Pemerintah pusat akan membantu Pemerintah Provinsi Jakarta untuk memperbaiki dua JPO yang rusak parah akibat kericuhan pada Jumat (29/8/2025) di Jakarta.
02 Sep 2025 16:34 WIB · Metropolitan
JAKARTA, KOMPAS - Nilai kerugian akibat kerusakan infrastruktur dan fasilitas umum pascakerusuhan pada Jumat (29/8/2025) di Jakarta membengkak hingga mencapai Rp 80 miliar karena ditemukan adanya infrastruktur lain yang turut rusak. Pemerintah pusat memastikan akan membantu Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memperbaiki dua jembatan penyeberangan orang yang mengalami kerusakan parah.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan, kerugian akibat kerusuhan yang semula diperkirakan Rp 55 miliar untuk MRT, Transjakarta, dan kamera pengawas (CCTV), kini membengkak menjadi Rp 80 miliar. Lonjakan ini terjadi setelah ditemukan kerusakan tambahan pada dua jembatan penyeberangan orang (JPO), 18 lampu lalu lintas (traffic light), serta CCTV lain.
”Setelah dihitung lebih lanjut, ada dua JPO yang mengalami kerusakan serius, yakni JPO Polda Metro Jaya dan JPO Senen. Nilai perbaikannya diperkirakan mencapai Rp 19 miliar,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Selasa (2/9/2025).
Dua JPO yang terhubung langsung dengan Halte Transjakarta itu akan menjadi prioritas perbaikan dengan dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta terus bergerak menangani kerusakan lain. Dari 18 traffic light yang terdampak, 17 sudah berhasil diperbaiki dan hanya satu yang masih dalam proses perbaikan, yakni di kawasan Slipi. Kerusakan puluhan kamera CCTV di berbagai titik juga sedang dalam tahap pemulihan.
Adapun 18 titik traffic light yang terdampak yakni di Matraman, Salemba Dipo, Otista 3, Otista 1, Cawang Kompor, PGC, Pejompongan BNI, Penjernihan SPBU, Kwitang, Pemuda, Senen, Slipi, Makam Kalibata, Bandung 12 (Patung Obor), Kuningan, TMII, Permai, dan Pospol Cilincing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/02/ae9606fe-f7ba-3d6e-aadf-2a0ee06dbd0f_heic.jpg)
Pramono mengatakan, Pemprov DKI Jakarta akan fokus memperbaiki layanan transportasi publik seperti MRT dan Transjakarta. Sedangkan perbaikan lampu lalu lintas ditangani langsung oleh Dinas Perhubungan.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo yang mendatangi Balai Kota Jakarta pada Selasa (2/9/2025) siang, menegaskan, pihaknya akan mengambil alih rehabilitasi JPO Polda Metro Jaya dan Senen.
”Kementerian PU akan merehabilitasi dua JPO, yakni Polda dan Senen, karena itu menjadi tanggung jawab kami. Jadi dua JPO itu yang akan kita kerjakan,” kata Dody.
Meski demikian, nilai anggaran untuk rehabilitasi kedua JPO tersebut masih dalam proses kalkulasi.
”Secara detail belum bisa dipastikan karena masih membutuhkan perhitungan lebih lanjut. Kami juga baru meninjau langsung kondisinya,” ujar Dody.
Dody menyebutkan, pemerintah pusat menyiapkan anggaran sekitar Rp 900 miliar untuk merehabilitasi fasilitas umum yang terdampak aksi di berbagai daerah. Namun, khusus untuk Jakarta, jumlah pastinya belum bisa ditentukan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/a045da7ae5a9406accf877665b5e1a34-20250901nut001.jpg)
Selain itu, sejumlah kamera pengawas (CCTV) di Jakarta juga ikut rusak. Kepala Dinas Komunikasi Informasi dan Statistik (Kominfotik) DKI Jakarta, Budi Awaluddin, mengatakan, total ada 25 unit CCTV jalanan yang terdampak.
Budi menjelaskan, kerusakan tersebut tersebar di sejumlah titik, termasuk kawasan Senen, Jakarta Pusat. Meski demikian, ia memastikan, isu yang menyebut CCTV di Jakarta mati saat demo berlangsung adalah keliru.
