BerandaNusantaraKenaikan Harga BBM Picu I...

Kenaikan Harga BBM Picu Inflasi di Sulsel, Sektor Pertanian Memberi Harapan

Sektor pertanian yang sekian lama menjadi salah satu urat nadi perekonomian Sulawesi Selatan tetap tumbuh. Sektor ini terbukti tangguh walau dihantam krisis akibat pandemi Covid-19.

01 Nov 2022 17:18 WIB · Nusantara

Oleh RENY SRI AYU ARMAN

Aktivitas di Terminal Petikemas Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan.

MAKASSAR, KOMPAS — Kenaikan harga bahan bakar minyak memicu inflasi yang cukup signifikan di Sulawesi Selatan. Di tengah situasi ini, masih ada harapan sektor ekonomi tumbuh di atas 5 persen pada triwulan II tahun ini. Salah satu penopangnya adalah sektor pertanian.

Kondisi itu terungkap dalam paparan bertema ”Kenaikan BBM terhadap Sektor Fiskal, Moneter, dan Sosial di Regional Sulawesi Selatan” oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel Suntono di Makassar, Selasa (1/11/2022). ”Jika dibandingkan tahun lalu, inflasi April-September 2022 terus meningkat. Puncaknya pada September 2022 sebesar 6,35 persen,” kata Suntono.

Selain kenaikan harga BBM, dia menyebut sejumlah sektor yang menyumbang angka inflasi, seperti transportasi dan pendidikan. Adapun dampak kenaikan harga kebutuhan pokok masih tercatat di bawah 1 persen.

Baca juga : Cikal Bakal Kota Makassar

single

Meski terjadi inflasi, kata Suntono, pertumbuhan ekonomi masih memberi harapan. Data BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Sulsel pada triwulan II tumbuh sebesar 8,38 persen (q to q). Sementara itu, dilihat dari distribusi pendapatan domestik regional bruto (PDRB) triwulan II menurut lapangan usaha, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menempati posisi tertinggi, yakni 22,94 persen. Angka itu sedikit turun dibandingkan pada triwulan I-2022, yakni 23,46 persen.

Selama ini, Sulsel banyak ditopang sektor pertanian. Keunggulan Sulsel pada pertanian, di antaranya, ditopang pengairan dan iklim. Pengamat ekonomi Universitas Hasanuddin, Marzuki, mengatakan, pertanian memang menjadi penyelamat Sulsel saat pandemi dan krisis. Pertumbuhannya adalah harapan di masa krisis.

Warga menikmati sore dan menunggu matahari terbenam di anjungan Pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan.

Sementara itu, pihak Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Sulawesi Selatan, Barat, dan Tenggara (Sulselbartra) mencatat aktivitas ekspor dan impor bulan September 2022 menunjukkan perkembangan positif. Surplus neraca perdagangan berasal dari tingginya surplus nonmigas akibat kenaikan harga komoditas nikel di pasar dunia.

”Ekspor dan impor bulan September 2022 tumbuh positif dipengaruhi menguatnya harga komoditas global di bandingkan tahun sebelumnya. Kinerja positif ekspor dipengaruhi menguatnya ekspor nonmigas, yaitu komoditas nikel,” Kepala Bidang Data dan Pengawasan Potensi Perpajakan Kanwil DJP Sulselbartra Soebagio.

Baca juga : Pecinan, Denyut Nadi Perniagaan Makassar


Kerabat Kerja

Penulis:

RENY SRI AYU ARMAN
 | 

Editor:

CORNELIUS HELMY HERLAMBANG