Kenaikan Suhu Bumi di Bulan November Mencapai 1,62 Derajat Celsius

Sekalipun saat ini La Nina, suhu Bumi masih memanas dan tahun 2024 diprediksi menjadi yang terpanas dalam sejarah.

10 Des 2024 10:45 WIB · Nasional

Oleh Ahmad Arif

JAKARTA, KOMPAS — Suhu November 2024 mencapai 1,62 derajat celsius di atas tingkat pra-industri dan merupakan bulan ke-16 suhu permukaan udara rata-rata global melebihi 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri. Dengan masih memanasnya suhu bulan November, diprediksi tahun 2024 bakal menjadi yang terpanas sepanjang sejarah.

Laporan Copernicus Climate Change Service (C3S) Uni Eropa, Senin (9/12/2024), menunjukkan, anomali suhu rata-rata global tahun berjalan, yaitu Januari-November 2024, mencapai 0,72 derajat celsius di atas rata-rata 1991-2020. Pencatatan ini merupakan rekor tertinggi untuk periode ini dan 0,14 derajat celsius lebih hangat daripada periode yang sama tahun 2023.

Menurut data mereka, suhu November 2024 telah mencapai 1,62 derajat celsius di atas tingkat pra-Revolusi Industri. Catatan ini merupakan bulan ke-16 dalam periode 17 bulan di mana suhu udara permukaan rata-rata global melampaui 1,5 derajat celsius di atas tingkat pra-industri.

Anomali suhu permukaan udara global tahunan (°C) relatif terhadap tahun 1850–1900 dari tahun 1940 hingga 2024. Estimasi untuk tahun 2024 bersifat sementara dan berdasarkan data dari bulan Januari hingga November.

Wakil Direktur C3S Samantha Burgess mengatakan, ”Dengan data Copernicus dari bulan kedua terakhir tahun ini, kita sekarang dapat memastikan bahwa tahun 2024 akan menjadi tahun terhangat yang pernah tercatat dan tahun kalender pertama dengan suhu di atas 1,5 derajat celsius.”

Burgess menambahkan, ”Ini tidak berarti bahwa Persetujuan Paris telah dilanggar, tetapi ini berarti tindakan iklim yang ambisius lebih mendesak dari sebelumnya.”

Quote

Penyebab perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak, dan gas alam.

Persetujuan Paris 2015 telah mengamanatkan negara-negara untuk membatasi emisi agar kenaikan suhu Bumi dalam jangka panjang tidak melebihi 2 derajat celsius dan didorong di bawah 1,5 derajat celsius dibandingkan suhu pra-Revolusi Industri. Kemunculan El Nino kuat pada 2023 dinilai turut berkontribusi menaikkan suhu, selain faktor pemanasan global.

Periode pra-Revolusi Industri ini mengacu pada 1850-1900, sebelum aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil mulai menghangatkan planet ini secara signifikan.

Para ilmuwan iklim telah menyampaikan, pembatasan kenaikan suhu hingga 1,5 derajat celsius sangat penting untuk mencegah dampak terburuk dari perubahan iklim, seperti meningkatnya peristiwa cuaca ekstrem yang merusak dan sering terjadi. Para ilmuwan mengatakan penyebab utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak, dan gas alam.

Anomali suhu permukaan udara global bulanan (°C) relatif terhadap tahun 1850–1900 dari Januari 1940 hingga November 2024, diplot sebagai deret waktu untuk setiap tahun. Tahun 2024 ditunjukkan dengan garis merah tebal, tahun 2023 dengan garis oranye tebal, dan semua tahun lainnya dengan garis abu-abu tipis.

La Nina

Pantauan CS3 juga menunjukkan, rata-rata suhu permukaan laut pada bulan November 2024 di koordinat 60 derajat Lintang Selatan-60 derajat Lintang Utara adalah 20,58 derajat celsius. Suhu ini tercatat tertinggi kedua untuk bulan tersebut dan hanya 0,13 derajat celsius di bawah November 2023.

Pasifik timur dan tengah ekuator memiliki suhu di bawah rata-rata, yang menunjukkan pergerakan menuju kondisi netral atau La Nina, yang merupakan kebalikan dari fenomena El Nino. Namun, suhu permukaan laut di seluruh lautan tetap luar biasa tinggi di banyak wilayah.

Masih panasnya suhu lautan sekalipun terjadi La Nina yang seharusnya berfungsi mendinginkan telah membingungkan ilmuwan. Jonathan Overpeck, ilmuwan iklim di Universitas Michigan, dalam wawancara dengan AFP, mengatakan, ”Sedikit bingung dengan apa yang terjadi di sini ... mengapa suhu tetap tinggi.”

Salah satu penjelasannya adalah bahwa El Nino melepaskan lebih banyak panas ke atmosfer karena air laut yang lebih hangat. ”Kita tidak mendapatkan efek pendinginan yang sering kali membantu menurunkan suhu,” kata Overpeck.

Ia berpendapat, hal ini dapat berkontribusi pada percepatan pemanasan global.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Ichwan Susanto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan