Situasi global kian tak pasti. Setiap negara, selain konsolidasi perekonomian nasional, juga mencari mitra strategis. Indonesia-Jepang adalah mitra strategis.
18 Apr 2025 09:19 WIB · Ekonomi
TOKYO, KOMPAS — Indonesia dan Jepang perlu mengembangkan lebih lanjut hubungan kerja sama yang telah terbangun 68 tahun menjadi semakin strategis guna menghadapi tantangan global. Indonesia dan Jepang memiliki banyak kesamaan filosofi budaya. Pada saat yang sama, kedua negara memiliki keunggulan masing-masing sehingga bisa saling menguntungkan.
Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Jepang Rachmat Gobel, di sela-sela kunjungannya ke World Expo 2025 Osaka, mengingatkan, Jepang merupakan negara yang sangat strategis bagi Indonesia.
Sebelum mereka membuka pasarnya, mereka sudah mengirim anak-anak mudanya belajar ke Jepang. Begitu investor Jepang masuk ke Vietnam, mereka sudah siap dan bahkan bisa melakukan transfer teknologi.
Indonesia memiliki pasar dan sumber daya alam besar. Namun, potensi ini belum dikelola dengan maksimal untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang kuat. Sementara itu, Jepang mempunyai teknologi, tetapi tidak mempunyai banyak penduduk atau tenaga kerja.
Penduduk Indonesia yang berjumlah banyak semestinya dapat dikirim berlatih bekerja di Jepang. Pada sisi lain, Jepang sebagai investor akan lebih mendapat kepastian karena tenaga kerja Indonesia sudah lebih siap.
”Hal ini juga yang dilakukan China atau Vietnam. Sebelum mereka membuka pasarnya, mereka sudah mengirim anak-anak mudanya belajar ke Jepang. Begitu investor Jepang masuk ke Vietnam, mereka sudah siap dan bahkan bisa melakukan transfer teknologi,” papar Gobel.
Presiden Direktur PT Gobel International Hiramsyah Sambudhy Thaib mengatakan, laporan Japan Bank for International Cooperation (JBIC) atau Bank Jepang untuk Kerja Sama Internasional menyebutkan, Indonesia pada saat ini merupakan negara peringkat nomor lima yang paling menjanjikan untuk berinvestasi bagi perusahaan Jepang.
Keempat negara lainnya adalah India, Vietnam, China, dan Amerika Serikat. ”Kita perlu merespons ini dengan sebaik-baiknya,” kata Hiramsyah.
Sejauh mana keunggulan komparatif Indonesia dibandingkan dengan India dan Vietnam di mata Jepang? Menurut Presiden dari Japan International Cooperation Agency (JICA) Akihiko Tanaka, setiap negara memiliki sistem pemerintahan yang berbeda-beda dan sulit dibandingkan.
Arah dan transparansi pengambilan kebijakan suatu negara sangat penting untuk memudahkan investor memahami situasi sekaligus membuat perencanaan bisnis ke depan.
Vietnam adalah negara Komunis. India menganut sistem parlementer. Sementara Indonesia menerapkan sistem presidensial. Namun, secara umum, Tanaka mengatakan, arah dan transparansi pengambilan kebijakan suatu negara sangat penting untuk memudahkan investor memahami situasi sekaligus membuat perencanaan bisnis ke depan.
Setelah ada kebijakan dari pusat, sinkronisasi kebijakan pusat dengan daerah pun sangat krusial. Desentralisasi yang berjalan baik akan sangat memudahkan pengambilan keputusan di level menengah atau di tingkat daerah.
”Ini merupakan pertimbangan (mereka) yang akan berinvestasi di Indonesia,” kata Tanaka ketika diwawancara di sela-sela makan siang di Matsumoto Restaurant, Hibiya Park, Kamis (17/4/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/18/e4c6e8bbfd2528638dbbce4b29088854-20250418sut_Tanaka_JAICA.jpg)
Dengan latar belakang tersebut, Tanaka melanjutkan, perusahaan Jepang akan merasa aman beroperasi di Indonesia. Tanaka juga menegaskan bahwa hubungan Indonesia dengan Jepang sudah terbangun paling lama dan punya kedekatan personal. ”Indonesia friendly,” ujarnya sambil tersenyum.
Terkait dengan adanya keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk percepatan industrialisasi mandiri, Tanaka mengatakan, JICA akan terus membantu adanya pengembangan industri, termasuk transfer teknologi. Namun, hal ini juga terkait dengan kebijakan pengembangan sumber daya manusia oleh Pemerintah Indonesia.
Tanaka mencontohkan proyek kereta cepat (MRT) yang dilakukan di Jakarta. Saat ini, seluruh pengoperasiannya dilakukan oleh orang Indonesia. Ini merupakan kebijakan dari JICA, yaitu tidak hanya menyerahkan fisik kereta saja, tetapi juga mengembangkan sumber daya manusia Indonesia.
Jadi, saya sangat berharap Pemerintah Indonesia pun lebih proaktif lagi meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
”Ini dilakukan secara berkesinambungan. Saat kami membangun MRT di Vietnam pun, yang mengajarkan kepada mereka adalah orang-orang Indonesia yang sudah terlatih,” ujar Tanaka.
Tanaka percaya perusahaan-perusahaan Jepang yang berinvestasi di Indonesia sudah melakukan transfer teknologi. JICA juga memberikan banyak beasiswa untuk meningkatkan pengetahuan pekerja Indonesia.
”Jadi, saya sangat berharap Pemerintah Indonesia pun lebih proaktif lagi meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi,” paparnya.
Saat ini, Indonesia dan Jepang juga hampir menyelesaikan pembangunan Balai Pengujian Laik Jalan dan Sertifikasi Kendaraan Bermotor berstandar internasional di Bekasi, Jawa Barat. Kerja sama ini menggunakan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Konsorsium PT Indonesia International Proving Ground, antara lain, melibatkan PT Gobel Indonesia, PT Astra Daihatsu Motor, dan Toyota Tsusho Corporation.
Presiden Direktur Toyota Tusho Corporation untuk Asia dan Timur Tengah Kosuke Kunihiro, selaku anggota konsorsium, menyampaikan, pembangunan proving ground di Indonesia itu hampir selesai. Dia berharap Presiden Prabowo Subianto bisa hadir meresmikan. ”Pembangunan sudah tahap akhir dan kami menunggu peresmiannya,” ujarnya.
Terkait dengan percepatan pengembangan industri secara mandiri, Gobel selaku anggota Komisi VI DPR RI juga mengharapkan pemerintah lebih besar lagi berkomitmen dan menjaga konsistensi pengembangan industri di dalam negeri.
”Pemerintah harus punya komitmen besar untuk membangun industri. Bukan hanya otomotif, eletronik, tekstil, dan lain-lain. Bukan hanya buat pabrik dan mempekerjakan manusia, bukan sekadar dapat ekspor, tetapi harus mengakar. Sebagai negara besar, Indonesia membutuhkan teknologi dan harus menguasai teknologi itu dan ini penting untuk membangun pertahanan kita sebagai negara,” katanya.
Jepang, masih menurut Gobel, juga merupakan sahabat lama. Hubungan diplomatis Indonesia-Jepang sudah terjalin lebih dari 60 tahun. Jepang juga sudah melakukan banyak investasi di Indonesia. Di antaranya adalah di bidang infrastruktur, manufaktur, dan jasa.
”Saya optimistis kalau kita bisa terus asah kerja sama dengan Jepang ini lebih baik lagi, kita bisa jadi negara yang hebat,” papar Gobel.
Jepang telah memberikan akumulasi bantuan senilai 5,5 triliun yen atau lebih kurang Rp 668 triliun atau 49,5 miliar dollar AS selama periode 1965-2016.
Jepang merupakan negara pemberi bantuan bilateral terbesar untuk Indonesia. Sebaliknya, bagi Jepang, Indonesia pun merupakan negara penerima akumulasi dana pembangunan dari Jepang yang terbesar.
Berdasarkan data di laman Japan Official Development Assitance (ODA), Jepang telah memberikan akumulasi bantuan senilai 5,5 triliun yen atau lebih kurang Rp 668 triliun atau 49,5 miliar dollar AS selama periode 1965-2016.
Penulis:
Sutta DharmasaputraEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .