Kemiskinan memicu tiga nyawa melayang di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Ironisnya, ini terjadi saat pejabat legislatif ketahuan mendapat tunjangan fantastis.
06 Sep 2025 17:40 WIB · Metropolitan
Seorang ibu di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, nekat menghabisi kedua anaknya lalu bunuh diri. Pemicunya lagi-lagi masalah ekonomi. Peristiwa ini terjadi di tengah dalamnya jurang kesenjangan ekonomi masyarakat Indonesia.
Hening di Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada Jumat (5/9/2025) sekitar pukul 04.00 WIB, berubah riuh. Kabar duka yang menyesakkan dada mengguncang kampung itu.
Dini hari itu, Yadi Suryadi (35) berteriak histeris saat mengintip dari jendela rumahnya. EN (34) istrinya terlihat gantung diri. Rumah itu terkunci dari dalam. Sebelumnya ia telah mengetuk namun tak ada suara yang menyaut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/06/e680eb5dd4ba919f89501c73f63de7a0-IMG_20250906_WA0067.jpg)
Teriakan Yadi, buruh pembuatan aspal, yang histeris dengan cepat mengundang kedatangan warga. Setelah diberi tahu kondisi yang terjadi, mereka lantas mendobrak pintu kontrakan yang terkunci rapat itu.
Setelah diperiksa, EN dan dua anaknya sudah tidak bernyawa. Dua anaknya, AA (9) dan AP yang baru berusia 11 bulan itu tergolek di tempat tidur dengan luka jeratan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/05/de5c2a273dcfcec844593a238e5832e3-IMG_20250905_WA0048.jpg)
Warga kala itu sudah menduga kuat EN bunuh diri. Salah satu indikasinya ada surat dengan tulisan tangan yang ditempel di dinding ruang tengah.
”Maafkan mama tidak bisa memenuhi segala kebutuhan aa dan dede. Maafkan mama tidak bisa membahagiakan aa dan dede,” begitu salah satu bagian dari surat itu. Aa dan dede kemungkinan merujuk panggilan EN untuk kedua anaknya.
Dalam surat itu, dituliskan juga kondisi keluarga yang terlilit utang. Tagihan terus membengkak. Saat bersamaan, EN menilai suaminya tidak punya solusi untuk menyelesaikan utang.
Warga lantas melaporkan kasus ini pada polisi. Jenazah EN dan kedua anaknya lantas diperiksa polisi. Sedangkan Yadi masih sulit diajak berkomunikasi karena terpukul akibat kejadian ini.
Sejauh ini, polisi menyebut ada dua kesimpulan awal. Kepala Bidang Humas Polda Jabar Komisaris Besar Hendra Rochmawan, Sabtu (6/9/2025), mengatakan, EN dipastikan bunuh diri. Sebelum bunuh diri, EN menjerat leher kedua anaknya dengan tali.
”Kedua kesimpulan itu kami dapatkan karena ditemukan seluruh pintu dan jendela rumah terkunci dari dalam. Selain itu, tidak ditemukan luka terbuka di tubuh para korban,” kata Hendra.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kota Bandung Komisaris Luthfi Olot Gigantara mengungkapkan, dari keterangan saksi, keluarga EN memang terlilit utang. Jumlahnya, kata dia, masih ditelusuri dan dipastikan.
”Kami masih mendalami isi surat tersebut dan kaitannya dengan rangkaian kejadian pembunuhan dan bunuh diri ini,” tutur Luthfi.
Ketua RW 007, Kampung Cae Enok Subariah tak menyangka EN yang begitu ramah dengan tetangga telah berpulang dengan cara tragis.
Ia mengungkapkan, EN masih beraktivitas seperti biasa menjelang seminggu peristiwa itu. Enok mengaku, tak pernah melihat dan mendengar ada pertengkaran antara EN dan suaminya.
”Selama ini bu EN dan suaminya aktif dalam kegiatan di Kampung Cae. Kami tak pernah tahu ada masalah hutang yang dialami keduanya,” ungkapnya.
Setelah belum lama dihebohkan kasus Raya yang meninggal akibat cacingan dan TBC di Kabupaten Sukabumi, kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak.
Dipicu berbagai hal, kemiskinan diduga kuat jadi penyebab utamanya. Bila nyawa Raya direnggut penyakit. Nyawa EN dan dua anaknya melayang gara-gara utang yang tak terbayar.
Dosen Hukum Pidana Universitas Islam Nusantara Leni Anggraeni mengatakan, motif filisida atau pembunuhan terhadap anak sendiri sangat kompleks.
Dalam beberapa kasus, ibu yang membunuh merasa tidak sanggup membiarkan anaknya hidup di dunia yang keras, terutama jika pelaku berniat bunuh diri, mengalami psikotik akut atau hendak balas dendam pada pasangan.
”Motifnya semakin diperkuat saat pelaku terjerat persoalan ekonomi,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/22/a396df94d0cc0a60b2add7d3c0498e96-IMG_20250820_WA0039.jpg)
Alasan ekonomi, psikologi, dan sosial juga ditemukan tim Jurnalisme Data Kompas saat menelisik tentang anak-anak korban pembunuhan. Semuanya dalam tahapan tertentu bisa memicu tindakan filisida atau membunuh anaknya sendiri.
Berdasarkan penelitian tim, 30,3 persen anak-anak korban pembunuhan meninggal di tangan orangtua. Kenyataan ini merujuk pada hasil analisis 1.113 putusan pengadilan tingkat pertama kasus-kasus pembunuhan periode 2022-2024.
Sebanyak 54,5 persen korban pembunuhan adalah anak laki-laki. Pelakunya, sebanyak 84,85 persen, juga laki-laki. Batasan usia anak di sini 0-18 tahun.
Guru besar dan kriminolog Universitas Islam Bandung Nandang Sambas, menilai bahwa tindakan ini kemungkinan besar dilatarbelakangi oleh gangguan psikologis serius, yang mengganggu nalar sehat pelaku.
”Seorang ibu secara naluriah mestinya memberikan perlindungan. Tapi karena adanya gangguan kejiwaan, perlindungan itu berubah menjadi ancaman,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/06/58526287819817ceecc5d1b177828506-IMG_20250906_WA0068.jpg)
Akan tetapi, Nandang Suherman, peneliti masalah sosial dan kebijakan publik dari Perkumpulan Inisiatif mengajak semua orang melihat masalah lebih besar dari kasus ini. Tewasnya EN dan dua anaknya lebih dari sekadar masalah seorang ibu yang frustrasi dengan kondisi ekonomi keluarganya.
Menurut Nandang, peristiwa ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi pejabat negara yang dengan gaya hidup yang hedonis. Saat mereka masih mendapat penghasilan fantastis, ada banyak orang Indonesia yang terjerat kemiskinan akut.
Kasus teranyar adalah tunjangan rumah bagi anggota DPRD Jabar antara Rp 62 juta dan Rp 71 juta per bulan. Hal itu kontras dengan keluarga Yadi dan EN yang tinggal di rumah kontrakan sederhana.
Rumah itu hanya memiliki satu pintu dan dua jendela kecil menempel di dinding. Lokasinya di perkampungan padat. Akses ke daerah itu kerap terendam banjir saat musim hujan. Dari jalan besar, gang menuju rumah hanya bisa dilewati satu orang saja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar, jumlah penduduk miskin di Jabar pada Maret 2025 sebanyak 3,65 juta orang. Angka ini menyumbang 15,3 persen dari total jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2025 yang mencapai 23,85 juta orang.
”Peristiwa ini sangat ironis. Seorang ibu hingga membunuh anaknya karena sulitnya kondisi ekonomi. Sementara banyak pejabat kita hidup mewah di atas penderitaan rakyat,” kata Nandang.
Pada Sabtu (6/9/2025) siang, rumah kontrakan itu kembali sepi. Namun kisah pilu keluarga Yadi seolah menabuhkan genderang, bahwa rakyat kini dalam kondisi tidak baik-baik saja !.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Cornelius Helmy Herlambang, Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase