368_jpg.jpg)
Hatta dalam memoar ”Untuk Negeriku” jilid ketiga yang berjudul Menuju Gerbang Kemerdekaan, 2011, menceritakan, kabar tersebut disampaikan Terauchi dałam pertemuan yang berlangsung tidak sampai 15 menit di Dalat, Vietnam. Dalam pertemuan tersebut, Jepang tak hanya menyampaikan kabar, Terauchi dan stafnya juga mengucapkan selamat. Bahkan, mereka menyediakan aneka kue untuk dimakan bersama dengan para pemimpin Republik Indonesia.
Di sela-sela menikmati kudapan itu, kata Hatta, Sukarno sempat menanyakan kapan putusan dari Tokyo itu bisa diumumkan kepada rakyat Indonesia. Terauchi pun menjawab, menyerahkan sepenuhnya kepada PPKI, kapan pun siap mengumumkannya.
”Aku gembira luar biasa sebab hari itu tanggal 12 Agustus 1945, hari ulang tahunku. Dalam hati kecilku aku menganggap kemerdekaan Indonesia itu sebagai hadiah jasaku sekian tahun lamanya berjuang untuk kemerdekaan Indonesia,” tulis Hatta.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/6f7643be-beed-48e4-afb5-dad7022f2a9b_jpg.jpg)
Perjuangan meraih kemerdekaan memang dilalui Hatta selama puluhan tahun. Deliar Noer dalam ”Mohammad Hatta: Biografi Politik” jilid pertama yang berjudul Mohammad Hatta dan Pemikirannya memaparkan, perjuangan putra Minangkabau itu bermula dari munculnya kesadaran politik di dalam dirinya setidaknya ketika Hatta bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang, setingkat sekolah menengah pertama.
Di sekolah itu, Hatta mulai bergabung dengan organisasi Jong Sumatranen Bond (JSB) dan menjadi pengurus perkumpulan. Dari pergaulan di JSB, ia menghadiri berbagai ceramah atau pertemuan politik yang diadakan berbagai tokoh lokal atau tokoh dari kota-kota lain.
Kesadaran dan pemahaman Hatta mengenai masyarakat jajahan menguat dan kian meluas ketika ia melanjutkan sekolah ke Prins Hendrik Handels School (PHS) di Jakarta. Di institusi setingkat sekolah menengah atas itu, ia meneruskan aktivitas di JSB tingkat nasional. Pengalaman berorganisasi dan melihat langsung ketimpangan yang terjadi di masyarakat kolonial, menurut Hatta, membuat pemuda Indonesia termasuk dirinya lebih cepat matang dalam politik.
”(Pemuda itu) sangat cepat mengenal kenyataan pahit: ia melihat dengan mata kepala sendiri nasib dan penderitaan dari massa yang tertekan, … Ia merasakan dan memahami kesedihan dan penderitaan bangsanya. Oleh sebab itu maka dalam program hampir semua organisasi pemuda di Indonesia dapat dibaca sebagai tujan mengangkat derajat bangsa,” tulis Hatta dalam ”Indonesia Vrij” pleidoinya di Pengadilan Negeri Belanda yang dikutip Deliar Noer.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/15/8ea429c1-4208-4b64-9e30-d5e496b91020_jpg.jpg)
Oleh karena itu, ketika melanjutkan pendidikan tinggi ke Handels Hoogeschool di Rotterdam, Belanda, mulai tahun 1921, Hatta ibarat menemukan lingkungan yang tepat untuk membangun pergerakan.
Di Belanda, ia menjadi bagian dari Indische Vereniging (Perhimpunan Hindi) yang berubah nama menjadi Perhimpunan Indonesia (Indonesische Vereniging). Organisasi yang semula bersifat sosial itu berubah menjadi organisasi politik yang terlibat dalam kemerdekaan Indonesia ketika semakin banyak pelajar nasionalis yang melanjutkan studi ke Belanda, termasuk Hatta. Hatta pun memimpin Perhimpunan Indonesia pada 1926-1930.
Selain mengurus organisasi, Hatta juga aktif menulis berbagai tema terkait sikap antipenjajahan di banyak terbitan Perhimpunan Indonesia. Dia juga memperkenalkan cita-cita Indonesia serta menuntut pengakuan penggunaan nama ”Indonesia” di hadapan negara-negara lain. Pada Agustus 1926, misalnya, Hatta menjadi perwakilan Perhimpunan Indonesia untuk menghadiri Kongres Demokrasi Internasional di Bierville, Perancis, yang dihadiri perwakilan dari 31 bangsa. Pada 1927, Hatta juga bergabung ke Liga Menentang Kolonialisme di Belanda.
