Gangguan pernapasan masih dianggap sebagai penyakit ringan. Padahal, pengabaian penyakit ini meningkatkan risiko banyak penyakit dan berdampak luas pada ekonomi.
29 Apr 2026 18:21 WIB · Kesehatan
KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA
Kesehatan pernapasan masih dianggap urusan sepele. Padahal, kesehatan pernapasan bukan hanya tentang batuk atau influenza. Kesehatan pernapasan berdampak besar bukan hanya untuk kesehatan diri dalam jangka panjang, melainkan juga kesejahteraan diri, keluarga, dan orang-orang di sekitar. Karena itu, percakapan tentang kesehatan pernapasan perlu terus digaungkan, baik oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat.
Kurang diperhatikannya masalah kesehatan pernapasan itu ternyata menjadi masalah umum yang mudah ditemui di Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Filipina. Persoalan itu terungkap dalam telekonferensi For The Reasons That Matter yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (28/4/2026). Ini merupakan peluncuran kampanye yang digagas perusahaan farmasi global Pfizer untuk menjembatani rendahnya kesadaran masyarakat di empat negara terhadap kesehatan mereka.
Kesehatan pernapasan umumnya hanya dianggap sebagai penyakit batuk, flu, atau tidak enak badan yang biasa. Kesehatan pernapasan masih dianggap sebagai penyakit ringan yang mudah sembuh dan tidak berdampak luas. Karena itu, saat penyakit ini muncul, banyak orang tidak memandangnya sebagai prioritas dan memilih untuk terus bekerja atau menjaga keluarga.
Kesehatan pernapasan sering kali tidak terlihat sampai akhirnya berdampak pada kehidupan harian mereka.
Padahal, dalam lingkup penyakit ini, ada Covid-19, pneumonia pneumokokus, hingga penyakit respiratory syncytial virus (RSV). Jika dibiarkan, penyakit ini bisa menurunkan produktivitas seseorang, meningkatkan risiko sejumlah penyakit degeneratif, menularkan ke orang lain, meningkatkan risiko kematian, khususnya pada warga lansia, hingga membebani keluarga.
”Kesehatan pernapasan sering kali tidak terlihat sampai akhirnya berdampak pada kehidupan harian mereka. Selama penderita masih bisa bekerja, merawat keluarga, dan berfungsi normal dalam masyarakat, semua dianggap baik-baik saja,” kata dokter keluarga dan Direktur Medis Parkway Shenton Singapura, lembaga penyedia layanan kesehatan primer, Lim Wee Peng.
Situasi serupa terjadi di Filipina. Salah satu alasan masyarakat menunda mendapatkan perawatan atas penyakit pernapasan yang mereka alami adalah kendala biaya. Terlebih, sebagian besar masyarakat di sana masih menggunakan sistem pembayaran langsung untuk mendapatkan layanan kesehatan, bukan melalui asuransi atau sistem jaminan sosial nasional. Kalaupun memiliki uang, mereka lebih memilih untuk menggunakannya untuk keperluan lain yang lebih penting.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/25/b986378a-1df4-414a-941d-df980b3eb63d.jpg)
”Masyarakat tahu bahwa kesehatan mereka penting, tetapi mereka menempatkan diri dan kesehatan mereka, termasuk kesehatan pernapasan, bukan sebagai prioritas utama,” tambah dokter penyakit infeksi asal Filipina, Karl Henson.
Sementara di Indonesia, salah satu pemicu rendahnya perhatian masyarakat terkait kesehatan pernapasan adalah akibat informasi kurang tepat dan tidak utuh yang mereka terima. Survei YouGov menunjukkan bahwa 63 persen orang dewasa di Indonesia menjadikan media sosial sebagai sumber informasi kesehatan mereka, lebih dari dua kali lipat daripada yang menjadikan dokter dan profesional kesehatan lain sebagai sumber informasi utama.
”Sebagian besar masyarakat mendapatkan informasi awal kesehatan dari media sosial. Media sosial memang menyebarkan kesadaran (akan kesehatan), tetapi terkadang tidak memberikan informasi yang benar dan akurat. Akibatnya, mereka tidak sepenuhnya memahami informasi kesehatan yang mereka baca,” kata dokter spesialis penyakit dalam dan pendiri Klinik Vaksinasi Imuni yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, Dirga Sakti Rambe.
Di tengah situasi itu, kehadiran dokter dan tenaga kesehatan lain menjadi penting untuk menjembatani dan membantu agar masyarakat mendapatkan informasi yang tepat. Kondisi di Singapura sebenarnya mirip dengan di Indonesia, tetapi kesadaran masyarakat di sana untuk mendapatkan informasi yang akurat jauh lebih tinggi. Di Singapura, 52 persen orang dewasa menjadikan dokter dan profesional kesehatan lain sebagai sumber informasi mereka dan 51 persen hanya menggunakan obat-obatan yang direkomendasikan dokter.
”Lembaga layanan kesehatan primer di Singapura memainkan peran penting dalam promosi dan pencegahan penyakit karena didukung oleh tingkat kepercayaan tinggi dari masyarakat. Selain itu, sistem kesehatan yang ada mendukung upaya tersebut dan terus bergerak maju lebih terencana,” tambah Lim. Kepercayaan itu membuat dokter lebih mengenal pasien, keluarga mereka, dan juga kondisi kesehatannya.
Persoalan itu yang menurut Dirga menjadi tantangan di Indonesia. Kesadaran masyarakat mencari informasi kesehatan di media sosial sejatinya merupakan hal positif. Namun, agar informasi itu lebih akurat, diperlukan adanya akses, kepercayaan, dan relevansi. Seberapa mudah pasien menemui dan berdiskusi dengan dokter mereka, seberapa gampang mereka bisa bercerita dan didengarkan tanpa dihakimi, serta apakah informasi yang mereka dapatkan relevan dengan kehidupan mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/02/23/49a3abe0-f0f7-4153-a997-d33c3f6caf90.jpg)
”Sebagai dokter, kita harus menyambut pasien dan mengajak mereka untuk berbicara. Dengan demikian, informasi yang mereka dapatkan bisa menjadi percakapan dan akhirnya menjadi tindakan,” tambahnya.
Akibat sering dianggap sebagai penyakit ringan, banyak masyarakat tidak menyadari bahwa masalah kesehatan pernapasan bisa meningkatkan risiko sejumlah gangguan kardiovaskular. Mantan Ketua Umum Kolegium Dokter Filipina (PCP) Anthony Cueto Leachon menegaskan, di seluruh Asia, termasuk Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Filipina, gangguan kardiovaskular adalah penyakit tidak menular yang menjadi pembunuh nomor satu.
”Meski gangguan kardiovaskular seseorang sejatinya stabil, penyakit pneumonia yang mereka alami bisa membuat mereka harus menjalani perawatan di rumah sakit,” katanya. Situasi itu membuat masalah kesehatan pernapasan tidak bisa dipandang sebagai persoalan tersendiri yang terpisah dengan gangguan atau penyakit lainnya.
Selain itu, penyakit pernapasan sering dipandang sebagai penyakit biasa yang berbiaya rendah. Padahal, jika berimbas ke penyakit lain, termasuk berbagai gangguan kardiovaskular, biayanya akan jauh lebih tinggi. Terlebih di Filipina, selain sistem pembiayaan kesehatan masih berdasarkan pembayaran langsung, tingkat kemiskinan masyarakat masih tinggi. Akibatnya, gangguan pernapasan yang tidak tertangani sejak awal akan berkembang dengan munculnya penyakit lain hingga makin memiskinkan masyarakat.
Di sisi lain, melonjaknya jumlah penduduk lansia di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Indonesia, Singapura, dan Filipina, membuat risiko perkembangan penyakit RSV di negara-negara tersebut juga akan meningkat.
Profesor kedokteran geriatri di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia, Tan Maw Pin, mengatakan, meski RSV menjadi penyebab kematian paling umum pada bayi, penyakit ini membunuh lebih banyak pada warga lansia. ”Sebenarnya yang lebih mengkhawatirkan bagi kalangan lansia adalah konsekuensi dari infeksi RSV ini,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/07/06/9d010265-c72a-441f-a1cd-db1d5a9a257a.jpeg)
RSV adalah infeksi virus. Namun, kemunculan RSV bisa mengembangkan infeksi sekunder lain, misalnya infeksi dari bakteri. Kedua infeksi itu bisa membuat orang lansia harus dirawat di rumah sakit. Infeksi RSV akan memicu peradangan pada seluruh tubuh sehingga meningkatkan risiko orang lansia untuk mengalami serangan jantung, stroke, hingga pembekuan darah di paru. Lebih dari itu, konsekuensi jangka panjang RSV juga bisa meningkatkan risiko demensia, masalah ginjal, pengecilan otot atau sarkopenia, hingga penurunan kondisi fisik.
”Berbagai penyakit tersebut bisa membuat orang lansia kehilangan kemandirian sehingga membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalankan aktivitas sehari-hari,” tambahnya. Karena itu, RSV tidak bisa dipandang sepele bagi kalangan lansia.
Situasi ini membuat masalah kesehatan pernapasan perlu terus dikomunikasikan ke masyarakat agar penyakit ini tidak disepelekan, seringan apa pun gejala yang muncul. Membangun kesadaran setiap masyarakat itu penting karena gangguan pernapasan bisa berdampak panjang pada kesehatan, produktivitas, kualitas hidup, kesejahteraan pasien, harmoni keluarga, hingga status ekonomi keluarga.
Karena itu, Direktur Kesehatan Korporasi, Pemasaran, dan Komunikasi Careclinics Healthcare Services—lembaga layanan kesehatan di Malaysia—Rokeshwar Hari Daas mengajak untuk menormalisasikan pemeriksaan dan percakapan tentang kesehatan pernapasan di klinik-klinik kesehatan.
”Daripada hanya terfokus dengan pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah, pemeriksaan terkait kesehatan pernapasan juga perlu terus dinormalisasi,” katanya.
Penulis:
Muchamad Zaid WahyudiEditor:
Ichwan SusantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar