GENEVA, JUMAT — Perdamaian Amerika Serikat-Iran segera mendapat ganjalan. Dampaknya, rencana perundingan teknis di Bürgenstock, Swiss, dibatalkan.
Sedianya, delegasi AS-Iran bertemu di sangraloka di Swiss tersebut pada Jumat (19/6/2026). Perundingan itu bagian dari pembahasan teknis yang ditetapkan berlangsung 60 hari.
Jangka waktu 60 hari itu ditetapkan dalam nota kesepahaman AS-Iran yang diteken para presiden kedua negara pada Rabu (17/6/2026). Pemimpin Tertinggi Iran Ayotollah Mojtaba Khamenei mengumumkan persetujuan atas perundingan itu. Meski demikian, tetap saja perundingan belum bisa terwujud.
Pada Kamis, rombongan Wakil Presiden AS JD Vance sudah siap terbang ke Swiss. Akan tetapi, mendadak keberangkatan dibatalkan sebelum Vance masuk pesawat. ”Logistik perundingan-perundingan ini tak pernah mudah atau bisa ditebak,” demikian pernyataan Gedung Putih soal pembatalan mendadak keberangkatan itu.
Kementerian Luar Negeri Swiss juga mengumumkan pembatalan perundingan. ”Rencana pembicaraan antara AS, Iran, Qatar, dan Pakistan ditunda. Swiss tetap siap memfasilitasi pembicaraan ini. Persiapan terkait di Bürgenstock tetap berlanjut,” demikian pernyataan Kemenlu Swiss.
Media terafiliasi Hizbullah, Al Mayadeen, melaporkan bahwa serangan Israel ke Lebanon merisaukan Teheran. Menurut Reuters dan Associated Press, serangan tanpa henti Israel ke Lebanon merumitkan keadaan.
Sudah sepekan Israel meningkatkan gempuran ke Lebanon. Serangan meningkat menjelang AS-Iran hampir dipastikan mencapai kesepakatan.
Dalam naskah kesepakatan yang disiarkan Pezeshkian tercantum bahwa perang di seluruh palagan harus dihentikan. Hal itu berlaku untuk Lebanon. Pasukan Israel harus keluar dari Lebanon.
Di media sosial, Presiden AS Donald Trump juga menyebutkan gencatan senjata berlaku di semua palagan. ”Kami mengharapkan gencatan senjata total di semua lini, termasuk Lebanon, Hizbullah, dan Israel,” tulisnya.
Namun, hanya beberapa jam selepas Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken kesepakatan, Israel menambah serangan ke Lebanon. Sehari setelah Trump-Pezeshkian meneken kesepahaman, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel tak akan menarik pasukan dari Lebanon.
Kala ada prajurit Israel tewas dalam serangan itu, Israel marah. Anggota kabinet Israel, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, menyatakan Lebanon harus terbakar dan merasakan neraka. ”Seluruh Lebanon harus membara,” tulis Ben Gvir di media sosial.
Padahal, Iran telah menekankan pentingnya bagi AS membuktikan niat baik. Caranya, dengan menjalankan isi nota kesepahaman sepenuhnya.
Komando Tengah (Centcom) AS telah mengumumkan blokade atas Iran telah dihentikan. Akan tetapi, serangan Israel ke Lebanon dipandang Iran sebagai ketidakseriusan AS menjalankan kesepahaman. Karena itu, menurut Al Mayadeen, Iran tak mau mengirimkan delegasi ke Swiss.
Pembahasan teknis
Perundingan di Swiss dirancang menjadi pembahasan teknis atas nota kesepahaman 17 Juni 2026. Poin-poin dalam kesepakatan itu di antaranya mulai dari penghentian perang, pembukaan blokade Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, rekonstruksi Iran, hingga program nuklir Iran.
Lembaga penyiaran Iran, IRIB, menyiarkan bahwa kapal-kapal dapat melewati Selat Hormuz. Syaratnya, meminta izin kepada lembaga yang dibentuk Iran untuk mengurusi lalu lintas di selat itu. Tidak ada biaya untuk pelintasan itu.
Kesepakatan juga mencakup komitmen AS dengan mitra regional setidaknya 300 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 5.000 triliun untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. AS juga berjanji untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran. Kesepakatan juga mencakup program nuklir Iran.
