Mengapa Myanmar Tidak Siap Menghadapi Bencana...?

Sebelum bencana gempa, belasan juta penduduk Myanmar hidup dari bantuan kemanusiaan karena perang berkepanjangan. Kini situasi Myanmar memburuk.

31 Mar 2025 21:28 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Secara geografis, negeri Myanmar berada di lokasi rawan bencana karena terletak di pertemuan dua lempeng bumi yakni Lempeng India dan Lempeng Sunda. Dalam kondisi tersebut, sejatinya, penyelenggara negara seharusnya selalu bersiap diri.

Namun, lantaran dirundung perang saudara empat tahun terakhir, Myanmar sangat tidak siap untuk menghadapi bencana alam dan kondisi darurat kemanusiaan. Gempa bumi dahsyat bermagnitudo 7,7 di dataran pusat Myanmar, sejauh ini, Minggu siang (30/3/2025), sudah terdata sekurangnya 2.058 orang tewas dan ribuan rumah hancur.

Perang Saudara yang pecah sejak tahun 2021 sudah melumpuhkan layanan kesehatan, infrastruktur, dan jaringan listrik Myanmar. Praktis nyaris tidak ada yang tersisa untuk operasi tanggap bencana di Myanmar.

Motorists drive over a damaged road on the outskirts of Mandalay on March 29, 2025, a day after an earthquake struck central Myanmar. Rescuers dug through the rubble of collapsed buildings on March 29 in a desperate search for survivors after a huge earthquake hit Myanmar and Thailand, killing more than 1000 people. (Photo by Sai Aung MAIN / AFP)

Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) dan berbagai lembaga bantuan dunia memperingatkan, sudah belasan juta warga Myanmar (dari 51 juta penduduk) yang mengalami krisis kemanusiaan sebelum gempa bumi Jumat (28/3/2025) terjadi. Dari jumlah tersebut, 3,5 juta penduduk menjadi pengungsi di dalam negeri atau disebut sebagai Internal Displaced Person (IDP).

“Kami memperkirakan 19,9 juta penduduk Myanmar membutuhkan bantuan kemanusiaan sebelum gempa bumi terjadi. Sekarang situasinya akan lebih buruk,” kata Kordinator PBB untuk misi kemanusiaan Myanmar Marcoluigi Corsi.

Badan Pangan Dunia atau World Food Program (WFP) sebelum gempa terjadi, menyatakan, sudah 15 juta warga yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan harian.

Pada Minggu, PBB menjelaskan, operasi kemanusiaan di Myanmar terhalang oleh minimnya alat medis, dan kini tim penyelamat memohon peralatan untuk membongkar reruntuhan bangunan demi menyelamatkan korban yang tertimbun.

Gempa yang menimpa Myanmar juga terjadi di saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump memangkas personil dan pendanaan lembaga bantuan AS, USAID. Walau Trump berjanji akan membantu Myanmar, saat ini WFP sudah terkena dampak pengurangan bantuan USAID yang mengakibatkan satu juta warga Myanmar diputus kebutuhan pangannya.

Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan (kanan) menyalami prajurit TNI yang akan menuju Myanmar di Bandara Internasional Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (31/3/2025). Pemerintah Indonesia memberikan bantuan kepada Myanmar yang mengalami bencana gempa bumi berskala 7,7 richter. Pada Senin (31/3) Pemerintah Indonesia memberangkatkan 39 orang dengan menggunakan pesawat C-130J Super Hercules. Pada pemberangkatan ini tim aju atau tim pendahulu membawa 12 ton bantuan berupa makanan, tenda, selimut, dan kebutuhan lainnya. Mereka ditugaskan untuk menyiapkan perlengkapan bagi tim lebih besar yang akan diberangkatkan pada 3 April 2025.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
31-03-2025

Saat ini beberapa negara sudah mengirimkan tim bantuan kemanusiaan seperti China, Rusia, India, Singapura, dan negara ASEAN termasuk Indonesia.

Kendali lemah

Selain krisis kemanusiaan, pemerintahan junta militer di bawah Jenderal Min Aung Hlaing sudah kehilangan kendali atas banyak wilayah di Myanmar. Seiring berlarut-larutnya perang saudara, banyak wilayah berada dalam kontrol berbeda.

Saat ini Myanmar terbelah atas wilayah yang dikendalikan junta militer, wilayah yang dikontrol pasukan oposisi, dan serta wilayah yang dikendalikan oleh milisi Etnis seperti Karen, Kachin, Wa, Shan, Arakan, dan lain–lain. Junta militer hanya mengendalikan kota-kota utama seperti Yangon, Naypyidaw, Mandalay.

Persaingan antar kelompok bersenjata yang saling berebut kekuasaaan dan wilayah menimbulkan gangguan bagi upaya penyaluran bantuan. Sebelum gempa mengempas Myanmar, berbagai fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan sarana pendukung sudah rusak berat akibat perang saudara itu.

Tatmadaw diketahui mengebom rumah sakit di wilayah kekuasaan oposisi. Di saat sama banyak dokter, perawat, dan pekerja sektor medis meninggalkan wilayah Junta Militer untuk bergabung dengan kelompok NUG atau mengungsi ke wilayah yang dikontrol oleh kelompok etnis.

Kota Sagaing (episentrum gempa) yang berjarak belasan kilometer dari Kota Mandalay, belakangan ini menjadi lokasi pertempuran sengit antara pasukan oposisi melawan tentara Myanmar.

(FILES) This file photo taken on October 08, 2021 shows members of the People's Defence Force, the armed wing of the civilian National Unity Government opposed to Myanmar's ruling military regime, taking part in training at a camp in Kayin State, near the Myanmar-Thai border. - The National Unity Government of Myanmar, a remnant of the government overthrown just a year ago by the military, has been nominated for the 2022 Nobel Peace Prize, a Norwegian elected official behind the nomination announced on February 1, 2022. (Photo by AFP) -- Anggota Pasukan Pertahanan Rakyat, sayap militer Pemerintahan Persatuan Nasional (NUG) yang menentang kudeta, berlatih di sebuah kamp di Negara Bagian Kayin, Myanmar, dekat perbatasan Thailand. Foto diambil pada 8 Desember 2021.

Kemiskinan pun merajalela, ekonomi hancur, karena beratnya sanksi internasional, dampak perang saudara, dan kini gempa bumi. Kondisi itu menguras habis keuangan dan sumber daya Junta Militer.

Selain itu, banyak aparatur sipil Myanmar memilih membelot, bergabung dengan kelompok oposisi di bawah Pemerintah Persatuan Nasional (NUG). Ketiadaan aparatur sipil membuat junta militer semakin sulit mengkordinasikan bantuan kemanusiaan.

Situasi itu diprakirakan menjadi pemicu, Min Aung Hlaing meminta dukungan internasional untuk menangani bencana dan dampaknya. Langkah Junta Militer merupakan perubahan drastis dari sikap yang selama ini menutup diri dari bantuan internasional ke Myanmar.

A patient lies on a bed surrounded by medical workers in the compound of Mandalay General Hospital in Mandalay on March 31, 2025, three days after the deadly Myanmar earthquake. Hopes were fading of finding more survivors in the rubble of Mandalay, where some residents spent a third night sleeping in the open after a massive earthquake killed at least 1,700 people in Myanmar and neighbouring Thailand. (Photo by Sai Aung MAIN / AFP)

Di sisi lain, Sabtu lalu, NUG mengumumkan gencatan senjata. Mereka akan menerapkan jeda selama dua minggu. Mereka juga mengajak milisi etnis untuk membantu misi kemanusiaan.

Dalam sebuah pernyataan NUG mengatakan siap bekerja sama dengan PBB dan organisasi non-pemerintah untuk memastikan keamanan, transportasi, dan pendirian kamp-kamp penyelamatan dan medis sementara di wilayah yang mereka kuasai. di daerah-daerah yang dikuasainya.

"Kami menyerukan kepada semua kelompok etnis dan warga negara untuk secara aktif bekerja sama dengan NUG dan pasukan revolusioner dalam memberikan bantuan darurat dan penyelamatan yang komprehensif kepada para korban gempa bumi," kata pernyataan itu.

Kondisi darurat dan kritis

Terkait kondisi terkini, PBB mengumumkan, jejaring rumah sakit di Mandalay, Magway, dan Ibukota Napypydaw kini kewalahan dalam menangani pasien korban gempa bumi.

Jaringan komunikasi dan internet yang sering terganggu di Myanmar, kini kondisinya semakin memburuk akibat gempat. Jalur udara dan darat juga ”sekarat” dan sebagian putus. Kondisi itu menjadi kendala tambahan upaya koordinasi misi bantuan kemanusiaan di Myanmar.

Betapa pelik situasi Myanmar… (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase