Kejuaraan Angkat Besi Dunia 2024 jadi kesempatan Ricko Saputra, yang digadang-gadang jadi penerus Eko Yuli Irawan, untuk mengejar level seniornya itu.
06 Des 2024 16:10 WIB · Olahraga
MANAMA, JUMAT — Setelah upaya ”mengejar” level Eko Yuli Irawan pada kualifikasi Olimpiade berakhir antiklimaks, Ricko Saputra berkesempatan memulai upayanya kembali di Kejuaraan Angkat Besi Dunia 2024. Meski tak akan bersaing di kelas yang sama dengan Eko, Ricko bisa membuktikan bahwa dirinya layak meneruskan tongkat esfatef sang lifter veteran.
Ricko akan mengawali perjuangan atlet Indonesia di Kejuaraan Angkat Besi Dunia, Manama, Bahrain, pada Sabtu (7/12/2024) malam waktu setempat atau Minggu dini hari WIB. Lifter asal Bekasi, Jawa Barat, ini bakal turun di kelas 61 kilogram putra Grup A.
Terakhir kali tampil di kejuaraan internasional, Piala Dunia Angkat Besi 2024 di Phuket, Thailand, Ricko harus bersaing dengan Eko Yuli demi satu tiket ke Olimpiade. Ricko membutuhkan tambahan angkatan minimal 3 kilogram untuk melampaui Eko yang punya total angkatan terbaik 300 kg. Itu dengan catatan Eko tidak menambah total angkatannya.
Namun, nasib malang menimpa Ricko. Alih-alih mengejar, lalu menyalip Eko, Ricko justru gagal melanjutkan perlombaan karena tiga percobaan angkatan snatch dianggap no lift.
Jika lifter gagal dalam tiga kali percobaan satu jenis angkatan, total angkatan tidak bisa dihitung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/10/01/1eae3db4-3b32-4a10-8250-0a4eb083f3e5_jpg.jpg)
Di Bahrain, kondisi berbeda akan dijalani Ricko. Selain tak akan bersaing dengan Eko Yuli yang memilih turun di kelas 67 kg, tak ada lagi juga tiket ke ajang lebih tinggi yang diperebutkan. Namun, di ajang ini, Ricko bisa ”membalas” kegagalannya di Piala Dunia sekaligus kembali mengejar Eko.
Dengan total angkatan yang paling mendekati Eko Yuli, Ricko digadang-gadang menjadi penerus sang lifter veteran. Namun, dia masih belum bisa mengejar level Eko yang juga berprestasi di ajang multicabang, mulai SEA Games sampai Olimpiade. Di Asian Games Hangzhou 2022, misalnya, Ricko masih demam panggung dan harus pulang tanpa medali.
Kejuaraan Dunia Angkat Besi menjadi kesempatan Ricko untuk memulai kembali upayanya mengejar Eko. Secara usia, Eko memang sudah mencapai 35 tahun. Namun, secara kemampuan, belum ada yunior yang bisa mengejar dan mengalahkannya.
Saat persiapan menuju ajang tersebut bulan lalu, Ricko sakit hingga harus dirawat di rumah sakit. Akan tetapi, pelatih angkat besi nasional, Dirdja Wihardja, optimistis anak asuhannya itu bisa pulih cepat dan kembali menjalani persiapan untuk Kejuaraan Dunia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/02/1307f1e1-1cb1-4cdf-a510-1ffa8b769332_jpg.jpg)
Keyakinan Dirdja itu tecermin dari target yang dipasang untuk Ricko. Dirdja menargetkan Ricko bisa naik podium di kejuaraan tersebut. Menurut Dirdja, itu target yang seharusnya bisa dipenuhi atlet 24 tahun tersebut.
Peluang bagi Ricko untuk bisa meraih medali di Kejuaraan Dunia memang terbuka. Tiga lifter peraih medali di Olimpiade Paris 2024 absen dalam ajang itu. Mereka ialah peraih medali emas sekaligus pemegang rekor dunia untuk angkatan snatch dan total angkatan, yakni Li Fabin (China).
Lalu peraih medali perak, Theerapong Silachai (Thailand), dan peraih medali perunggu sekaligus pemegang rekor dunia angkatan clean and jerk, Hampton Miller Morris (AS).
Meski demikian, ada lifter-lifter lain yang berpotensi jadi pesaing berat Ricko. Salah satunya atlet Korea Utara, Pak Myong Jin. Pada Kejuaraan Angkat Besi Asia 2024 di Tashkent, Uzbekistan, awal tahun ini, Pak Myong Jin, menyapu bersih tiga medali emas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/04/03fb6a2a-6dec-4118-a474-4ba4453d910c_jpeg.jpg)
Pak Myong Jin unggul dari lifter lainnya dengan angkatan snatch seberat 134 kg, clean and jerk 172 kg, dan total angkatan 306 kg. Dia juga menajamkan rekor atas namanya sendiri pada angkatan clean and jerk seberat 171 kg yang dicatatkannya pada level yunior.
Adapun Ricko saat itu hanya bisa meraih dua perak dari jenis angkatan clean and jerk. Selain itu, dia membawa pulang satu perunggu dari jenis angkatan snatch.
Kendati akhirnya kalah saing dari Pak dan tak berhasil berdiri di podium tertinggi, Ricko sempat memberikan ”pertarungan” sengit. Pada angkatan clean and jerk, keduanya saling ”jual-beli” angkatan dengan Ricko akhirnya memasang angkatan 167 kg pada percobaan kedua. Pak ikut memasang angkatan dengan berat yang sama. Ketika Ricko gagal, Pak menaikkannya menjadi 168 kg dan berhasil melakukannya.
Pada percobaan terakhir, secara mengejutkan Ricko memasang 171 kg. Pak ”membeli” tawaran Ricko dan memasang angkatan lebih tinggi, 172 kg. Sementara Ricko gagal, Pak berhasil sekaligus menegaskan keunggulannya atas rivalnya tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/07/25/7375306c-fbf2-4592-bbf5-4c8e4f8f6811.jpeg)
Lifter lain yang bisa jadi pesaing berat Ricko yaitu Mohamad Aniq Bin Kasdan (Malaysia). Di Olimpiade Paris 2024, total angkatan Mohammad Aniq hanya terpaut 1 kilogram dari peraih medali perunggu, Hampton Morris, yang mencatatkan 298 kg.
Di Kejuaraan Angkat Besi Dunia yang berlangsung hingga 15 Desember 2024 ini, Indonesia mengirim total sembilan lifter. Selain Ricko dan Eko Yuli Irawan, lifter putra yang juga bersaing di ajang tersebut yaitu Mohammad Yasin di kelas 67 kg, Rizki Juniansyah (73 kg), dan Rahmat Erwin Abdullah.
Sementara itu, empat atlet putri terdiri dari Juliana Klarisa (55 kg) yang bermain di Grup B, Natasya Beteyob (59 kg A), dan Tsabitha Alfiah Ramadani (64 kg C). Pada kelas berat, ada Nurul Akmal +87 kg A.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji Dewabrata