Sayangnya, perundingan dalam membahas semua itu bisa terlaksana, sementara Israel meningkatkan gempuran ke Lebanon. Israel berkilah menyerang posisi-posisi Hizbullah.
Kilah itu telah berulang kali diulang Israel. Trump dan Vance secara terbuka mengecam serangan Israel ke Lebanon. Vance mengingatkan para pejabat Israel untuk berhenti mengecam Trump. Ia meminta para pejabat Israel bangun dan sadar kenyataan.
”Donald J Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang simpati kepada bangsa Israel saat ini dan ia juga kepala negara super. Kalau saya di kabinet Pemerintah Israel, saya tak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia,” ucap Vance.
Ia juga mengingatkan, Israel sangat bergantung pada AS. ”Lebih dari tiga bulan ini, dua pertiga dari senjata pertahanan yang melindungi tanah air Anda dibuat dengan tangan AS dan dibayar dengan pajak orang AS,” katanya.
Ia menegaskan, masalahnya bukan di Trump. ”Siapa pun di Israel yang berpikir masalah terbesar mereka adalah Presiden AS harus bangun dan merasakan kenyataan,” lanjutnya.
Vance secara terbuka menyebut Ben Gvir dan Smotrich menyerang kesepakatan AS-Israel. ”Tanggapan saya ke mereka, apa usulan Anda? Anda negara dengan 9 juta penduduk. Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan cara membunuh,” ujarnya.
Pernyataan terbuka Trump-Vance mengejutkan banyak pihak. Belum pernah ada pejabat AS, apalagi presiden dan wapres, seterbuka itu mengecam Israel. (AP/AFP/REUTERS)
GENEVA, JUMAT — Perdamaian Amerika Serikat-Iran segera mendapat ganjalan. Dampaknya, rencana perundingan teknis di Bürgenstock, Swiss, dibatalkan.
Sedianya, delegasi AS-Iran bertemu di sangraloka di Swiss tersebut pada Jumat (19/6/2026). Perundingan itu bagian dari pembahasan teknis yang ditetapkan berlangsung 60 hari.
Jangka waktu 60 hari itu ditetapkan dalam nota kesepahaman AS-Iran yang diteken para presiden kedua negara pada Rabu (17/6/2026). Pemimpin Tertinggi Iran Ayotollah Mojtaba Khamenei mengumumkan persetujuan atas perundingan itu. Meski demikian, tetap saja perundingan belum bisa terwujud.
Serial Artikel
AS-Iran Telah Teken Kesepakatan Sementara Perdamaian
AS-Iran meneken MoU 14 poin untuk membuka Hormuz dan menghentikan perang. Iran dinilai memperoleh banyak keuntungan. Sementara Trump belum mencapai tujuannya.
Pada Kamis, rombongan Wakil Presiden AS JD Vance sudah siap terbang ke Swiss. Akan tetapi, mendadak keberangkatan dibatalkan sebelum Vance masuk pesawat. ”Logistik perundingan-perundingan ini tak pernah mudah atau bisa ditebak,” demikian pernyataan Gedung Putih soal pembatalan mendadak keberangkatan itu.
Kementerian Luar Negeri Swiss juga mengumumkan pembatalan perundingan. ”Rencana pembicaraan antara AS, Iran, Qatar, dan Pakistan ditunda. Swiss tetap siap memfasilitasi pembicaraan ini. Persiapan terkait di Bürgenstock tetap berlanjut,” demikian pernyataan Kemenlu Swiss.
Media terafiliasi Hizbullah, Al Mayadeen, melaporkan bahwa serangan Israel ke Lebanon merisaukan Teheran. Menurut Reuters dan Associated Press, serangan tanpa henti Israel ke Lebanon merumitkan keadaan.
Sudah sepekan Israel meningkatkan gempuran ke Lebanon. Serangan meningkat menjelang AS-Iran hampir dipastikan mencapai kesepakatan.
Dalam naskah kesepakatan yang disiarkan Pezeshkian tercantum bahwa perang di seluruh palagan harus dihentikan. Hal itu berlaku untuk Lebanon. Pasukan Israel harus keluar dari Lebanon.
Di media sosial, Presiden AS Donald Trump juga menyebutkan gencatan senjata berlaku di semua palagan. ”Kami mengharapkan gencatan senjata total di semua lini, termasuk Lebanon, Hizbullah, dan Israel,” tulisnya.
Namun, hanya beberapa jam selepas Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian meneken kesepakatan, Israel menambah serangan ke Lebanon. Sehari setelah Trump-Pezeshkian meneken kesepahaman, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Israel tak akan menarik pasukan dari Lebanon.
Kala ada prajurit Israel tewas dalam serangan itu, Israel marah. Anggota kabinet Israel, Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich, menyatakan Lebanon harus terbakar dan merasakan neraka. ”Seluruh Lebanon harus membara,” tulis Ben Gvir di media sosial.
Padahal, Iran telah menekankan pentingnya bagi AS membuktikan niat baik. Caranya, dengan menjalankan isi nota kesepahaman sepenuhnya.
Komando Tengah (Centcom) AS telah mengumumkan blokade atas Iran telah dihentikan. Akan tetapi, serangan Israel ke Lebanon dipandang Iran sebagai ketidakseriusan AS menjalankan kesepahaman. Karena itu, menurut Al Mayadeen, Iran tak mau mengirimkan delegasi ke Swiss.
Pembahasan teknis
Perundingan di Swiss dirancang menjadi pembahasan teknis atas nota kesepahaman 17 Juni 2026. Poin-poin dalam kesepakatan itu di antaranya mulai dari penghentian perang, pembukaan blokade Selat Hormuz, pencabutan sanksi terhadap Iran, rekonstruksi Iran, hingga program nuklir Iran.
Lembaga penyiaran Iran, IRIB, menyiarkan bahwa kapal-kapal dapat melewati Selat Hormuz. Syaratnya, meminta izin kepada lembaga yang dibentuk Iran untuk mengurusi lalu lintas di selat itu. Tidak ada biaya untuk pelintasan itu.
Kesepakatan juga mencakup komitmen AS dengan mitra regional setidaknya 300 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 5.000 triliun untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran. AS juga berjanji untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran. Kesepakatan juga mencakup program nuklir Iran.
Sayangnya, perundingan dalam membahas semua itu bisa terlaksana, sementara Israel meningkatkan gempuran ke Lebanon. Israel berkilah menyerang posisi-posisi Hizbullah.
Serial Artikel
Trump Ancam Israel Akan Berperang Sendirian
Trump memperingatkan Netanyahu bahwa Israel akan berperang sendirian jika kembali menyerang Iran. Dalam sepekan, Netanyahu telah dua kali mengabaikan Trump.
Kilah itu telah berulang kali diulang Israel. Trump dan Vance secara terbuka mengecam serangan Israel ke Lebanon. Vance mengingatkan para pejabat Israel untuk berhenti mengecam Trump. Ia meminta para pejabat Israel bangun dan sadar kenyataan.
”Donald J Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang simpati kepada bangsa Israel saat ini dan ia juga kepala negara super. Kalau saya di kabinet Pemerintah Israel, saya tak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang tersisa di seluruh dunia,” ucap Vance.
Ia juga mengingatkan, Israel sangat bergantung pada AS. ”Lebih dari tiga bulan ini, dua pertiga dari senjata pertahanan yang melindungi tanah air Anda dibuat dengan tangan AS dan dibayar dengan pajak orang AS,” katanya.
Ia menegaskan, masalahnya bukan di Trump. ”Siapa pun di Israel yang berpikir masalah terbesar mereka adalah Presiden AS harus bangun dan merasakan kenyataan,” lanjutnya.
Vance secara terbuka menyebut Ben Gvir dan Smotrich menyerang kesepakatan AS-Israel. ”Tanggapan saya ke mereka, apa usulan Anda? Anda negara dengan 9 juta penduduk. Anda tidak bisa menyelesaikan setiap masalah keamanan nasional hanya dengan cara membunuh,” ujarnya.
Pernyataan terbuka Trump-Vance mengejutkan banyak pihak. Belum pernah ada pejabat AS, apalagi presiden dan wapres, seterbuka itu mengecam Israel. (AP/AFP/REUTERS)