”Tidak benar CCTV dimatikan. Semua CCTV kami justru menyala saat itu. Hanya saja memang ada yang terkena vandalisme di beberapa lokasi,” jelasnya.
Menurut Budi, sempat terjadi pemadaman listrik dari PLN di beberapa titik sehingga CCTV terhenti sementara. Setelah listrik kembali menyala, seluruh perangkat berfungsi normal kembali, namun kemudian 25 unit mengalami kerusakan akibat aksi vandalisme.
Kerusakan besar juga dialami fasilitas MRT Jakarta. Di Stasiun Istora Mandiri, misalnya, kerusakan mencakup kaca entrance yang pecah, perusakan dan pengambilan paksa CCTV serta aset kelistrikan seperti pelindung lampu, detektor asap, panel blower, hingga panel lift, eskalator, dan cooling tower. Vandalisme juga ditemukan pada panel dan dinding entrance.
Sementara itu, Stasiun Senayan Mastercard hanya mengalami kerusakan minor dan kini juga dalam proses perbaikan. Nilai kerugian MRT Jakarta akibat kerusuhan ini diperkirakan mencapai Rp 3,3 miliar.
Dampak serupa dirasakan oleh Transjakarta. Kepala Humas dan CSR Transjakarta Ayu Wardhani menyebutkan, ada 58 unit CCTV Transjakarta yang rusak.
Selain itu, 22 halte ikut terdampak, terdiri dari enam halte yang terbakar dan dijarah, serta 16 halte lainnya mengalami vandalisme dan coretan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/01/5b965e9e93dba17fafef7970bd8567e0-20250901nut007.jpg)
Di tengah upaya perbaikan fasilitas publik yang rusak, Pramono Anung memastikan kondisi Ibu Kota telah kembali pulih pasca kerusuhan. Ia menegaskan, situasi Jakarta sudah berjalan normal dan masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.
”Saya ingin menunjukkan kepada publik bahwa Jakarta sekarang sudah normal kembali. Ini yang paling penting,” ujar Pramono.
Pramono mengatakan, seluruh moda transportasi publik milik Pemprov DKI Jakarta, mulai dari Transjakarta, MRT, LRT hingga Mikrotrans, telah kembali beroperasi penuh sejak Senin (1/9/2025). Meski masih ada beberapa halte yang belum dapat digunakan karena kerusakan, layanan tetap berjalan agar mobilitas warga tidak terganggu.
Pramono juga menyoroti kuatnya semangat gotong royong warga Jakarta dalam menjaga keamanan dan ketertiban kota. Ia menyebut, gerakan “Jaga Jakarta” yang lahir dari masyarakat kini bahkan menginspirasi daerah lain di Indonesia.
”Sekarang semua daerah menggunakan kata-kata yang sama. Ada Jaga Surabaya, Jaga Kediri, Jaga Indonesia. Ini adalah sesuatu yang baik,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/02/4577ad9e6cb0450237a6e147e34bb742-20250902AGS_47.jpg)
Selain itu, Pramono menilai, keterlibatan RT, RW, dan tokoh masyarakat dalam mendeklarasikan jaga kampung turut menjadi kekuatan nyata yang mempercepat pemulihan Jakarta.
”Kebersamaan itu menjadi kunci. Dengan keterlibatan masyarakat, kita bisa bangkit lebih cepat,” kata Pramono.
Pramono juga mengatakan, jika dirinya sempat berkeliling dengan sepeda tanpa pengawalan resmi pada Sabtu (30/8/2025) pagi untuk melihat langsung kondisi lapangan. Saat itu, ia menyaksikan sejumlah titik masih terbakar, termasuk pos polisi di Semanggi dan gerbang tol di kawasan tersebut.
Meski sempat sedih dengan kerusakan yang ada, Pramono bersyukur kerja keras aparat dan dukungan warga membuat Jakarta kembali pulih dalam waktu singkat.
”Hampir semua orang kaget, kok Jakarta sudah kelihatan normal kemarin, apalagi hari ini. Inilah kekuatan kebersamaan warga Jakarta,” ujarnya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al-HamasyEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase