Keinginan untuk mengenang dan meneladan orang-orang hebat membuat kepahlawanan tetap hidup.
07 Nov 2025 18:35 WIB · Kolom
SALOMO TOBING
Mengapa seseorang dianugerahi gelar pahlawan seperti pahlawan ”nasional”? Apa makna kepahlawanan bagi generasi kini?
Jawabannya bisa beragam dan bergantung kepada siapa pertanyaan itu diajukan. Kepahlawanan selalu mengisi relung imajinasi setiap generasi dalam sebuah bangsa yang masih menghayatinya. Di tengah kerinduan akan model kenegarawanan panutan, ada pribadi-pribadi yang telah berjasa dalam amal baktinya untuk negerinya. Ada orang-orang yang bersedia melakukan pengorbanan pribadi tanpa pamrih demi kepentingan orang lain.
Itulah sebabnya pahlawan ibarat cahaya bagi masyarakatnya. Lampu penerang yang menyinari jalan ketika perjalanan bangsa seperti dalam keburaman arah atau tanpa harapan yang menenangkan. Jiwa kepahlawanan memercikkan kearifan, untuk menggunakan bahasa agama, karena ia mengajarkan akhlak kebangsaan, akhlak kepemimpinan.
Thomas Carlyle (1795-1881), sejarawan dan penulis satire dari Skotlandia, memperkenalkan konsep pemujaan pahlawan sebagai tema utamanya. Ia menunjukkan bahwa kekaguman terhadap pahlawan berasal dari kemampuan dan sifat-sifat ketuhanan yang mereka hayati, yang pada gilirannya menginspirasi orang lain untuk bercita-cita mencapai keagungan. Pernyataan itu meletakkan dasar bagi penjelajahan lebih dalam tentang bagaimana kepahlawanan dimaknai di berbagai budaya dan zaman.
Sebagai bentuk penghargaan, mengingat momentum sejarah, kita menetapkan tanggal khusus (10 November) untuk mengenangnya. Imaji pahlawan dibuat, gambarnya diabadikan di prangko atau mata uang, biografinya disusun, kiprahnya ditafsir-ulang dalam lintasan sejarah, beberapa makamnya dijadikan tujuan ziarah, semerbak bunga ditaburkan di atas pusaranya, doa yang syahdu dipanjatkan mungkin dengan linangan air mata.
Keinginan untuk mengenang dan meneladan orang-orang hebat, membuat kepahlawanan tetap hidup. Terkadang semangat untuk menyebarluaskan kisah kepahlawanan perlu diperindah sehingga menjadi semacam pustaka hagiografis guna menarik minat generasi baru dan memperkaya pengetahuan sejarah untuk becermin-diri.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2018/11/10/76ded759-95cf-4071-82f0-15f3462705fa.jpg)
Ketika Bung Karno mulai memprakarsai penyusunan daftar resmi ”pahlawan nasional” pada 1959, saat itu mulai muncul gejala baru dalam panggung sejarah nasional: pengakuan dan pengangkatan tokoh-tokoh besar sebagai pahlawan nasional. Gejala itu kemudian berkembang hingga kini sehingga menjadi semacam ”perlombaan” antardaerah mengajukan gelar pahlawan nasional!
Hasilnya, dalam rentang enam dekade, yang tetap menonjol dalam persentase adalah pahlawan nasional berlatar Jawa, unsur tentara, dan laki-laki. Keseimbangan latar geografis, profesi, dan jender tampaknya masih menunggu waktu lama.
Setidaknya ada beberapa makna di balik penganugerahan gelar kepahlawan nasional secara resmi tersebut. Pertama, simbol nasional, tanda bahwa negara mengakui secara resmi peran orang-orang besar yang dinilai dengan kriteria tertentu telah berjasa bagi emansipasi negerinya. Kedua, mitologi nasional, dalam arti tertentu bahwa narasi kepahlawanan diperkaya dengan kisah-kisah figur hebat yang terkadang perlu diperindah agar memikat perhatian generasi baru. Ketiga, ideologi persatuan, dengan cara itu negara memperkuat ideologi nasionalisme karena penghargaan itu sebagai bagian dari perekat kesadaran kebangsaan guna memperkuat agenda persatuan.
Lalu, bagi Gen Z, generasi layar yang berselancar 1-5 jam per hari dengan media sosial (Kompas.id, 1/9/2025), ketika krisis keteladanan sebagian terobati oleh idola budaya pop digital, apakah kepahlawanan masih memiliki makna dalam relung imajinasi mereka? Untuk menemukan jawabannya, cermatilah apa yang mereka sukai dan apakah mereka masih terhubung dengan nilai-nilai kepahlawanan seperti sikap adil, pemurah, pengasih, pelindung, tenggang rasa, tidak sewenang-wenang, penolong, tidak mengorbankan orang lain (apalagi teman seperjuangan atau rakyat), dan penyantun orang miskin dan anak yatim.
Jika sifat-sifat akhlak mulia seperti itu masih hidup, hal itu mencerahkan suasana hati kita. Karena membuat kita optimistis bahwa di balik hal-hal buruk yang terjadi—perang, penindasan, pembunuhan, pembungkaman, pelecehan, perundungan, diskriminasi, ketidakadilan, korupsi, kriminalitas, kesepian, bunuh diri, dan kekejian yang nyata—ternyata kebaikan masih ada di dunia.
Jika hakikat budaya demokrasi dan sejarah perjalanan peradaban bangsa ini sebagian ikut dibentuk oleh pribadi-pribadi hebat bersama wong cilik yang tanpa putus asa berjuang untuk hidup bermartabat— seperti kualitas kepahlawanan tersebut—maka Gen Z akan berada di garis depan dalam menafsir ulang dan meneladannya bagi kehidupan pribadi, kolektif, profesi, dan kebangsaan sehingga kita tetap yakin bahwa cahaya keteladanan itu akan terus bersinar dan menginspirasi lintas generasi.
Idi Subandy Ibrahim, Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi; Pengajar di Pascasarjana Universitas Pasundan Bandung
Penulis:
Idi Subandy IbrahimEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase