Keracunan MBG Berulang, Siswa SD di Bombana Makan Ayam Basi

Kasus keracunan di sekolah terus berulang. Belasan siswa SD di Bombana, Sulawesi Tenggara, keracunan menu Makan Bergizi Gratis. Ayam yang disajikan basi dan berbau.

24 Apr 2025 09:30 WIB · Nusantara

Oleh Saiful Rijal Yunus

KENDARI, KOMPAS — Kejadian keracunan menu program Makan Bergizi Gratis terus berulang di berbagai tempat. Kali ini, kasus terjadi di Bombana, Sulawesi Tenggara. Belasan siswa sekolah dasar muntah-muntah, hingga sakit perut, karena menu ayam tepung yang diduga basi.

”Total ada 13 siswa yang keracunan. Ada yang muntah-muntah, sakit perut, dan pusing, tetapi sebagian besar (di antaranya) sudah membaik, hanya satu orang yang izin hari ini karena perlu waktu istirahat,” kata Kepala SDN 33 Kasipute Santi Jamal saat dihubungi dari Kendari, Kamis (24/4/2025).

Menurut Santi, kejadian siswa keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi pada Rabu (23/4/2025). Saat itu adalah hari ketiga pemberian program makan untuk 439 siswa. Dua hari pertama program berjalan lancar dan aman.

Akan tetapi, pada hari ketiga, utamanya pada pembagian makanan kelas 1-3, banyak siswa yang muntah. Makanan di dalam tempat penyajian mengeluarkan bau busuk. Anak-anak panik dan menangis. Di dalam video yang beredar, sejumlah siswa terlihat muntah setelah memakan menu yang disajikan. Sejumlah siswa lainnya tidak mampu menahan bau busuk yang tercium.

Melihat kejadian itu, kata Santi, pihaknya segera melarang siswa untuk makan. Para siswa yang terdampak lalu diberi penanganan sementara. Siswa kelas 4-6 yang mendapat jadwal makan satu jam setelahnya dilarang untuk memakan makanan.

Siswa menunjukkan menu ayam yang berbau dan hitam dalam penyajian paket Makan Bergizi Gratis di Bombana, Sulawesi Tenggara, Rabu (23/4/2025). Belasan siswa keracunan.

”Dari hasil pantauan guru, ayam yang ada dalam makanan itu bau dan hitam. Ayam itu digoreng tepung. Nasi dan yang lainnya aman,” kata Santi.

Atas kejadian ini, sejumlah orangtua dan wali murid panik dan trauma. Sebab, mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada anak-anak di sekolah. Ke depan, pihak sekolah akan mengecek makanan sebelum disajikan kepada siswa.

”Tapi, untuk hari ini sepertinya belum ada pembagian makanan lagi. Infonya masih koordinasi dahulu,” tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan Bombana Darwin menyatakan, kejadian keracunan itu diketahui terjadi di satu sekolah dari tiga sekolah yang mendapat pembagian MBG. Makanan tersebut disalurkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kasipute untuk 1.043 orang.

Setelah kejadian itu beredar luas, menurut Darwin, pihaknya segera mengambil langkah penanganan dan pemantauan. Tim diturunkan untuk melakukan investigasi, mengambil sampel, dan akan mengujinya di laboratorium.

Siswi menunjukkan menu program Makan Bergizi Gratis di Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (6/1/2025). Program ini berjalan terbatas di 12 sekolah dari ratusan satuan pendidikan di wilayah ini.

”(Berdasarkan) Pemantauan sementara, siswa muntah karena ayam yang disajikan itu busuk. Itu yang akan kami uji dahulu penyebabnya,” kata Darwin.

Menurut Darwin, kejadian ini harus menjadi perhatian bersama, khususnya SPPG sendiri. Sebab, sejak awal pihak dapur yang merancang menu, mencari ahli nutrisi dan gizi, hingga menyalurkan makanan ke sekolah. Pihak dinas kesehatan tidak terlibat sama sekali dalam program ini. Ia berharap agar ada evaluasi tekait dengan kejadian ini.

Sementara itu, data kepolisian, sebanyak 53 porsi makanan diketahui basi dari lebih dari 1.000 porsi yang dibagikan. Kepolisian masih mempelajari hal ini dan menunggu hasil laboratorium yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Bombana.

Dari catatan Kompas, sejak program MBG diluncurkan pada 6 Januari 2025, setidaknya ada empat kasus keracunan makanan yang dilaporkan terjadi di empat daerah berbeda. Pertama, 40 siswa di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Dukuh 03, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, keracunan seusai menyantap Makan Bergizi Gratis, Kamis (16/1/2025). Kedua, kasus keracunan yang menimpa delapan siswa SD di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan, Selasa (18/2/2025).

Ketiga, sedikitnya 60 pelajar dari sejumlah sekolah di Kabupaten Batang, Jateng, keracunan seusai menyantap paket MBG pada Senin (14/4/2025). Para siswa itu mengeluhkan pusing, mual, muntah, dan diare. Keempat, peristiwa terbaru adalah keracunan yang menimpa 78 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur di Jawa Barat. Mereka mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi paket MBG pada Senin (21/4/2025). Sebagian besar siswa saat ini masih menjalani perawatan di dua rumah sakit setempat.

Tampak ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah Sayang Cianjur di Kabupaten Cianjur Jawa Barat, pada Senin (21/4/2025) malam. Di tempat ini menjadi lokasi puluhan siswa dirawat karena mengalami gejala keracunan diduga setelah mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG). Jumlah korban di rumah sakit mencapai 52 orang.

Ahli gizi Universitas Gadjah Mada, Toto Sudargo, Kamis (17/4/2025), mengatakan, 60-70 persen kasus keracunan makanan berasal dari produksi makanan rumahan. Sebut saja jajanan kaki lima, warung makan, hingga hidangan yang dibuat untuk jamuan acara-acara hajatan warga.

Menurut dia, keracunan makanan kerap muncul karena kurang diperhatikannya prosedur pengolahan makanan yang baik. Hal ini terutama terjadi pada penyelenggaraan makan dalam jumlah yang banyak atau massal.

Padahal, setiap tahap penyiapan makanan memiliki kerawanan yang dapat menyebabkan bahaya bagi kesehatan. Ini mulai dari kualitas bahan-bahan pangannya, cara dan alat yang dipakai untuk pengolahan, proses memasak, penyimpanan, hingga distribusi dan penyajian.

Terkait dengan program MBG, Toto mengatakan, pemerintah juga harus menyiapkan petugas untuk melakukan uji petik makanan. Ini sebagai upaya deteksi dini kandungan makanan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah (Kompas, Rabu, 23/4/2025).


Kerabat Kerja

Penulis:

Saiful Rijal Yunus
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .