Kenaikan Produksi Beras Januari-Maret 2025 Berpotensi Tergerus Banjir

Per 22 Januari 2025, seluas 873 hektar sawah di Demak, Jawa Tengah, kebanjiran. Seluas 373 hektar di antaranya diperkirakan puso atau gagal panen.

22 Jan 2025 17:45 WIB · Ekonomi

Oleh Hendriyo Widi

JAKARTA, KOMPAS – Produksi beras nasional Januari-Maret 2025 diperkirakan sebanyak 8,59 juta ton atau meningkat 50,97 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, banjir di sejumlah daerah di Indonesia berpotensi menggerus perkiraan produksi beras tersebut.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi, Rabu (22/1/2025), mengatakan, berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Padi Badan Pusat Statistik (BPS), potensi produksi beras nasional pada Januari-Maret 2025 sebanyak 8,59 juta ton. Potensi produksi itu naik 50,97 persen dibandingkan realisasi produksi beras pada Januari-Maret 2024 yang sebanyak 5,69 juta ton.

Produksi beras nasional pada Januari 2025 diperkirakan 1,31 juta ton. Kemudian pada Februari dan Maret 2025, produksi beras diperkirakan meningkat masing-masing menjadi 2,08 juta ton dan 5,20 juta ton.

”Potensi produksi beras di triwulan I tahun ini meningkat cukup signifikan. Tentu ini menjadi perhatian kami untuk tidak melewatkan momentum itu. Kami telah meminta Bulog untuk menyerap hasil panen dalam negeri sesuai harga pembelian pemerintah,” ujarnya melalui siaran pers.

Quote

Potensi produksi beras nasional pada Januari-Maret 2025 sebanyak 8,59 juta ton. Potensi produksi itu naik 50,97 persen dibandingkan realisasi produksi beras pada Januari-Maret 2024 yang sebanyak 5,69 juta ton.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi KOMPAS/AGUS SUSANTO (AGS) 24-9-2024

Tahun ini, pemerintah menargetkan produksi beras nasional sebesar 32 juta ton. Selain itu, pemerintah juga berencana menyetop impor beras. Untuk mengantisipasi dampak negatif penghentian impor beras, Bapanas meminta Bulog menyerap gabah/beras dalam negeri sebanyak 3 juta ton setara beras.

Dari jumlah itu, target serapan gabah kering panen (GKP) sebanyak 1,2 juta ton atau 600.000 ton setara beras. Adapun target penyerapan gabah kering giling (GKG) dan beras masing-masing 1,48 juta ton (900.000 ton setara beras) dan 1,5 juta ton.

Menurut Arief, cadangan beras pemerintah (CBP) di Bulog sangat diperlukan untuk mengintervensi pasar jika harga beras bergejolak. CBP itu juga penting mengingat pemerintah bakal menggulirkan bantuan beras kepada 16 juta keluarga berpenghasilan rendah.

Bapanas juga telah meminta Bulog menyerap gabah petani yang harganya di bawah harga pembelian pemerintah (HPP). Serapan gabah itu termasuk di daerah-daerah yang terdampak banjir atau terkena serangan hama dan penyakit.

”Apalagi panen raya padi bakal berlangsung dan biasanya harga gabah petani turun. Kami ingin menjaga petani tidak merugi dan nilai tukar petani tetap tinggi,” katanya.

Perkiraan surplus/defisit produksi beras 2022-Februari 2025

Berdasarkan data BPS, dalam dua tahun terakhir, Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) saat panen raya padi selalu berada di atas 100. Di saat puncak panen raya padi pada Maret dan April 2023, NTPP tercatat masing-masing 103,83 dan 104,06. Sementara pada puncak panen raya padi pada April dan Mei, NTPP masing-masing sebesar 105,54 dan 104,63.

Senin lalu, dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah, Bapanas menyebutkan, per 19 Januari 2025, terdapat 42 kabupaten/kota yang harga GKP di tingkat petani berada di bawah HPP GKP. GKP petani tersebut berada di kisaran Rp 5.000-Rp 6.450 per kilogram (kg).

Dari 42 daerah itu, harga GKP petani terendah berada di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, yakni Rp 5.033 per kg atau 22,56 persen di bawah HPP. Kemudian disusul Gianyar di Bali dan Bombana di Sulawesi Tenggara dengan harga GKP petani masing-masing 18,46 persen 14,87 persen di bawah HPP.

Ancaman banjir

Di tengah potensi kenaikan produksi beras nasional, banjir di sejumlah daerah di Indonesia berpotensi menggerus potensi produksi beras tersebut. Di Jawa Tengah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat, per 21 Janauri 2025, banjir melanda 10 daerah.

Daerah-daerah tersebut adalah Brebes, Pemalang, Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kendal, Pekalongan, Grobogan, Demak, Banjarnegara, dan Sragen. Banjir tersebut menggenangi permukiman, fasilitas umum, dan lahan pertanian.

Warga dengan latar banjir yang menggenangi area persawahan di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, Selasa (21/1/2025). Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa hari ini menyebabkan bencana banjir dan longsor di sejumlah wilayah Jawa Tengah antara lain Grobogan, Kendal, dan Pekalongan.

Kompas/P Raditya Mahendra Yasa
21-01-2025
 *** Local Caption ***

Di Demak, misalnya, banjir terjadi akibat jebolnya tanggul Sungai Cabean dan Tuntang, serta luapan Sungai Lusi pada 20 Januari 2025. Banjir tersebut menggenangi permukiman, fasilitas umum, dan lahan pertanian di empat kecamatan, yakni Kecamatan Dempet, Kebonagung, Guntur, dan Karangawen.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Hery Wuryanto menuturkan, per 22 Januari 2024, banjir merendam 893 hektar sawah dari total 2.296 hektar sawah di empat kecamatan itu. Tanaman padi di areal sawah yang kebanjiran berusia 30-70 hari.

”Dari 893 hektar yang terendam banjir, seluas 373 hektar diperkirakan puso. Sawah-sawah itu berada di empat desa di Kecamatan Dempet. Hal itu terjadi lantaran banjir akibat luapan Sungai Lusi yang telah berlangsung selama tiga hari ini masih belum surut,” katanya ketika dihubungi dari Jakarta.

Hery juga menyatakan, untuk tanaman padi yang terdampak banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Cabean dan Tuntang, kemungkinan besar dapat diselamatkan. Saat ini, Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana sedang memperbaiki dua tanggul di kedua sungai itu yang jebol.

”Kami akan terus memantau perkembangan banjir tersebut selama sepekan ke depan. Jika ada tanaman padi yang gagal dipanen, kami akan meminta bantuan benih padi ke Kementerian Pertanian,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Aris Prasetyo