Berbagai aktivitas politik tersebut berujung pada penangkapan Hatta oleh Pemerintah Belanda. Ia ditahan selama enam bulan, September 1927-Maret 1928. Namun, Hatta dibebaskan dari segala hukuman setelah membacakan pleidoi yang ia susun selama berada di penjara. Pleidoi itu berjudul ”Indonesia Vrij” atau ”Indonesia Merdeka”, dibacakan saat ia diadili di Pengadilan Negeri Belanda, Maret 1928.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/03/10/20210310-TCJ-PNI-Hingga-PNI-Baru-mumed_1615392743_png.png)
Pergulatan panjang Hatta memperjuangkan kemerdekaan tidak berhenti saat kuliahnya berakhir. Sekembalinya ke Tanah Air, pada 1932 perjuangan politiknya justru lebih intens.
Ia memimpin Pendidikan Nasional Indonesia atau PNI Baru, partai politik yang sebelumnya bernama Partai Nasional Indonesia atau PNI, didirikan oleh Sukarno. PNI Baru yang dipimpin Hatta berfokus pada pendidikan kader karena ingin mewujudkan pendidikan politik rakyat yang lebih terorganisasi dan barbasis kesadaran.
Tak hanya itu, Hatta juga aktif menulis di berbagai surat kabar dan majalah, serta menjadi pemimpin surat kabar Daulat Ra’jat. Melalui tulisan-tulisannya, ia secara aktif menyebarkan gagasan antikolonial dalam berbagai artikel sosial, politik, dan ekonomi. Sebagai pemimpin partai politik, ia juga mendorong pimpinan PNI Baru lainnya untuk aktif menulis, terutama di Daulat Ra’jat agar pendidikan politik rakyat dapat terus disebarluaskan.
Namun, aktivitas Hatta lagi-lagi dianggap membahayakan stabilitas pemerintah kolonial. Ia kembali ditangkap lalu diasingkan ke Boven Digoel pada 1934 lalu ke Banda Neira pada 1936. Kendati berada di pengasingan, Hatta tetap menggencarkan pendidikan politik rakyat. Hobi membaca dan menulis pun tak ia tinggalkan. Di masa itu, ia merumuskan dasar-dasar ekonomi koperasi yang merupakan salah satu sumbangan pemikiran pentingnya bagi bangsa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/15/4493fd83-5f7e-47dc-b6ca-c2e1ea333515_jpg.jpg)
Hatta dibebaskan dari pengasingan pada 1942 ketika Jepang menduduki Indonesia. Sejak saat itu, Hatta kembali bergabung dengan para tokoh pergerakan lainnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Saking fokusnya pada perjuangan melawan kolonialisme, Meutia Hatta dalam buku Seratus Tahun Bung Hatta menuturkan bahwa ayahnya bersumpah tidak menikah hingga Indonesia merdeka.
Sumpah itu tidak hanya diketahui kalangan keluarga tetapi juga rekan sesama tokoh pergerakan, bahkan para perwira tinggi militer Jepang. Bahkan ikrar itu juga dibahas oleh Marsekal Terauchi setelah menyampaikan keputusan Jepang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Ia menanyakan, kapan Hatta akan menikah karena Indonesia akan segera merdeka.
Mengutip Memoir Miyoshi, Deliar Noer dalam ”Mohammad Hatta: Biografi Politik” jilid kedua ”Mohammad Hatta dan Persatuan Indonesia” menuturkan, saat itu Hatta tidak memikirkan soal perkawinan. Wajah Hatta pun memerah saat mendengar pertanyaan itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/15/419bc86c-b915-4473-b5a4-052f382e352c_jpg.jpg)
Seusai mendapatkan kabar pemberian kemerdekaan, Hatta memang tidak menikah dan tetap berfokus pada persiapan kemerdekaan. Hatta dan Sukarno menghadapi tentangan dari kelompok pergerakan yang menilai bahwa kemerdekaan Indonesia semestinya diraih sendiri bukan hasil pemberian Jepang. Pertentangan itu pun sempat membuat Hatta dan Sukarno diculik ke Rengasdengklok, Jawa Barat, untuk didesak segera memproklamasikan kemerdekaan.
Pertentangan itu terjadi di tengah kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dan Indonesia mengalami kekosongan kekuasaan, Indonesia pun memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Adapun Hatta, menjadi salah satu proklamator kemerdekaan selain Sukarno.
Tiga bulan setelah Indonesia merdeka, Hatta yang berusa 43 tahun dan tengah menjabat sebagai Wakil Presiden pertama RI menikah dengan Siti Rahmiati Hatta. Itu menjadi Kado berikutnya bagi Hatta, setelah kemerdekaan Indonesia yang diraih tak jauh dari hari ulang tahunnya.
Kini, dalam peringatan hari lahir Hatta yang ke-123, Republik Indonesia sudah memasuki usia yang ke-80 tahun. Dalam puluhan tahun perjuangannya, tidak ada hadiah yang lebih bermakna bagi Hatta selain kemerdekaan Indonesia.
Penulis:
Kurnia Yunita RahayuEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari