Kesepian Menggerogoti Tubuh dan Jiwa

Awalnya hanya merasa sendiri. Saat kesepian dibiarkan berkembang, kesehatan ikut terganggu dan berujung jadi beban sosial.

30 Jul 2025 09:05 WIB · Kesehatan

Oleh Ratna Sri Widyastuti, Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki

Arif Riansyah (32) harus membayar mahal kesepiannya. Berat badannya kini menembus angka 100 kilogram akibat seringnya ia melampiaskan rasa sepi dengan makan. Mengikat tali sepatu saja sudah membuat badannya bekerja keras hingga napasnya tersengal-sengal.   

Pola tidurnya kacau akibat jam kerja yang panjang hingga larut malam. Setiap bangun pagi, tubuhnya terasa rontok. Rasa lelah tak kunjung reda, sementara kesempatan untuk berolahraga nyaris tak ada. 

Seusai menyelesaikan pekerjaannya di kawasan Sudirman, Jakarta, ia kerap mampir makan di restoran viral yang ramai dibicarakan di media sosial, sendirian. Pikirannya mengembara. Tak ada teman yang bisa ia ajak menikmati makanan. Ia bahkan sering tak sadar saat berkendara ke rumahnya di Jakarta Barat.   

”Kalau pulang biasanya mendengarkan lagu menerobos kemacetan. Bawa motor, sepi, tiba-tiba sudah sampai rumah. Sudah seperti autopilot,” katanya saat bercerita kepada Kompas pada Senin (7/7/2025) siang.   

Quote

Saya merasa tidak ada ikatan dengan kerjaan ini. Enggak punya teman. Selesai kerja, capek, pulang. Jadi seperti robot.  

Kesepian yang mulai ia rasakan sejak pandemi Covid-19 kini telah mengganggu kesehatannya. Arif sering merasa terasing. Hubungan di tempat kerja hanya sebatas tugas.

Tinggal bersama kedua orangtua yang sudah lanjut usia pun tak banyak membantunya mengusir sepi. Perbedaan generasi menyulitkan ia berkomunikasi dan bahkan seringnya muncul gesekan kecil.  

Kesepian memicu penyakit  

Pengalaman Arif sejalan dengan temuan Kompas. Hasil analisis menunjukkan, adanya hubungan positif antara kesepian dan depresi, gangguan kejiwaan, dan keinginan bunuh diri. Saat prevalensi kesepian meningkat, angka prevalensi tiga gangguan mental ikut naik. Di antara ketiganya, korelasi paling kuat terlihat antara kesepian dan dorongan untuk mengakhiri hidup.  

Kesepian ternyata berelasi positif dengan stroke, diabetes, hipertensi, serta penyakit jantung. Ketika angka kesepian di Indonesia meningkat, jumlah penderita penyakit-penyakit itu pun ikut naik. Korelasi paling kuat terlihat pada diabetes dan stroke, disusul hipertensi dan penyakit jantung. Temuan ini menunjukkan bahwa kesepian bukan hanya urusan emosi, melainkan juga bisa mempercepat penurunan kondisi fisik.  

Data prevalensi kesepian diolah dari jajak pendapat Litbang Kompas pada 16-19 Juni 2025 di 38 provinsi. Data prevalensi ketujuh penyakit diperoleh dari hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023 yang diterbitkan Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.  

Lingkaran kesepian dan kesehatan  

Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), ”From Loneliness to Social Connection”, yang dirilis pada 30 Juni 2025 mencatat bahwa orang yang merasa kesepian atau mengalami diskoneksi sosial memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan diabetes.  

Meta-analisis terhadap 23 riset menunjukkan, kesepian dan isolasi sosial meningkatkan risiko penyakit jantung koroner sebesar 29 persen dan stroke 32 persen. Penelitian lain mengungkap, kesepian berkaitan dengan kenaikan risiko penyakit kardiovaskular sebesar 16 persen, serta terkait dengan tekanan darah tinggi, yang merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung.  

Diskoneksi sosial juga dapat menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi, memperburuk fungsi fisik, menimbulkan rasa lelah berkepanjangan, serta meningkatkan risiko diabetes tipe 2.  

Studi terhadap lebih dari 465.000 orang dewasa di Denmark menemukan bahwa mereka yang hanya ”kadang-kadang” mengalami kesepian memiliki risiko 14 persen lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dalam enam tahun. Pada mereka yang sering kesepian, risikonya naik menjadi 24 persen.  

Petugas medis dari Puskesmas Petukangan Selatan mengambil sampel darah untuk pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan gula darah warga senior yang mengikuti pemeriksaan kesehatan di Posyandu Lansia di Balai Warga RW 08, perumahan Bumi Pesanggrahan Mas, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, Sabtu (14/1/2023) pagi.

Laporan WHO menyebut, hubungan kesepian dengan kesehatan bersifat dua arah. Penyakit kronis, keterbatasan mobilitas, atau stigma penyakit tertentu bisa membuat seseorang semakin sulit menjalin hubungan sosial. Akibatnya, rasa kesepian semakin dalam dan kondisi fisik pun memburuk.  

”Kesepian itu menyebabkan masalah mental, emosional tertekan, dan tidak nyaman. Implikasinya nanti pada kesehatan fisik,” kata psikiater konsultan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Nalini Muhdi, Rabu (9/7/2025).  

Kesepian yang berkepanjangan dapat memicu gangguan kecemasan, gangguan tidur, stres, depresi, hingga dorongan ingin bunuh diri.   

Psikiater konsultan dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Nalini Muhdi

”Orang yang ingin bunuh diri sebetulnya bukan karena ingin mati, melainkan ingin mengakhiri painful, nyeri emosional penderitaannya. Namun, sebetulnya ada jeda di mana dia ragu-ragu, mau meneruskan niatnya atau tidak. Inilah waktu krusial untuk melakukan intervensi. Dia harus didekati secara persuasif. Kalau di negara maju, masyarakat dilatih menanganinya,” papar Nalini.    

Menurut dia, stres dan depresi yang dialami orang kesepian dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Kondisi ini pada gilirannya meningkatkan risiko kegemukan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, hingga menurunnya daya ingat atau fungsi kognitif, terutama pada lansia (demensia).    

”Kesepian kerap kali diabaikan atau dialihkan ke pekerjaan. Gila kerja atau workaholic bisa jadi indikasi awal seseorang kesepian,” katanya. 

Quote

Kesepian itu menyebabkan masalah mental, emosional tertekan, dan tidak nyaman. Implikasinya nanti pada kesehatan fisik.

Sulit tidur atau makan   

Hasil jajak pendapat Litbang Kompas mengungkapkan, dampak yang paling dirasakan oleh orang-orang kesepian di Indonesia adalah sulit tidur atau sulit makan. Dampak lain adalah perasaan sedih, murung, dan penurunan semangat hidup. Munculnya pikiran negatif, stres, atau gejala depresi juga masuk tiga besar dampak yang paling dirasakan warga yang merasa sepi.   

Jika dibedakan berdasarkan kelompok ekonominya, dampak utama yang dirasakan warga kelas bawah saat kesepian adalah merasa sedih dan menurun semangat hidupnya. Sementara dampak pada kelompok ekonomi menengah berupa sulit tidur atau sulit makan. Warga kelas atas, kebanyakan menjawab tidak tahu disusul dengan memiliki pikiran negatif, stres, dan depresi.   

Kesepian, menurut Nalini, sebenarnya bisa dicegah atau diatasi dengan cara membangun kembali koneksi sosial yang bermakna, seperti aktif dalam kehidupan sosial, menjalani hobi, atau sekadar mengobrol dengan tetangga. 

”Agar tidak merasa kesepian, kita perlu berelasi dengan orang lain. Punya sahabat itu penting,” ujar Nalini.  

Dampak sosial 

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Wahyu Kustiningsih, berpendapat, kesepian bukan hanya persoalan individu, melainkan persoalan kolektif. Sebab, hal itu terjadi imbas dari struktur masyarakat yang berubah. Misalnya, orang miskin yang tidak bisa mengakses pendidikan atau pekerjaan yang layak. Dia akan merasa teralienasi, lama-lama kesepian. 

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada Wahyu Kustiningsih

Jika kondisi kesepian masyarakat dibiarkan, menurut Wahyu, akan mendorong terjadinya perubahan sosial, seperti menurunnya kohesi sosial, modal sosial, dan solidaritas.

Akibatnya, kolaborasi, kerja sama, dan nilai-nilai kebersamaan semakin memudar.

”Nilai-nilai seperti gotong royong, musyawarah tidak kuat lagi karena orang cenderung sendiri-sendiri,” tutur Wahyu dalam wawancara daring, Rabu (16/7/2025).  

Menurut dia, kesepian akan membuat orang merasa tidak memiliki sistem pendukung. Lebih jauh, akan menimbulkan beban sosial dan ekonomi kepada masyarakat. Misalnya, jika seseorang yang kesepian melakukan tindakan fatal atau merugikan orang banyak.  

Untuk itu, Wahyu menekankan pentingnya peran negara dalam menyediakan ruang sosial yang inklusif dan bermakna. Namun, solusi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada negara. ”Negara seharusnya jadi pengayom. Tapi, masyarakat pun harus saling mendukung,” ujarnya. 

Ia menggambarkan masyarakat seperti seikat sapu, yaitu kuat ketika bersatu, rapuh saat sendiri. Oleh karena itu, edukasi publik soal kesehatan mental penting untuk menjadi tanggung jawab bersama.   

”Modal sosial hadir kalau ada kebersamaan. Sementara sekarang, orang lebih hidup sendiri-sendiri. Itu jadi problem,” katanya. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ratna Sri Widyastuti, Satrio Pangarso Wisanggeni, Sri Rejeki
 | 

Editor:

Sri Rejeki, Andy Riza Hidayat
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto