Kinerja penjualan kendaraan niaga menunjukkan tren beragam pada awal 2026. Segmen bus masih tertekan secara tahunan, sementara pikap dan truk tumbuh.
07 Apr 2026 14:49 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Di tengah berbagai tantangan, industri otomotif dalam negeri menunjukkan tren peningkatan penjualan kendaraan niaga khusus di segmen pikap atau bak terbuka.
Kinerja penjualan kendaraan niaga menunjukkan tren beragam pada awal 2026. Segmen bus masih tertekan secara tahunan, sementara pikap dan truk mencatatkan pertumbuhan, terutama didorong oleh peningkatan permintaan distribusi barang dan aktivitas logistik.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales atau pabrik ke dealer menunjukkan penjualan bus pada Februari 2026 mencapai 321 unit, naik 8 persen dibandingkan Januari 2026 yang sebanyak 297 unit.
Namun, secara tahunan angka ini turun 21 persen dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 406 unit. Sepanjang 2025, total penjualan wholesales bus tercatat 4.541 unit.
Sebaliknya, segmen pikap atau bak terbuka mencatat lonjakan signifikan. Penjualan wholesales pada Februari 2026 mencapai 14.451 unit, melonjak 62 persen dibandingkan Januari 2026 yang sebanyak 8.932 unit. Secara tahunan, penjualan pikap meningkat 84 persen dari 7.841 unit pada Februari 2025. Sepanjang 2025 lalu, penjualan wholesales pikap mencapai 107.008 unit.
Sementara itu, penjualan wholesales truk tumbuh lebih moderat. Pada Februari 2026, penjualan tercatat 5.137 unit, naik 3 persen dibandingkan Januari 2026 sebanyak 4.966 unit. Secara tahunan, penjualan truk meningkat 8 persen dari 4.769 unit pada Februari 2025. Total penjualan wholesales truk sepanjang 2025 mencapai 13.505 unit.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/23/981657def60ee3dcd82505f7e6030153-20250723RZF04.JPG)
Dari sisi ritel atau penjualan langsung ke konsumen, tren yang serupa juga terlihat. Penjualan ritel bus pada Februari 2026 mencapai 312 unit, meningkat 24,3 persen dibandingkan Januari 2026 sebanyak 251 unit. Namun, secara tahunan, penjualan bus turun 32 persen dari 458 unit pada Februari 2025.
Adapun penjualan ritel pikap tumbuh cukup kuat. Pada Februari 2026, penjualan mencapai 13.236 unit, naik 38,6 persen dibandingkan Januari 2026 yang sebesar 9.548 unit. Secara tahunan, penjualan ritel pikap meningkat 55 persen dari 8.536 unit pada Februari 2025.
Berbeda dengan dua segmen tersebut, penjualan ritel truk justru mengalami penurunan. Pada Februari 2026, penjualan tercatat 5.126 unit, turun 2,4 persen dibandingkan Januari 2026 sebanyak 5.251 unit. Secara tahunan, penjualan ritel truk juga turun 3 persen dari 5.288 unit pada Februari 2025.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, secara teoretis, penjualan kendaraan niaga berhubungan erat dengan dinamika ekonomi domestik, khususnya sektor perdagangan dan logistik.
"Ketika aktivitas ekonomi berbasis pergerakan barang meningkat, kebutuhan armada niaga pasti ikut naik. Data Februari 2026 menunjukkan pola yang sejalan dengan teori tersebut, di mana segmen pick-up, yang paling dekat dengan aktivitas distribusi mikro, tumbuh paling tinggi," katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/21/a2948a39b636743c61624ab9aced560b-20250521TOK13.jpg)
Meski terjadi penurunan penjualan kendaraan bus dan pertumbuhan moderat kendaraan truk, tetapi, secara keseluruhan pasar kendaraan bergerak ke arah yang positif yang ditopang oleh kendaraan ringan atau kendaraan pikap.
Menurut Yannes, prospek kendaraan niaga pada 2026 berpotensi tetap tumbuh, tetapi dengan pola yang tidak merata. Pick-up diprediksi tetap menjadi kontributor utama, didukung oleh aktivitas distribusi domestik dan kebutuhan operasional usaha kecil-menengah yang cenderung stabil.
Sementara itu, pertumbuhan truk dan bus akan sangat bergantung pada percepatan investasi sektor riil, realisasi proyek infrastruktur, serta pemulihan total permintaan angkutan massal penumpang.
Di sisi lain, risiko eksternal seperti ketidakpastian ekonomi global dan tekanan anggaran pembiayaan dapat memengaruhi keputusan pembelian, khususnya untuk kendaraan dengan nilai investasi besar.
"Arah pasar cenderung positif, tetapi agak moderat, dengan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap kondisi stabilitas ekonomi domestik dan tingkat kepercayaan pelaku usaha. Hal ini, sejalan dengan turunnya Indeks Kepercayaan Industri (IKI) dari 54,12 poin di Januari ke 54,02 di Februari dan 51,86 di Maret 2026," jelas Yannes.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/11/14/e17aa6cd-56f4-44d8-95de-de5495d72f3c.jpg)
Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika mengatakan, industri otomotif Indonesia memiliki daya saing tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri hingga luar.
Di tengah tantangan yang dihadapi industri otomotif Indonesia, angka ekspor justru semakin menguat.
Data menunjukkan, sepanjang 2025 pengiriman kendaraan utuh (CBU) ke 93 negara tujuan mencapai 518.212 unit, atau meningkat sebesar 9,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 472.194 unit. Sektor kendaraan komersial menyumbangkan hampir 4 persen dari total ekspor tersebut atau sebesar 20.326 unit.
Dari capaian positif itu, Putu menegaskan pentingnya menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan basis manufaktur.
”Peningkatan volume produksi sangat krusial untuk memastikan industri kendaraan Indonesia memiliki basis pasokan kuat untuk memenuhi permintaan global yang terus tumbuh, sekaligus memperkokoh posisi kita dalam rantai pasok otomotif dunia,” ujarnya.
Saat ini, angka produksi mobil di Indonesia tercatat di kisaran 1,2 juta unit pada 2025 dan diprediksi akan terus berkembang. Gaikindo optimistis penyerapan produksi akan dapat memaksimalkan kapasitas produksi industri otomotif Indonesia yang mencapai angka 2,59 juta unit per tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/08/f1cfaf662ed46a90ac40d97f4f265905-20260108_115714.jpg)
Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi Gaikindo, Anton Kumonty, melanjutkan, industri otomotif Indonesia telah menjalankan berbagai studi untuk menyesuaikan perkembangan platform kendaraan komersial untuk memenuhi berbagai kebutuhan kegiatan usaha yang ada di dalam negeri, termasuk kendaraan pikap.
”Kami memiliki pengetahuan untuk membuat jenis kendaraan yang sesuai. Selain itu, kami juga memiliki kemampuan dan juga kapasitas untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan kendaraan komersial di dalam negeri,” ujar Anton.
Menurut catatan Gaikindo, ada 61 perusahaan otomotif anggota yang memproduksi berbagai lini atau segmen kendaraan. Anggota Gaikindo itu mempunyai kapasitas produksi untuk jenis kendaraan pikap lebih dari 400.000 unit per tahun. Kapasitas produksi tersebut diyakini cukup untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan dalam negeri.
Apabila semua kebutuhan dalam negeri tersebut murni hanya dipenuhi oleh industri otomotif Indonesia, maka akan berdampak luar biasa bagi seluruh ekosistem industri otomotif nasional dari hulu sampai hilir, bukan hanya anggota Gaikindo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/25/fa1901235f24c728aaf3b7a81523625a-20260225_GKT_Kendaraan_Niaga_1_mumed.jpg)
Satu unit mobil yang dibuat itu terdiri dari 20.000 komponen lebih dan berbagai macam bahan baku, mulai dari besi baja, kaca, karet, plastik, fabrik, dan lainnya.
Komponen-komponen itu dibuat dan dirakit oleh pabrikan komponen dalam negeri yang jumlahnya mencapai ribuan perusahaan, termasuk industri kecil menengah (IKM) dengan jutaan tenaga kerja.
Untuk meningkatkan kinerja penjualan kendaraan niaga tahun ini, Gaikindo kembali mengelar Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo atau GIICOMVEC 2026 pada 8 hingga 11 April 2026, di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran.
Putu melanjutkan, pameran business-to-business (B2B) untuk industri kendaraan komersial ini merupakan representasi dari kemajuan signifikan industri otomotif dalam negeri. Pameran ini sekaligus menjadi gambaran kekuatan industri otomotif, khususnya kendaraan komersial dalam negeri.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/05/05/c30a651d-177c-4d0c-8515-d3b7238eace5.jpg)
GIICOMVEC 2026 menjadi bukti bahwa industri otomotif Indonesia memiliki kemampuan mumpuni dalam memproduksi berbagai ragam kendaraan komersial yang spesifik dan adaptif terhadap kebutuhan berbagai sektor industri.
”GIICOMVEC 2026 menjadi bukti bahwa industri otomotif nasional telah mampu menghasilkan line-up kendaraan komersial dengan standar kualitas global. Kendaraan niaga yang diproduksi di Indonesia punya daya saing tinggi, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga kompetitif di pasar internasional,” ujar Putu.
Penulis:
Aguido AdriEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase