Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri sampaikan duka atas wafatnya Paus Fransiskus, tokoh perdamaian dan pemersatu dunia.
21 Apr 2025 18:34 WIB · Politik & Hukum
JAKARTA, KOMPAS — Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri menyampaikan dukacita mendalam atas wafatnya pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma, Paus Fransiskus. Megawati mengenang sejumlah momen kebersamaan dengan Sri Paus, serta menegaskan peran besar beliau dalam membangun persaudaraan dan kesetaraan antarmanusia di tingkat global.
Paus Fransiskus wafat dalam usia 88 tahun pada Senin (21/4/2025). Wafatnya Paus menjadi kehilangan yang sangat besar bagi dunia, bukan hanya bagi umat Katolik. Megawati Soekarnoputri merupakan salah satu tokoh Indonesia yang juga merasakan kehilangan atas berpulangnya Paus Fransiskus.
Ungkapan dukacita Megawati disampaikan dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Duta Besar Takhta Suci Vatikan untuk Indonesia dan ASEAN Piero Pioppo. Surat dukacita Megawati tersebut juga ditembuskan ke Konferensi Waligereja Indonesia di Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/21/95ec943f7ec4e7398c8c677bddf71e3f-IMG_5676.jpeg)
Dalam suratnya, Megawati sebagai Presiden ke-5 RI menyampaikan rasa dukacita yang mendalam atas wafatnya Paus Fransiskus. Dirinya dan seluruh rakyat Indonesia disebut merasa sangat kehilangan atas kepergian Yang Mulia Sri Paus Fransiskus.
”Beliau bukan saja tokoh agama bagi umat Katolik, namun juga bagi dunia yang dikagumi karena pemikiran dan kiprah beliau dalam membangun persaudaraan dan kesetaraan antarumat manusia sedunia,” tulis Megawati dalam suratnya.
Ia akan selalu mengenang berbagai pengalaman bersama Sri Paus Fransiskus. Utamanya, ia teringat ketika diberikan kepercayaan oleh Sri Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Mesir Sheikh Ahmed al-Tayeb, sebagai juri Zayed Award tahun 2024 silam.
Beliau bukan saja tokoh agama bagi umat Katolik, namun juga bagi dunia yang dikagumi karena pemikiran dan kiprah beliau dalam membangun persaudaraan dan kesetaraan antarumat manusia sedunia.
Ia juga tidak pernah melupakan pertemuan berharga bersama Sri Paus Fransiskus di kediaman Paus di Domus Sancta Marthae atau Residen Santa Marta, Vatikan, pada 7 Februari 2025. ”Sri Paus telah memberikan kepercayaannya kepada saya untuk menjadi Presiden Scholas Occurentes Indonesia dan Asia,” ungkap Megawati.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/18/bbe862d9-e860-4baf-b003-9f564110d3fe_jpg.jpg)
Di akhir suratnya, Megawati mengucapkan selamat jalan kepada Sri Paus Fransiskus. Ia dan seluruh bangsa Indonesia akan senantiasa mengenang jasa-jasanya kepada dunia.
”Semoga arwah almarhum Sri Paus Fransiskus damai dan mendapat tempat yang mulia di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa. Amin,” katanya.
Sebagaimana pernah diberitakan oleh Kompas, Megawati terakhir bertemu dengan Paus Fransiskus pada 7 Februari 2025 lalu, pukul 15.00 waktu setempat. Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) itu datang bersama putranya, Mohamad Rizki Pratama, dan putrinya, Puan Maharani, serta Ketua DPP PDI-P Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, serta Bendahara Umum PDI-P Olly Dondokambey.
Selama 15 menit, Megawati bertemu secara tertutup dengan Paus Fransiskus. Ini merupakan pertemuan kedua Megawati dengan Paus Fransiskus dalam satu pekan terakhir. Sebelumnya, keduanya bertemu saat sama-sama menghadiri pertemuan para pemimpin dan tokoh dunia tentang hak anak atau World Leaders Summit on Children’s Rights, Senin (3/2/2025).
Seusai pertemuan, Megawati mengungkapkan, masalah kebangsaan dan Pancasila menjadi pokok bahasan dalam dua kesempatan bertemu dengan Paus Fransiskus. ”Beliau sangat interested (tertarik) dengan Pancasila, gotong royong, seperti yang saya sampaikan saat summit,” tuturnya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/03/a4b2da4b-2af5-437a-9bd8-73877b711441_jpg.jpg)
Saat berpidato pada World Leaders Summit on Children’s Rights, Megawati memaparkan bahwa sebenarnya Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia dapat diterapkan secara universal. Nilai-nilai Pancasila bisa digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan dalam kehidupan manusia.
Pancasila, kata Megawati, tidak hanya milik bangsa Indonesia karena bisa menjadi pedoman kehidupan bagi warga dunia. ”Sebetulnya lima sila itu adalah masalah kehidupan, terutama Ketuhanan YME, perikemanusiaan,” tuturnya.
Menurut Megawati, Paus sangat setuju dengan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sebab, kepada Paus, Megawati juga menyampaikan bahwa saat ini ada perubahan signifikan di dunia terkait dengan perikemanusiaan dan hal itu mengkhawatirkan.
”Seharusnya sudah tidak ada lagi perang, tetapi malah berjalan perang,” katanya.
Persoalan yang juga menjadi kekhawatiran Paus, menurut Megawati, adalah pemanasan global. ”Saat saya menjadi juri Zayed Awards for Human Fraternity tahun 2023, saya pernah sampaikan kepada Holy Father, mengapa manusia itu tidak terlalu care dengan global warming? Beliau langsung mengangkat jempol dua-duanya dan beliau bilang, ’Saya setuju sekali’,” ujar putri Presiden pertama RI Soekarno itu.
Penulis:
Nikolaus HarbowoEditor:
C. Wahyu Haryo PPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul