Barca kembali mengalami kesialan di Stadion Anoeta. Kekalahan dari Real Sociedad tak sepenuhnya karena nasib, tetapi ada campur tangan keputusan Pelatih Flick.
19 Jan 2026 11:43 WIB · Olahraga
AFP/CRISTINA QUICLER
SAN SEBASTIAN, SENIN — Kegigihan tidak selamanya berakhir bahagia. Adakalanya usaha mengkhianati hasil. Pengalaman itu dirasakan Barcelona yang menelan kekalahan 1-2 dari Real Sociedad meski bermain sangat dominan.
Barca mendapati upaya mencetak gol digagalkan asisten wasit video (VAR) dan tiang gawang. Kesialan memang berpengaruh, tetapi itu seharusnya bisa dicegah jika Hansi Flick tidak bereksperimen terhadap susunan pemain mula.
Skor 1-2 terasa sangat tidak adil bagi ”Blaugrana”. Mereka mendominasi jalannya laga dengan 72 persen penguasaan bola. Nilai ekspektasi gol (xG) Barca pun mencapai 3,68 berbanding 1,01 milik Sociedad.
Itu berarti jika dilihat dari kualitas peluang, Barca seharusnya bisa mencetak minimal tiga gol. Namun, dengan upaya keras yang seperti itu, Barca tetap kalah. Kesialan yang terasa sangat maksimal lantaran tiga gol Barca dianulir wasit dan lima tembakan mengenai tiang gawang.
”Saya tidak senang dengan hasil akhir pertandingan. Namun, seperti inilah cara kami ingin bermain. Kami sedikit kurang beruntung dalam situasi tertentu. Kami harus menerimanya. Terkadang memang seperti itu,” kata Flick seusai laga di Stadion Anoeta, San Sebastian, Senin (19/1/2026) dini hari WIB.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/a108a3e1-9ddc-47d3-aa69-9856349a39a2_jpg.jpg)
Momen pertama kesialan Barca terjadi pada gol Fermin Lopez saat laga baru berjalan enam menit. Wasit Jesus Gil Manzano, lewat tayangan VAR, mengoreksi gol itu karena sebelum bola dikuasai Fermin, Dani Olmo dinyatakan melanggar Takefusa Kubo. Momen Olmo melanggar Kubo itu yang membuat Barca bisa menggagalkan skema membangun serangan Sociedad. Saat bola direbut dari Kubo, para pemain Sociedad telanjur naik menyerang sehingga terlambat turun membantu pertahanan.
Pelanggaran Olmo terhadap Kubo menuai perdebatan dan mendapat protes keras dari Barca. Sebab, sekilas cara Olmo merebut bola dari Kubo sangat bersih. Namun, Manzano menilai ada sentuhan kaki Olmo yang menyebabkan Kubo kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Rentetan kesialan Barca dimulai dari momen itu. Setelah gol Fermin dibatalkan, Frenkie de Jong mengalami hal serupa pada menit ke-20. Bedanya, gelandang asal Belanda itu telah terjebak offside. Enam menit berselang, giliran gol Lamine Yamal yang dianulir dengan alasan serupa.
Setelah itu, justru Sociedad yang mampu unggul lebih dulu melalui tendangan voli Mikel Oyarzabal. Kesialan Barca kembali muncul ketika hadiah penalti akibat Yamal dilanggar dibatalkan. Penyebabnya, Yamal didakwa lebih dulu berada pada posisi offside sebelum terjadinya pelanggaran.
”Pertandingan yang membuat kami beruntung adalah hari ini. Namun, kiper kami bermain bagus dan itu bukan termasuk dalam aspek keberuntungan,” kata Pelatih Sociedad Pellegrino Matarazzo, dikutip dari Mundo Deportivo. Sebagaimana disampaikan Matarazzo, kiper Sociedad Alex Remiro memang tampil luar biasa dengan mencatatkan delapan penyelamatan penting.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/81741d89-907e-440d-8fd4-4caa8c0ab9e2_jpg.jpg)
Kesialan memang berperan dalam kekalahan Barca. Namun, itu semua bisa dicegah jika Flick tidak bereksperimen terhadap susunan pemain mula. Flick mengambil keputusan janggal dengan tidak memainkan Marcus Rashford sejak awal untuk menggantikan Raphinha di pos sayap kiri.
Flick justru memercayakan posisi itu kepada Dani Olmo yang berposisi asli sebagai penyerang lubang atau gelandang serang. Olmo beroperasi bersama-sama dengan Fermin yang punya posisi asli sama.
Memilih Olmo di pos sayap kiri bisa dikatakan sebagai blunder terbesar Flick di laga ini. Olmo kurang bisa tampil bagus dalam posisi melebar. Dua tembakan Olmo seharusnya bisa menjadi gol, tetapi hanya mengenai tiang gawang. Olmo memang pemain yang istimewa, tetapi dia lebih berbahaya ketika beroperasi di belakang penyerang atau dekat dengan kotak penalti dan bukan pada posisi melebar.
Sebaliknya, keputusan Flick memasukkan Rashford pada babak kedua justru berbuah hasil. Rashford mencetak gol penyeimbang memanfaatkan umpan silang Yamal. Kesialan Barca bisa jadi tidak muncul jika Flick memainkan Rashford sejak awal dan bukan Olmo.
Di sisi lain, kemenangan Sociedad dipengaruhi strategi cerdas Matarazzo yang tahu momentum bertahan dan menyerang. Matarazzo sama seperti Flick yang dipengaruhi ide-ide sepak bola menekan ala Jerman. Namun, Matarazzo adalah antitesis Hansi Flick yang kaku dalam menerapkan sepak bola menekan dengan garis pertahanan tinggi. Matarazzo sangat fleksibel, hanya menekan jika momentumnya tepat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/19/878a3ee6-e1c7-493b-ab57-36ea15903594_jpg.jpg)
Prinsip itu berperan dalam gol kemenangan Sociedad yang dicetak Goncalo Guedes pada menit ke-71. Matarazzo menginstruksikan agar para pemainnya tidak kalah jumlah dalam situasi umpan silang. Empat pemain depan Sociedad bertarung di dalam kotak penalti melawan empat bek Barca.
Ketika terjadi kemelut, Guedes yang berdiri bebas tanpa kawalan melepaskan tembakan setengah voli yang gagal diblok Joan Garcia. Flick mengakui, ada kesalahan timnya dalam situasi bertahan seperti itu.
”Kami memang melakukan kesalahan dalam bertahan, tetapi pada akhirnya kami bermain bagus dan saya sudah menyampaikan hal itu kepada tim,” ucap Flick.
Kekalahan ini memang belum menggoyahkan posisi Barca dari puncak klasemen sementara Liga Spanyol. Namun, kehilangan tiga poin gagal menjauhkan mereka dari kejaran Real Madrid yang pada laga lain menang atas Levante. Barca mengoleksi 49 poin, sementara Real mendekat dengan 48 poin.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti