Desa Dolok Nauli rusak parah akibat banjir dan longsor. Akses menuju Tapanuli Tengah terputus di kawasan tersebut.
27 Nov 2025 16:16 WIB · Nasional
KOMPAS/NIKSON SINAGA
Meski informasi tentang dampak banjir dan longsor di Sumatera Utara serta Aceh telah melintas di lini masa media beberapa hari terakhir, sebagian besar foto dan video yang muncul berasal dari unggahan ulang milik warga lokal serta aparat di lokasi bencana. Kantor berita Antara hingga Kamis (27/11/2025) belum merilis foto dampak dari banjir dan longsong di Sumatera Utara dan Aceh. Kantor berita asing juga belum menyiarkan foto dari kontributor mereka di kawasan tersebut.
Kondisi tersebut disebabkan oleh terputusnya akses menuju lokasi bencana sehingga jurnalis kesulitan untuk hadir di lokasi. Selain itu, jaringan komunikasi juga terputus sehingga pengiriman berita dan foto bencana menjadi kendala.
Foto awal tentang kondisi bencana longsor dan banjir di kawasan Sumatera Utara baru bisa dikirimkan dari lapangan oleh wartawan Kompas, Nikson Sinaga, pada Kamis siang. Nikson berangkat dari Medan pada Rabu malam dan menginap di Parapat sebelum pada kesempatan pertama di pagi hari melanjutkan perjalanan menuju Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara. ”Rute cukup berat karena sepanjang perjalanan hujan terus,” ujar Nikson.
Desa Dolok Nauli adalah desa yang saat ini menjadi ujung lokasi yang dapat diakses dengan kendaraan. Desa yang berada di jalur Tarutung-Sibolga ini terputus. Di depan desa tersebut diperkirakan terdapat 50 lokasi longsor sepanjang lebih kurang 20 kilometer. Dari ujung longsor di sisi lainnya masih berjarak 30 kilometer lagi menuju pusat kota Kabupaten Tapanuli Tengah.
Dampak banjir di Desa Dolok Nauli sangatlah masif. Dalam foto terlihat perkampungan di Jalan Tarutung-Sibolga dipenuhi lumpur. Jalan juga tertimbun material banjir dan longsor. Sementara lereng bukit tergerus longsor dan mengalir ke kawasan yang lebih rendah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/a140a597-4763-4770-8e6c-30224d3054d4.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/f8e1c54b-b045-4e4d-b44e-500ba2bef2dc.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/c6a1f236-f308-4e26-865c-d584e1481b6f.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/f37ab334-440f-4a40-8957-668ba859e5ab.jpg)
Tim dari BPBD Sumut hingga Selasa (26/11/2025) belum bisa menjangkau lokasi bencana di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga yang berada di pesisir barat Sumut itu. Mereka mencoba tiga akses jalan nasional menuju kawasan itu. Namun, semua jalan putus total karena tertimbun longsor atau badan jalan ambles. Truk pengangkut logistik tertahan di jalur itu.
Jalan utama ke kawasan itu melalui Jalan Tarutung-Sibolga, Tapanuli Utara. Jalan nasional itu putus sedikitnya di tiga lokasi, yakni di Kilometer 29-35 di Kecamatan Adiankoting, Tapanuli Utara, di perbatasan dengan Tapanuli Tengah.
Jalan alternatif lain melalui Jalan Padangsidimpuan-Sibolga. Namun, jalan nasional itu juga putus total di Kecamatan Angkola Barat, Tapanuli Selatan. Sebuah truk tangki Pertamina tertimbun material longsor di badan jalan. Beberapa rumah juga tertimbun.
Lokasi bencana yang cukup parah, antara lain, berada di Tapanuli Selatan, terutama di Kecamatan Batang Toru. Arus Sungai Batang Toru meluap membawa batang-batang pohon, lalu menghantam permukiman warga. Sembilan orang meninggal dan empat orang hilang di daerah itu. Banjir bandang juga membuat 320 rumah dan satu sekolah rusak (Kompas.id, Selasa 26/11/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/a9331cf4-e214-44c6-8ae0-e27b42b368b7.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/ee482a31-18ce-4fb4-9d0a-f977f2d1ff26.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/f3a54bdf-1cb8-4da0-8929-c973158be45f.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/b0f0ba87-8be2-4a1d-a2e3-6eae54b21de1.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/83f7cc8f-5ec4-4447-88f4-c9d6e92c2e88.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/27/619dd6ec-301d-47b0-bc00-aec72b2c0266.jpg)
Penulis:
Nikson Sinaga, Yuniadhi AgungEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti