Keracunan makanan bergizi gratis terus terulang. Berharap sehat, siswa justru dirawat di rumah sakit.
19 Sep 2025 18:43 WIB · Kesehatan
Kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berulang di beberapa daerah. Akibat makanan basi, berbau, dan berlendir itu, pelajar dan pihak sekolah trauma. Berharap sehat, siswa justru mual, pusing, dan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Di Baubau, Sulawesi Tenggara, kasus itu terjadi lagi pada Selasa (16/9/2025). Sebanyak 46 anak keracunan produk MBG.
Diduga, penyebabnya menu ayam woku berlendir dan berbau tapi tetap disajikan dan disantap siswa. Akibatnya, 37 anak keracunan dan dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan.
Kejadian itu bikin heboh. Sekolah, orangtua, dan siswa panik. Mereka cemas. Kali ini, mungkin tidak ada korban jiwa tapi entah nanti.
”Kami baru menghadapi situasi begini. Alhamdulillah semua sudah sehat. Hanya saja masih waswas,” kata Sartati, Kepala Sekolah SMAN 7 Baubau, Jumat (19/9/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/18/d0e286ea701e74134d2125de279771e1-IMG_20250918_WA0009.jpg)
Dari informasi yang dikumpulkan Kompas, keracunan terjadi saat memasuki pekan kedua pembagian MBG. Sebelumnya, tidak ada keluhan dari siswa.
Akan tetapi, kali ini keadaannya tak baik-baik saja. Gejala tidak beres mulai terlihat saat makanan datang terlambat. Paket MBG baru tiba saat waktu istirahat berlangsung atau telat 30 menit dari biasanya.
Tak ingin siswa lama menunggu, sekolah buru-buru membagikannya tanpa mengecek terlebih dahulu. Anak pun langsung memakannya.
Hingga akhirnya, tidak lama kemudian, petaka itu datang. Siswa mengatakan makanan itu berbau tidak sedap. Ada juga anak yang mengeluhkan pusing.
Sartati mengatakan, setelah memastikan siswa mendapatkan penanganan kesehatan ideal, dia langsung berkoordinasi dengan orangtua siswa.
”Setelah kejadian ini, kami langsung buat pertemuan bersama orangtua siswa,” ucap Sartati.
Dalam pertemuan tersebut, pihak orangtua waswas dan trauma akan kejadian ini. Mereka mengingatkan agar program ini dievaluasi, khususnya terkait kebersihan dan keamanan dari dapur penyedia makanan.
Pembagian makanan saat ini memang telah dihentikan sementara. Ia berharap ada audit dan pemeriksaan sebelum pembagian dilanjutkan.
Menanggapi kejadian ini, Koordinator Wilayah BGN Sultra Muliyadi tidak mau berkomentar banyak. Ia menyebut telah melaporkan hal itu ke BGN.
”Korwil sudah membuat laporan khusus ke BGN, nanti informasinya dari sana saja sesuai arahan yang kami terima,” katanya.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/08/324cbb77-c2a0-4283-8644-bd836ca8dd23_png.png)
Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Baubau Fanti Frida Yanti, salah satu persoalan yang terjadi selama program MBG adalah tidak berjalannya inspeksi kesehatan lingkungan dapur penyedia. Dari tujuh dapur yang berjalan saat ini, baru dua yang telah dilakukan inspeksi.
Persoalannya, inspeksi itu idealnya didanai BGN. Namun, faktanya, hal itu belum terealisasi sehingga Pemkot Baubau berinisiatif melakukan inspeksi. Dengan anggaran yang ada, pihaknya baru bisa melakukan inspeksi ke dua dapur.
Inspeksi berperan penting mengawasi makanan sebelum disajikan. Higienitas dan mutu makanan bisa dipantau sejak awal dapur berdiri. Berbagai kekurangan juga bisa diperbaiki dan ditingkatkan kualitasnya.
Kasus di Baubau hanya satu dari sejumlah kasus di sejumlah daerah di Indonesia. Di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, 157 siswa juga keracunan, Rabu (17/8/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/18/914775e862640d396668c145e5a7c9e9-WhatsApp_Image_2025_09_18_at_19.25.37.jpeg)
Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, mengatakan, keracunan akibat MBG terus berulang. Pihaknya menghitung, setidaknya ada 5.360 anak di berbagai daerah di Indonesia terdampak.
”Presiden dan BGN jangan bermain-main dengan nyawa anak-anak bangsa. Kalau program ini benar-benar berpihak pada anak, hentikan sekarang juga sebelum lebih banyak korban berjatuhan,” katanya.
Situasi ini menunjukkan, masalah bukan hanya terjadi di level teknis, melainkan juga adanya persoalan akut akan sistem yang bermasalah, kontrol kualitas yang buruk, dan tata kelola yang tidak berjalan. Hal ini berujung pada pelaksanaan yang amburadul dan anak yang menjadi korban.
Oleh karena itu, tidak ada jalan lain selain menghentikan program ini dahulu. ”Ini bisa menjadi tragedi besar akan keselamatan anak. Hilangkan dulu soal target, soal serapan anggaran. Utamakan keselamatan nyawa anak,” kata Ubaid.
Kasus demi kasus keracunan MBG terjadi. Ujungnya, anak menghadapi pilihan sulit. Harapan ingin sehat, tetapi justru dirundung kekhawatiran ketika makanan gratis itu datang.
Penulis:
Saiful Rijal YunusEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari